Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INI sungguh pemandangan tak lazim. Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew melakukan tabur bunga di pusara Usman dan Harun di Kalibata, Jakarta.
Dua nama itu musuh Singapura. Mereka pengebom MacDonald House di Orchad Road pada 10 Maret 1965. Singapura menghukum mati keduanya pada 1968.
Hari itu, awal 1970-an, Lee harus menabur bunga di pusara dua nama yang dianggap teroris itu. Dalam tayangan itu, saya melihat ada rasa marah yang ditahan Lee.
Ada rasa terhina yang disembunyikan. Taburan bunganya agak sembarang. Raut mukanya seperti menahan geram.
Namun, Presiden Soeharto waktu itu memang mensyaratkan jika mau berkunjung ke Jakarta, Lee harus tabur bunga di dua makam pahlawan Dwikora itu.
Lee hampir tak melakukannya. Akan tetapi, salah seorang diplomatnya memberi masukan, mustahil bisa menjalin hubungan baik dengan Indonesia tanpa melakukan permintaan Soeharto.
Indonesia teramat penting bagi Singapura. Terlebih sesuai dengan nasihat Dr Albert Winsemius, ekonom Belanda yang pernah memimpin United Nations Development Programme, Lee harus membuat kesepakatan pasar dengan Malaysia juga menawarkan kerja sama perdagangan dengan Indonesia.
Terbukti hubungan Lee-Soeharto cukup dekat. Singapura bisa mengambil banyak manfaat. Lee mengalah untuk menang. Ia mengubah Singapura yang kecil dan miskin menjadi negara kaya dan makmur.
Wajar wafatnya Lee, kemarin dini hari, membuat rakyat Singapura berduka, tetapi juga pastilah bangga. Bangga karena Lee bertransformasi menjadi pemimpin kelas dunia. Singapura tanpa Lee bisa menjadi cerita yang berbeda.
Presiden Singapura Tony Tan Keng Yam memuji Lee sebagai arsitek republik modern Singapura.
"Singapura ialah gairah hidupnya dan dia terus berbakti kepada Singapura sampai hari-hari terakhir dalam hidupnya. Warga Singapura berutang terima kasih kepada Lee," katanya seperti dikutip Straitstimes.com.
PM Lee Hsien Loong, putra sulung mendiang, berpidato, "Kepintarannya mencari jalan keluar dan keberaniannya menjadi tonggak. Kita kehilangan tokoh sumber inspirasi," katanya yang disiarkan televisi pemerintah Channel News Asia.
Seharian televisi itu menyiarkan In Memoriam Lee. Lee Hsien Loong berpidato dalam tiga bahasa, Melayu, Tiongkok, dan Inggris. Suaranya terbata-bata dan matanya berkaca-kaca.
Hampir semua pemimpin dunia memuji Lee yang berkuasa 31 tahun lewat tujuh pemilu itu.
Ilmuwan Samuel P Huntington dalam buku Culture Matters: How Values Shape Human Progress (2000) menyebut Lee sebagai pemimpin yang mampu mengubah Singapura, yang berkultur Konghucu, bisa sejajar Denmark, Swedia, Finlandia, dan Selandia Baru dalam mengelola negara yang bersih dari korupsi.
Lee mengatur hampir seluruh aspek kehidupan, dari menyiram WC, larangan makan permen karet, budaya antre, berlaku sopan, tidak membuat bising, KB, politik, dan hingga pers.
Apa pun ceritanya Lee salah satu contoh pemimpin yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk bangsa dan negerinya.
Ia salah satu contoh pemimpin yang tanpa demokrasi mampu memakmurkan rakyatnya, membuat Singapura bersih dalam arti sesungguhnya.
Indonesia akan mengambil pelajaran apa dari Lee? Dari Singapura?
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved