Etika yang kian Langka

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
19/4/2024 05:00
Etika yang kian Langka
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

BANGSA Indonesia dikenal karena kesopanannya, karena keramahannya. Bangsa ini kesohor lantaran menjunjung tata krama, meninggikan etika. Namun, itu dulu. Sekarang?

Sopan santun boleh jadi merupakan bagian dari DNA orang Indonesia. Suku apa pun, etnik apa saja, di negeri ini dikenal sopan, ramah, dan beretika dari sananya. Hal-hal yang baik itu telah menjadi karakter dalam melakoni hidup sehari-hari. Orang Sunda, misalnya, dikenal punya karakter periang, murah senyum, lemah lembut, dan sangat menghormati orang tua.

Hidup mereka erat dengan kesopanan, keramahan. Mereka biasanya tarapti (tertib), siloka (tak membuat orang lain tersinggung), someah (sopan), dan handap asor (merendah). Sifat dan perilaku yang berkebalikan dengan semua itu dianggap pamali, tabu untuk dilakukan.

Demikian halnya dengan orang Jawa. Mereka diajari hidup dengan memegang teguh unggah-ungguh, toto kromo, dalam baik berkomunikasi maupun bersosialisasi. Sopan santun, tata susila, dan etika menjadi bagian tak terpisahkan dari mereka.

Di Sulawesi Selatan, memuliakan adat istiadat dan sopan santun kepada sesama ialah keharusan. Suku Bugis, Makassar, punya tabe yang merupakan budaya warisan leluhur untuk menghargai orang lain. Tabe ialah simbol penghormatan. Asal usulnya dari dari bahasa Sanskerta, ksantawya. Artinya salam atau maaf.

Suku Batak atau orang Indonesia Timur memang dikenal keras. Namun, percayalah hati mereka sebenarnya selembut salju dan penuh cinta. Seperti halnya orang Indonesia lainnya, mereka sopan, beretika pula.

Namun, sekali lagi, itu dulu. Sekarang, masih dimuliakankah sopan santun? Masih dijunjung tinggikah etika? Memang terlalu dini untuk membuat konklusi, terlalu prematur untuk menyimpulkan bahwa kepatuhan pada etika kian mahal, semakin langka. Namun, barangkali beragam contoh betapa semakin banyak orang yang mempertontonkan pengabaian etika bisa memberi gambaran.

Tak usah jauh-jauh kita menoleh ke belakang. Beberapa kejadian belakangan kiranya cukup untuk membuat kita gundah ihwal ke mana etika bangsa ini mengarah. Contoh pertama ditunjukkan anak muda bernama Arie Febriant. Dia bukan orang sembarangan. Dia karyawan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), salah satu BUMN papan atas idaman para calon mertua. Dia disebut-sebut lulusan UI, universitas top di negeri ini yang jadi dambaan setiap orangtua untuk anak mereka.

Dengan curriculum vitae seperti itu, Arie pasti anak pintar. Akan tetapi, kepintaran tak selalu linier dengan kesopanan. Dia menjadi samsak hujatan setelah video yang mengisahkan dirinya menabrak etika beredar di mana-mana. Dalam video yang viral, Arie dinarasikan memarkirkan mobilnya sembarangan di jalan hanya demi membeli gorengan hingga membuat kemacetan. Saat ditegur, bukannya menyadari kesalahan, bukannya meminta maaf, dia malah marah-marah. Dia bahkan meludah ke arah perempuan yang menegur.

Perilaku seperti itu jelas tidak elok, tak beretika. Lumrah publik bereaksi keras. Layak kalau perusahaan tempatnya bekerja kemudian bertindak. Pun, sudah sewajarnya jika Arie kemudian meminta maaf meski nasi telah menjadi kerak. Dia kiranya melupakan petuah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani bahwa menjadi orang berilmu memang penting, tetapi jauh lebih penting menjadi orang yang beradab.

Contoh terkini lebih parah lagi. Bukan anak muda seperti Arie, kali ini pelakunya orang tua. Dalam rekaman video, seorang bapak-bapak terlibat cekcok dengan pengendara lain. Cekcok di jalan raya memang sudah biasa. Yang tak biasa, bapak itu mengaku jenderal yang berdinas di Mabes TNI.

Semakin tak biasa, saat didesak, dia kemudian bilang kakaknya jenderal dengan menyebut nama jelas. Entah benar entah tidak nama yang terucap. Yang jelas, mobil yang dikendarai memang berpelat TNI. Usut punya usut, pelat nomor itu palsu. Bapak itu telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.

Sama seperti respons terhadap perilaku Arie, sang bapak yang ternyata seorang pengusaha itu dihujat habis-habisan. Dia dicap sebagai orang yang tak punya sopan santun, tak beretika, arogan, mentang-mentang. Publik marah, sangat marah, karena dia juga membawa nama TNI, institusi yang sangat mereka cintai.

Apa yang dipertontonkan Arie dan bapak itu hanyalah sedikit contoh dari banyaknya pengabaian etika. Apalagi dalam bermedia sosial. Sekadar pengingat, pada 2020 Microsoft melalui survei Digital Civility Index (DCI) menempatkan Indonesia di urutan ketiga daftar negara paling tidak sopan, di bawah Afrika Selatan dan Rusia. Mencemaskan, bukan?

Ya, kiranya kita patut cemas. Lebih-lebih lagi, etika dan adab seolah tak lagi ada harganya di hadapan para pemimpin dan calon pemimpin. Pemilu yang baru lewat menguatkan asumsi itu. Celakanya lagi, alih-alih dijauhi, orang-orang seperti itu justru didukung, diglorifikasi. Kontras betul dengan penyikapan terhadap perkara Arie dan semacamnya. Sungguh menyedihkan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.