Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEJAYAAN suatu bangsa bukan ditentukan luasnya wilayah atau besarnya jumlah penduduk bangsa itu, melainkan oleh kemampuan dan kekuatan manusianya. Kalimat masyhur itu pernah dikutip Bung Karno demi menggembleng bangsa ini saat baru merdeka. Saya sepenuhnya sepakat dengan kalimat itu.
Sepakat bukan sembarang sepakat, melainkan atas dasar fakta sejarah bangsa-bangsa besar kini, yang jejaknya ditentukan warisan kehebatan manusia mereka masa lampau. Studi komparatif menemukan modal manusialah yang paling menentukan daya sintas suatu bangsa. Bila manusianya lembek, sulit bagi sebuah bangsa untuk menggapai kejayaan. Sebaliknya, ketangguhan manusia di suatu bangsa akan membuat bangsa itu bersinar dan gemilang di kemudian hari.
Tengoklah Prusia, salah satu kerajaan di Jerman. Prusia kalah perang dari Prancis pada 1806. Begitu kalah, dalam pidatonya di depan rakyatnya, Raja Friedrich Wilhem III mengatakan negara harus menggantikan apa yang sudah kalah secara fisik dari Prancis dengan kekayaan intelektual.
Karena itu, pada 1810, berdirilah Universitas Berlin yang kemudian menjadi pelopor universitas riset di seluruh dunia. Pendirian Universitas Berlin merupakan cara Prusia untuk mengompensasi kekalahan secara fisik karena perang dengan kekayaan intelektual. Kini, bukan cuma Prusia yang dikenal sebagai bangsa besar, melainkan juga seluruh Jerman.
Kisah serupa terjadi pada Jepang. Setelah kalah dalam Perang Dunia II, di balik keruntuhan Jepang, Kaisar Hirohito tidak bertanya berapa jumlah pabrik yang masih tersedia. Sang Kaisar bertanya berapa jumlah guru yang masih tersedia. Kita pun menyaksikan Jepang dalam lima dekade setelah itu menjelma menjadi negara jaya di banyak bidang, terutama pengembangan teknologi.
Kini, saya menyaksikan hal serupa pada Iran. Negeri penerus Kerajaan Persia itu memiliki kemampuan persenjataan yang hebat kendati bertahun-tahun mendapatkan sanksi dari negara-negara besar dunia. Sanksi baik ekonomi maupun militer nyatanya tidak membuat Iran kerdil dan jadi bangsa tidak berdaya. 'Negeri para Mullah' itu mengandalkan kekuatan manusia mereka untuk menguasai teknologi persenjataan dan nuklir untuk kebutuhan energi.
Jika dibandingkan dengan Israel, negeri yang tengah berkonflik dengan Iran, negara di bawah pimpinan tokoh spiritual Ayatullah Ali Khamenei itu disebut lebih unggul dalam 6 dari 8 variabel alutsista. Keenam keunggulan itu ialah jumlah manpower, armada angkatan darat, armada angkatan laut, sumber daya nasional, finansial, dan logistik militer.
Terlebih, Iran memiliki salah satu gudang rudal balistik dan drone terbesar di Timur Tengah. Gudang itu berisi peluru kendali (rudal) jelajah, rudal antikapal, serta rudal balistik dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer, seperti ditulis New York Times. Beberapa senjata itu mampu menjangkau target apa pun di Timur Tengah, termasuk Israel.
Berdasarkan laporan dari Institut Internasional untuk Studi Strategis, Iran mempunyai sekitar 580 ribu personel tentara aktif hingga 200 ribu personel cadangan terlatih yang terbagi dalam tentara reguler dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pertanyaannya, dari mana Iran mendapatkan pasokan senjata seperti itu?
Lagi-lagi, jawabannya ialah faktor manusia. Meski Iran telah mendapatkan sanksi internasional dengan cara pemutusan akses terhadap persenjataan dan militer berteknologi tinggi yang diproduksi dari luar negeri, toh negeri itu tetap mampu mengembangkan teknologi buatan mereka sendiri. Sejak Ayatullah Ruhollah Khomeini memimpin Iran pada akhir 1979, ia menugasi angkatan bersenjata Iran untuk mengembangkan industri senjata dalam negeri dan tidak bergantung kepada suplai negara asing.
Hasilnya, hingga saat ini, Iran telah berhasil memproduksi rudal dan drone sendiri dalam jumlah masif. Upaya memprioritaskan produksi pertahanan juga membuat Iran berhasil memproduksi kendaraan lapis baja dan kapal angkatan laut mereka sendiri.
Saya tidak hendak mengajak pembaca untuk membela atau mengglorifikasi Iran yang sedang berkonflik dengan Israel. Saya hanya ingin mengangkat fakta sejarah bagaimana suatu bangsa bisa tegak kukuh berdiri, bahkan maju di bidang militer, di tengah gempuran sanksi bertubi-tubi.
Iran, juga Prusia-Jerman dan Jepang, ialah potret nyata bagaimana kekuatan manusia didayagunakan. Indonesia punya sejarah besar, kenangan sebagai bangsa besar, dan terus berusaha menjadi bangsa besar. Tinggal urusan mendayagunakan manusianya.
Namun, apakah manusia kita semampu Jerman, sekuat Jepang, dan setabah Iran? Jangan dijawab dengan jawaban klise, 'coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang'.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved