Traktor

01/4/2015 00:00
Traktor
(MI/SENO)

PARA petani di Lamongan, Jawa Timur, bertepuk tangan ketika Presiden Joko Widodo mencopot sepatunya dan menggulung celana panjangnya.

Presiden mendorong traktor tangan untuk mengolah tanah agar bisa ditanami.

Pemerintah berharap langkah mekanisasi bisa meningkatkan produksi beras nasional dan swasembada pangan bisa dicapai.

Program pentraktoran sempat memicu kritik.

Pasalnya 1.300 traktor yang dipajang saat acara dikira petani akan dibagikan untuk mereka.

Ternyata setiap desa hanya akan mendapatkan lima traktor dan traktor lainnya dibagikan ke seluruh Indonesia.

Di saat petani di Lamongan kecewa, petani di Bojonegoro justru berharap tidak mendapatkan traktor tangan.

"Memang kelihatan hebat dengan traktor tangan, tetapi Bojonegoro tidak perlu ikut-ikutan. Saya tak punya pekerjaan lagi kalau semua pakai traktor tangan," ujar seorang buruh tani kepada Bupati Suyoto.

Pertanian masih merupakan pekerjaan utama sebagian masyarakat Indonesia.

Namun, di Jawa, kebanyakan petani tidak memiliki lahan.

Mereka bekerja sebagai buruh tani. Sebagai orang yang memahami kehidupan petani, Bupati Suyoto mengerti maksud yang disampaikan warganya.

Pemerintah tidak bisa menyederhanakan persoalan.

Keinginan meningkatkan produksi harus disertai pemahaman kehidupan rakyat.

Tanpa itu, kehidupan sosial terkorbankan.

Pembangunan kerap hanya dilihat dari aspek operasional.

Padahal, itu seharusnya berlandaskan visi yang diterjemahkan dalam strategi dan ditunjang peraturan agar operasionalnya tidak berbenturan.

Untuk meningkatkan produksi beras nasional, yang harus diperhatikan ialah luas sawah yang tersedia.

Peningkatan produksi, selain bisa dilakukan dengan peningkatan produktivitas tanaman, bisa juga dengan meningkatkan frekuensi tanam.

Misalnya, dari dua kali tanam setahun menjadi tiga kali tanam.

Peningkatan produktivitas tanaman butuh ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tugas para penelitilah menemukan varietas padi dengan produktivitas lebih tinggi.

Peningkatan frekuensi penanaman hanya bisa dilakukan jika tersedia air yang cukup.

Kesiapan Badan Urusan Logistik menyerap hasil produksi petani tak kalah penting.

Selama Bulog mau membeli berdasarkan harga pokok yang ditetapkan pemerintah, petani akan terpacu meningkatkan produksi.

Namun, kalau seperti sekarang, Bulog belum juga membeli produk petani di saat musim panen, petani enggan meningkatkan frekuensi penanaman.

Persoalan muncul akibat visi hanya diterjemahkan dalam aspek operasional.

Terjadilah simplikasi, produksi akan meningkat dengan pentraktoran.

Padahal, Nawa Cita menjanjikan penambahan 1 juta hektare sawah, pembangunan waduk, dan perbaikan irigasi yang jadi prasyarat tercapainya swasembada beras.

Dengan langkah strategis dan ditopang kebijakan yang jelas, kita mampu berswasembada beras.

Kunci utamanya hadirnya kepemimpinan tegas dan tak terjebak seremonial.

Kita bisa berkaca dari mendiang Lee Kuan Yew yang mampu menyediakan air bersih bagi warganya.

Lee sadar, Singapura tak bisa terus mengandalkan pasokan air dari Johor meski perjanjiannya sampai 2061.

Ia kerahkan semua ahli.

Kini Singapura menjadi satu-satunya negara ASEAN yang air kerannya bisa langsung diminum.

Di sinilah, pemimpin harus punya visi dan mampu menggerakkan warga bangsanya untuk menggapai visi itu.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima