Jepang

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
28/3/2015 00:00
Jepang
(Grafis/SENO)
PRESIDEN Joko Widodo berjanji untuk membawa oleh-oleh dari kunjungannya ke Jepang dan Tiongkok. Oleholeh yang dimaksud ialah investasi. Jokowi berharap kedua negara itu meningkatkan investasi di Indonesia. Jokowi sangat bersemangat untuk mengajak para pengusaha Jepang dan Tiongkok datang ke Indonesia. Presiden rela pergi dengan menggunakan shinkansen ke pabrik Toyota di Nagoya agar Akio Toyoda mau menambah lagi investasinya. Sebagai pasar yang berkembang, Indonesia merupakan daerah tujuan investasi menarik. Jumlah kelas menengah yang 45 juta orang pasti dilihat pengusaha sebagai pasar potensial. Apalagi jumlah  itu diyakini akan meningkat menjadi 100 juta dalam beberapa tahun ke depan.

Namun, faktor dalam membuat putusan untuk melakukan investasi atau tidak, tidak tunggal. Persoalan kenyamanan berusaha, kemudahan perizinan, sampai keamanan merupakan faktor yang tidak kalah penting. Investasi berbeda dengan berdagang, orientasinya bersifat jangka panjang. Di kolom ini saya pernah menyampaikan, ibarat restoran, Indonesia merupakan restoran yang menyajikan makanan lezat. Hanya orang enggan makan karena pemilik, pelayan, dan petugas keamanannya sering bertengkar sendiri sangat gaduh sehingga membuat pengunjung restoran tak nyaman. Kita lihat saja para elite politik yang tidak pernah berhenti cakar-cakaran. Kalau yang di atas seperti itu, tidak mengherankan apabila masyarakat di bawah ikut gaduh.

Belum lagi buruh yang selalu heboh ketika mengajukan tuntutan. Kalau Jokowi ingin mengundang investasi masuk lebih besar, tugas itulah yang harus diselesaikan. Konsentrasi kita benar-benar untuk melayani dan bekerja, bukan terus bertengkar. Kita juga harus mau memahami kultur bangsa yang kita ingin undang untuk berinvestasi. Jepang, misalnya, ialah bangsa yang sangat detail. Kecintaan kepada negaranya juga begitu kuat. Saya pernah punya pengalaman ketika menjadi anggota advisory board pembangunan moda raya terpadu (MRT) pada 2006. Kita cenderung ingin cepat, proyek bisa segera dikerjakan. Namun, Jepang begitu detail membahas naskah kerja sama. Mulai persoalan teknis pelaksanaan, pendanaan dalam negeri, dan peraturan penunjangnya mereka tanyakan secara terinci.

Kita tahu pengeboran pertama proyek pembangunan MRT akhirnya baru dimulai pada 2012. Penghambatnya justru lebih banyak pada kita. Mulai ketidaksepakatan Kementerian Keuangan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tentang beban pembiayaaan hingga soal pembebasan lahan untuk infrastuktur. Ketika kini kita meminta Jepang ikut membangun infrastruktur kita, yang harus diperhatikan ialah pelaksana proyek dan pengadaan barang modalnya. Sama seperti China, ketika pemerintah Jepang hendak membangun infrastruktur di Indonesia, kontraktornya pasti akan ditunjuk perusahaan Jepang.

Kebutuhan barang modal pasti juga menggunakan produk Jepang. Siapkah kita menerima kerja sama seperti itu? Sejauh mana 'nasionalisme' bisa menghambat pelaksanaan nota kerja sama? Kita harus memikirkannya sejak awal. Ja ngan sampai kita sepakat menandatangani kerja sama, tetapi kita kemudian menghambat karena merasa dirugikan. Lebih baik kita bicara pahit di depan. Segala macam unintended consequences diidentifi kasi dan disampaikan kepada partner kita. Setelah  disepakati, kita harus komit dan menjalankan sepenuhnya semua perjanjian. Itulah sikap yang harus kita jalankan kalau kita mau mengundang investasi


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima