Ia memang belum terbuang, tetapi jika ia sebuah buku, pastilah berada di halaman belakang. Akan tetapi, seperti kata sebuah ungkap-an, "Ada banyak buku dibeli, sebagian untuk dipajang, sebagian dibuka, sebagian dibaca, tapi sedikit saja yang dibaca dan dipahami."
Itu sebabnya, berpuluh-puluh tahun kita membiarkan dunia riset kita hanya menjadi keluhan, tidak menjadi solusi kemajuan.
Yang ada justru cerita bersambung tentang nestapa para peneliti.
Mereka tak dihargai.
Akibatnya dunia ilmiah berjalan tanpa gairah, brain drain orang-orang terbaik tak bisa dihindari.
Para ilmuwan terbaik Indonesia yang tersebar di berbagai negara yang ingin kembali pun harus tetap menahan rindu karena tak ada infrastruktur yang mendukung di Tanah Air.
Kini ada sekitar 480 lembaga penelitian berjalan tanpa koordinasi.
Riset-riset sifatnya internal dan parsial.
Ini dibiarkan berpuluh puluh tahun.
Riset seperti 'menunggu godot'.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kabinet Jokowi, Mohamad Nasir, ketika baru dilantik bertekad menggerakkan riset kelas dunia.
Caranya seperti apa, ia tak bicara. Ia hanya bilang pihaknya sudah punya cetak biru.
Namun, lengkapnya seperti apa harus ada arahan dari Presiden. Agaknya hingga kini belum ada arahan 'Bapak Presiden'.
Dana cekak, koordinasi buruk, parsial, tak ada cetak biru, akibatnya publikasi ilmiah pun minim.
Selama 2001-2010 hanya bisa menerbitkan 20% dari apa yang dilakukan Malaysia yang mampu memublikasikan sekitar 30.000 karya ilmiah.
Dari riset kita yang sedikit itu, minus penerapan pula.
Ketika membuka Rapat Kerja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 11 Maret silam, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani berjanji pemerintah akan menaikkan anggaran penelitian dan pengembangan inovasi.
Kini anggaran riset berkisar 0,08% dari produk domestik bruto (PDB).
Bahkan, ada yang mengatakan angka sesungguhnya jauh lebih kecil.
Padahal, idealnya menurut UNESCO minimal 2% dari PDB.
Akan tetapi, dana yang bertambah tanpa cetak biru riset tak akan banyak artinya.
Seperti dunia pendidikan, setelah anggaran menjadi 20%, mutu pendidikan kita tak jauh beranjak juga.
Fakta bicara, selama ini berbagai kebijakan pendidikan tidak berdasarkan riset yang mendalam.
Malangnya, Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud juga belum menjadikan hasil riset sebagai dasar kebijakan.
Cetak biru riset bisa mengatasi aneka problem itu.
Ini juga akan menggerakkan para ilmuwan/peneliti dalam dan luar negeri menjadi bergairah untuk kembali.
Kita kerap mendengar keluhan dari pemerintah, betapa Republik ini kekurangan manusia berkelas.
Sementara kita punya orang-orang terbaik, di dalam maupun di luar negeri, yang belum digerakkan secara maksimal.
Bahkan, menurut mantan Presiden BJ Habibie, ada sekitar 48.000 insinyur penerbangan, perkapalan, mesin, yang di masa Orde Baru dipersiapkan, kini 'dipanen' negara-negara lain.
Sungguh saya menunggu Menteri Nasir bicara cetak biru kementeriannya itu.
Juga bagaimana pandangannya tentang para ilmuwan terbaik Indonesia yang tersebar di berbagai negara.
Saya khawatir Menteri Nasir menyikapi amanah yang amat penting dan strategis untuk memajukan bangsa ini dengan tanggung jawab biasa-biasa saja.
Padahal, tantangannya sudah amat nyata di depan mata.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima