Stimulus

25/3/2015 00:00
Stimulus
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

TIGA bulan pertama 2015, di luar dugaan, kita dihadapkan pada kelesuan ekonomi luar biasa. Padahal, Oktober tahun lalu ekspektasinya begitu tinggi.

Keberanian Presiden Jokowi menaikkan harga BBM bersubsidi diacungi jempol karena mengurangi beban anggaran dan membuka peluang dibangunnya infrastruktur.

Kalangan pengusaha bingung melihat daya beli masyarakat yang tiba-tiba menurun. Bukan hanya penjualan mobil, motor, dan properti yang terpukul. Penjualan digital video disc bajakan pun tidak seperti biasanya.

Ketika nilai tukar rupiah melemah sampai 12.500 per dolar AS, orang berpikir melepas dolar yang dimiliki karena menguntungkan. Namun, ketika pelemahan berlanjut, orang membeli kembali dolar AS untuk disimpan.

Sekarang ini muncul anggapan cash is the king. Untuk itu, semua orang berpikir menyimpan uang dan menahan pembelian. Itulah yang menyebabkan omzet penjualan semua jenis perdagangan menurun tajam. Kelesuan itu tidak boleh dibiarkan, apalagi pasar luar negeri pun melesu.

Ekspor kita dalam dua bulan pertama 2015 menurun cukup tajam. Beruntung angka impor jauh lebih cepat menurun sehingga Januari dan Februari ada surplus. Namun, surplus itu tidak menguntungkan karena akan memukul ekspor sebab yang ikut menurun ialah impor bahan baku.

Untuk menormalisasi, pemerintah harus memberikan stimulus. Berbagai langkah kebijakan memang sudah diambil seperti insentif pajak bagi pengusaha yang tidak merepatriasi dividen yang diperoleh. Memberikan bebas visa kepada 30 negara untuk mendorong pariwisata.

Di bidang energi, pemerintah juga menetapkan peningkatan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) untuk campuran solar dari 10% menjadi 15%. Kita hargai respons cepat pemerintah. Namun, itu belum cukup.

Pemerintah harus menguantifikasi stimulus itu agar bisa diketahui berapa stimulus fiskal yang akan disuntikkan.

Semua negara memberikan stimulus ekonomi ketika dihadapkan kepada kelesuan. Kita lihat misalnya langkah yang ditempuh Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada akhir tahun lalu untuk menggerakkan perekonomian 'Negeri Sakura'.

Suntikan fiskal yang diberikan mencapai US$29,17 miliar, atau lebih dari Rp300 triliun.

Besaran stimulus perlu ditetapkan agar pasar bisa menilai kesungguhan pemerintah menggerakkan perekonomian. Itu juga penting agar jelas siapa yang bertanggung jawab menjalankan kebijakan yang sudah ditetapkan.

Kita lihat misalnya di kebijakan meningkatkan penggunaan BBN dari 10% menjadi 15% ada saling melempar tanggung jawab.

Pertamina ragu-ragu melaksanakannya karena akan menambah biaya produksi sekitar Rp675 per liter. Sebagai korporasi Pertamina wajar memperhatikan profit karena akhirnya mereka akan diperiksa Badan Pemeriksa Keuangan.

Pemerintah harus mengambil alih beban itu karena tugas pemerintah lebih berorientasi pada benefit. Stimulus bukan hanya akan membuat kelebihan produksi minyak kelapa sawit terserap.

Dana yang masuk akan memperbesar kue ekonomi dalam negeri, bahkan dalam jangka panjang bermanfaat mendorong tumbuhnya energi baru dan terbarukan.

Kita menunggu langkah lanjutan pemerintah untuk menggairahkan kembali kegiatan ekonomi.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima