SEORANG musikus, juga biduan yang berpuluh tahun berkarya dan menghibur jutaan orang, tutup usia. Rinto Harahap berpulang Senin (9/2) di sebuah rumah sakit Singapura. Stroke dan kanker tulang belakang telah lama melemahkan tubuhnya yang semula prima. Pria kelahiran Sibolga, Sumatra Utara, 10 Maret 1949, itu meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Di tengah banjir yang mengharu biru dan ketegangan politik dan hukum, kepergian sang legenda lagu-lagu pop itu seperti terlupakan.
Padahal, selama kariernya sejak penghujung 1960-an mengawali bermusik bersama The Mercy's, ia mencipta 518 lagu. Lewat perusahaan rekaman yang ia dirikan, Lolypop, Rinto mengorbitkan banyak penyanyi, membuka lapangan kerja, meneguhkan industri musik pop Indonesia, dan pasti menginspirasi sekian banyak musikus. Karya-karyanya yang ada di hati banyak penikmatnya akan terus hidup diwariskan dari generasi ke generasi.
Kita tahu Rinto musikus yang amat konsisten di jalur musik populer dengan spesial cinta. Lagu-lagu ciptaannya tidak hanya menjadi hit, tetapi juga melambungkan banyak penyanyi baru ketika itu, antara lain Eddy Silitonga, Hetty Koes Endang, Iis Sugianto, Nur Afni Octavia, Christine Panjaitan, Betharia Sonata, Diana Nasution, dan Nia Daniati. Di luar itu masih ada begitu banyak penyanyi baru atau mereka yang sudah mapan menyanyikan lagu-lagu Rinto. Ia bertangan dingin.
Di jalur pop pada 1980-an lagu-lagu ciptaan Rinto tak tertandingi. Lagu-lagu yang mudah dicerna tak hanya digemari di dalam negeri, tetapi juga di beberapa negara ASEAN. Bahkan, mantan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Vladimir Plotnikov yang fasih berbahasa Indonesia sangat menyukai karya-karya Rinto. Rinto menerima Anugerah Seni dari Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada 1982.
"Generasi saya dan bahkan yang lebih tua dibesarkan oleh lagu-lagu Bang Rinto. Kami mengingat lagu-lagu itu karena ada kaitannya dengan kenangan, masa remaja," kata mantan wartawan dan mantan Dubes Indonesia untuk Polandia, Hazairin Pohan, ketika peluncuran memoar Gelas-Gelas Kaca: Tribute to Rinto Harahap yang ditulis Izharry Agusjaya Moenzir di Jakarta pada 2011.
Ia pernah marah ketika Menteri Penerangan Harmoko ketika itu menuduh lagu-lagunya cengeng. "Jangan menuduh. Nanti musim kampanye Bapak juga akan cari-cari saya," kata Rinto seperti ditirukan Izharry.
Saya memang bukan pengagum Rinto. Di musik Indonesia saya lebih menyukai Leo Kristi, Ebiet G Ade, Franky & Jane, Iwan Fals, yang lebih bercerita tentang alam dan masyarakat yang 'hidup'. Tetapi hampir sulit untuk tidak ikut menikmati lagu-lagu Rinto yang mengalun di seantero negeri setiap hari. Siapa yang bisa menghindar?
Lagu Rinto memang semacam penanda dan pengingat sebuah momen. Lagu Benci tapi Rindu, yang dinyanyikan Diana Nasution, menjadi frasa yang amat populer hingga kini. Begitu juga lagu Ayah, seperti mewakili siapa pun yang rindu kepada ayahnya. Kini pemerintah giat mengembangkan ekonomi kreatif. Sudah dibentuk pula Badan Ekonomi Kreatif yang diketuai Triawan Munaf dengan target penerimaan mencapai 7% dari produk domestik bruto. Rinto telah menjadi bagian penting industri kreatif ini. Sayang, sepi apresiasi ketika ia pergi.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima