Jalan Tol

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
19/3/2015 00:00
Jalan Tol
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(dok.MI)
MEMBAYAR dan tersiksa kemacetan. Itulah ketidakadilan di tol dalam Kota Jakarta. Bertambah celaka tarif tol naik terus, begitu pula kemacetannya.

Tak hanya itu. Direktorat Jenderal Pajak hendak membebankan pemakai tol dengan pajak pertambahan nilai.

Untunglah Presiden Jokowi punya hati. Ia menunda pelaksanaannya. Semoga dibatalkan sama sekali.

Bahkan, sebaiknya Jokowi bertindak lebih jauh meninjau PP No 15 Tahun 2005. Cukuplah 10 tahun tarif tol naik otomatis setiap dua tahun, tanpa peduli daya beli dan hati pengguna tol. Usul, tarik kembali otoritas penyesuaian tarif tol ke tangan presiden agar tak gampang dinaikkan.

Di zaman Orde Baru, kewenangan menentukan tarif tol berada di puncak kekuasaan negara. Menurut PP No 8 Tahun 1990 yang ditandatangani Presiden Soeharto pada 24 Maret 1990, besaran tarif tol ditetapkan oleh presiden atas usul menteri (Pasal 40).

Peraturan itu bertahan 11 tahun sampai keluar PP No 40 Tahun 2001 yang ditandatangani Presiden Abdurrahman Wahid pada 21 Mei 2001. Kewenangan penyesuaian tarif tol masih di tangan presiden berdasarkan usul menteri, tetapi ada pasal baru, Pasal 40A. Isinya: penyesuaian tarif tol dilakukan setiap tiga tahun berdasarkan pengaruh inflasi terhadap komponen beban usaha penyelenggara jalan tol, dengan penaikan maksimum 25%.

Dicantumkan pula rumus matematikanya. Tarif tol baru = tarif tol lama 1 + a(inflasi). Adapun 'a' ialah proporsi komponen beban usaha yang terpengaruh inflasi.

Empat tahun kemudian, terjadi perubahan besar-besaran dengan terbitnya PP No 15 Tahun 2005 yang diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Maret 2005. Penyesuaian tarif tol dilakukan setiap dua tahun oleh BPJT berdasarkan tarif lama yang disesuaikan dengan pengaruh inflasi (Pasal 68). Rumus matematikanya, Tarif baru = tarif lama (1 + inflasi). Variabel 'a' hilang.

Bahkan, pengambil keputusan juga berubah. Bukan lagi presiden berdasarkan masukan menteri, melainkan menteri menetapkan penyesuaian tarif tol berdasarkan rekomendasi BPJT. Siapakah BPJT? Itu singkatan Badan Pengatur Jalan Tol, yang dibentuk oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang jalan dan bertanggung jawab kepada menteri itu.

Begitulah, terjadi empat pelecehan hak konsumen. Pertama, semula penyesuaian tarif tol ditetapkan oleh presiden atas usul menteri (di zaman Pak Harto dan Gus Dur), turun pangkat cukup ditetapkan menteri atas usul BPJT (di zaman SBY). Kedua, semula penyesuaian tarif tol dilakukan tiap tiga tahun (Gus Dur), dipercepat menjadi setiap dua tahun (SBY).

Ketiga, penyesuaian tarif di era SBY lebih besar daripada zaman Gus Dur. Itu terlihat dari hilangnya variabel 'a' dalam rumus matematika era SBY. Itu berarti, tarif tol naik sama besar dengan inflasi. Keempat, batas penaikan maksimum 25% lenyap. Maka, tak usah heran tarif tol naik suka-suka setiap dua tahun, tak peduli tol macet berat sekalipun.

Konsumen ialah raja. Cash is king. Berdasarkan dua hal itu, fungsi kepublikan tol gagal. Patut diingat bahwa daya beli rakyat tak otomatis naik sesuai inflasi. Yang terjadi justru daya beli umumnya merosot. Padahal, di lain pihak, pengelola mendapat benefit dari pembayaran tunai.

Karena itu, minimal Presiden Jokowi merevisi Pasal 68 PP No 15 Tahun 2005 agar tidak berat sebelah probisnis.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.