Gaya Komunikasi

30/3/2015 00:00
Gaya Komunikasi
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

ADA bermacam-macam gaya pemimpin berkomunikasi. Ada yang tenang (Bung Hatta). Ada yang bergelora (Bung Karno). Ada yang nyeleneh (Gus Dur). Ada yang santun (SBY).

Apakah gaya berkomunikasi penting?

Yang jelas pemimpin publik di negeri ini diharapkan manusia bertata krama. Setidaknya tampak luar. Karena itu, ia harus pandai membungkus keaslian diri sehingga publik tak tahu gaya yang orisinal. Keaslian hanya diketahui di kalangan domestik. Tak soal lain di luar, lain di dalam. Bertopeng perkara jamak.

Perihal domestik itu penting disebut meski satu paragraf saja karena selalu ada pemimpin publik yang dalam hal kepublikan lebih takut istri.

Bisa terjadi sang pemimpin publik gayanya tampak tegas di ruang publik, tapi takluk di ruang privat. Atau sebaliknya, ramah di hadapan publik, garang di rumah, bahkan mungkin melakukan kekerasan domestik.

Di era reformasi, di zaman parlemen begitu berkuasa, yang berkembang lobi politik. Berkomunikasi tertutup, mengandalkan gaya sang lobbyist.

Pelobi setengah ulung, apalagi ulung banget, bisa bikin barang lonjong menjadi sedikit bundar dan diterima sebagai bulat.

Dalam sidang terbuka DPR, bila terjadi hal-hal krusial dan sepertinya macet, pimpinan sidang akan mengetuk palu, sidang diskors. Fungsi lobi pun bekerja di bawah atap besar musyawarah untuk mufakat.

Tak usah heran kalau undang-undang yang disahkan DPR kemudian dibawa ke Mahkamah Konstitusi untuk ditinjau ulang. Hasilnya yang disahkan secara bulat di DPR itu tetaplah lonjong di hadapan konstitusi.

Contoh lain, dalam hal pembahasan anggaran, eksekutif enggan repot-repot, ogah bersitegang urat leher, terlebih konflik berkepanjangan melawan legislatif.

Yang biasanya terjadi ialah politik kompromi, politik transaksional, buah lobi tertutup, mulus, dan manis.

Karena itu, pada dasarnya tak ada pencarian dan penegakan kebenaran sekalipun yang terjadi hitam melawan putih, kebajikan versus kebatilan. Yang terjadi ialah kompromi. Dalam hal itu gaya komunikasi menentukan.

Tengil, sinis, konfrontatif, sulit diajak berunding. Demikianlah gaya mengalahkan substansi.

Bagaimana kalau muncul pemimpin publik tanpa masker, tanpa topeng? Keluar dari mainstream?

Pemimpin tanpa tedeng aling-aling. Apa yang bersemayam di hati dan pikiran diceploskan apa adanya, seasli-aslinya, di hadapan publik.

Pemimpin yang berani melakukan perang terbuka. Singkatnya pemimpin anomali dalam segi paling langka dewasa ini, yaitu berani karena jujur.

Pemimpin model itu mengganggu. Sekalipun jujur, ceplas-ceplos dengan nada keras di ruang publik dinilai tak etis, tak elok, tak sopan, tak santun.

Itulah yang dialami Gubernur Jakarta Ahok, sampai ada yang mengatakan agar ia mengubah gayanya berkomunikasi politik. Honesty is the best policy. Untuk apa manis berkomunikasi, tapi tak jujur, ganas beranggaran?

Jadi, biarlah Ahok dengan gayanya berkomunikasi, sepanjang jujur dan substansinya benar.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima