Momentum

Suryopratomo
18/3/2015 00:00
Momentum
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

DALAM ekonomi dan pembangunan negara, momentum sangatlah penting. Keberhasilan pembangunan sebuah negara ditentukan kemampuan pemimpinnya untuk memanfaatkan momentum.

Kita lihat bagaimana Tiongkok menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping mampu memanfaatkan peristiwa Tiananmen 1989 sebagai momentum melakukan perubahan besar.

Ketika itu Tiongkok boleh dikatakan sebagai negara miskin.

Revolusi Kebudayaan membuat Tiongkok menjadi 'Negeri Tirai Bambu' dan tertinggal jauh.

Deng tampil menawarkan masa depan Tiongkok kepada investor. Ia menyiapkan infrastruktur dan peraturan lalu membuka pintu bagi investasi datang.

"Bagi saya, tidak penting kucing itu warnanya hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus," kata Deng.

Kita memiliki banyak kesempatan untuk membangun Indonesia lebih baik. Sejak 1999 kita sudah membuktikan kepada dunia kita mampu membangun demokrasi.

Kita bahkan menjadi model bahwa demokrasi dan Islam bisa berjalan beriringan.

Empat presiden hadir sejak 1999 mulai Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo.

Namun, sepanjang 16 tahun kita tidak mampu memanfaatkan momentum.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah menyampaikan keluhannya kepada pejabat dan perusahaan AS.

Kata JK, Amerika selalu mendengungkan pentingnya membangun demokrasi.

"Kami sudah membangun sistem demokrasi, tetapi Anda selalu menanamkan modal justru di negara yang tidak membangun demokrasi," kritik Jusuf Kalla.

Sistem demokrasi sering disebut sebagai sistem terbaik dari pilihan yang ada.

Namun, anehnya, investasi tidak dikaitkan dengan sistem politik yang diterapkan sebuah negara.

Apa yang sebenarnya keliru dengan Indonesia?

Saat menghadiri pesta ulang tahun ke-70 Arifin Panigoro, Sabtu (14/3), saya berkesempatan berbincang dengan mantan Menteri Keuangan Bambang Subianto dan Presdir Bank Woori Saudara Yanto B Purbo.

Diskusi yang mencuat, apa yang sebenarnya terjadi dengan rupiah sehingga perekonomian negara ini tiba-tiba kehilangan kendali?

Bambang Subianto menjawab, "Kalau persoalan pelemahan nilai tukar rupiah dan ekonomi hanya dilihat dari kaca mata defisit neraca transaksi berjalan, penyembuhannya akan berlangsung lama. Perbaikan defisit neraca transaksi berjalan tidak bisa dilakukan seketika karena berkaitan dengan kebijakan yang mendasar."

Lalu apa yang bisa dilakukan?

"Orang berinvestasi itu ibarat mau makan di restoran. Kalau ada dua restoran yang menyajikan makanan sama-sama enak, tetapi restoran yang satu pelayannya selalu ribut sementara restoran yang lain suasananya tenang, restoran mana yang kira-kira akan kita pilih?" kata Bambang.

Menurut Bambang, investor tidak pernah melihat masa lalu.

Ketika mereka akan menanamkan modal, yang dilihat ialah seberapa besar negara itu menjanjikan masa depan yang lebih baik.

Pemerintahan Jokowi pada awalnya menjanjikan harapan tinggi.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, harapan itu memudar.

Kalau Jokowi tidak mau gagal, ia harus mengembalikan lagi harapan itu.

Tugas yang harus dilakukan ialah menemukan kembali momentum untuk membawa Indonesia ke arah kemajuan.

Momentum itu bukanlah kapital, melainkan momen yang bisa mengajak seluruh warga bangsa ini mau berjalan ke tujuan yang sama.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.