Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA dua perasaan yang datang sekaligus saat saya membaca pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) ihwal pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2024 sebesar 5,11%. Pertama, rasa gembira. Kedua, rasa waswas.
Saya ingin memulainya dari rasa gembira terlebih dahulu. Rasa senang itu muncul karena capaian pertumbuhan 5,11% tersebut merupakan pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak 2015. Capaian itu lumayan tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara berkapasitas ekonomi besar seperti Amerika Serikat dan Malaysia.
Kegembiraan berikutnya, sektor konsumsi pemerintah tumbuh eksponensial, yakni 19,9%. Itu merupakan pertumbuhan konsumsi pemerintah tertinggi sejak 2006 atau 18 tahun lalu. Maklum, karena di tiga bulan pertama tahun ini pemerintah menggenjot bantuan sosial kepada masyarakat.
Namun demikian, kegembiraan itu sekaligus diliputi rasa waswas. Kekhawatiran layak diapungkan karena pengelola negeri ini tidak kunjung menemukan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru. Sumbu pertumbuhan selalu disulut sektor konsumsi, baik konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah.
Hal itu berpotensi capaian pertumbuhan seperti kuartal I ini tidak kembali terulang pada kuartal II tahun ini. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% pada periode tiga bulan pertama tahun ini utamanya didorong momen pemilihan umum (pemilu) dan Ramadan. Kedua sentimen itu mendongkrak sumber pertumbuhan ekonomi yang berasal dari konsumsi rumah tangga serta konsumsi pemerintah.
Dengan terdapatnya momen Ramadan pada Maret, konsumsi rumah tangga yang merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi meningkat 4,91% secara tahunan. Angka pertumbuhan itu lebih tinggi daripada pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal pertama tahun lalu sebesar 4,53%.
Sementara itu, gelaran Pemilu 2024, percepatan penyaluran bansos, dan pembayaran tunjangan hari raya (THR) aparatur sipil negara (ASN) mendongkrak belanja barang pemerintah sehingga konsumsi pemerintah melesat 19,90% secara tahunan. Angka itu merupakan angka pertumbuhan konsumsi pemerintah tertinggi sejak 2006.
Dengan tidak adanya lagi sentimen-sentimen tersebut pada periode mendatang, kecuali pilkada serentak dan libur akhir tahun, laju pertumbuhan ekonomi diproyeksikan melambat. Apalagi, perekonomian nasional masih dihadapi fenomena suku bunga tinggi, yang bakal berimplikasi terhadap pelemahan permintaan domestik dan global.
Pelemahan permintaan global sebenarnya sudah terlihat dari sumber pertumbuhan ekonomi yang berasal dari kinerja dagang internasional atau net export. Keuntungan bersih ekspor kita, sebagaimana disampaikan BPS, terkontraksi sekitar 0,2%.
Jadi, selama sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru tidak ditemukan atau dikreasi, perekonomian Indonesia pada sisa paruh pertama tahun ini masih akan menghadapi sejumlah tantangan, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Dari dalam negeri, inflasi pangan yang tinggi imbas dari fenomena El Nino berpotensi menekan konsumsi rumah tangga.
Dari eksternal, faktor geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina, Israel-Palestina, juga Iran-Israel membuat rantai pasok menjadi kacau. Selain itu, kebijakan The Fed akhir-akhir ini kian 'tidak ramah' terhadap masuknya arus modal ke portofolio kita. Keluarnya aliran modal besar-besaran akhir-akhir ini ialah akibat imbal hasil di Amerika Serikat yang menggiurkan, buah kebijakan suku bunga The Fed.
Dengan semua tantangan dan kondisi seperti itu, tidak mengherankan laju pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun ini tidak jauh-jauh dari angka 5%-5,1%. Padahal, dalam berbagai kesempatan pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi kita pada 2024 mampu mencapai 5,2%.
Sebetulnya, sejumlah potensi sumber pertumbuhan ekonomi yang baru cukup tersedia. Kita punya produk usaha mikro, kecil, dan menengah yang variatif. Hilirisasi, asal dilakukan secara adil, transparan, dan merata, juga bisa jadi peluang. Belum lagi ekonomi hijau dan digitalisasi yang belum maksimal disentuh.
Mengandalkan sektor konsumsi untuk pertumbuhan ekonomi memang tidak salah. Namun, semata mengandalkan itu bisa amat berisiko pada stagnasi pertumbuhan. Belum lagi bila daya beli terus tergerus, bisa-bisa pertumbuhan ekonomi bakal lunglai.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved