Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
IBARAT pasukan yang akan menyergap musuh, ratusan ribu orang bergerak menjelang subuh ke Jakarta International Stadium (JIS), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (11/2). Mereka bergerak dari berbagai wilayah di Indonesia.
Namun, tak mudah akses ke stadion megah bertaraf internasional itu. Mereka berjalan kaki 2-4 kilometer di tengah kondisi jalan yang becek sehabis diguyur hujan malam harinya. Mereka melakukan berbagai cara agar bisa mencapai lokasi. Ada pula yang naik sepeda dari Jawa Tengah.
Target mereka ialah bisa masuk ke stadion untuk menyaksikan perhelatan bersejarah menyambut Pemilu 2024. Mereka tak memerlukan seragam, nasi bungkus, dan bayaran mobilisasi. Perbekalan mereka siapkan dari rumah masing-masing. Alhasil, lautan massa sebelum pukul 07.00 WIB sudah menyemut di stadion tersebut.
Meski massa tak menggunakan kaus yang seragam, tekad mereka sama ingin menjadi bagian dari sejarah. "Di sisa usia, saya ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk negeri ini. Saya ingin adanya perubahan, sama dengan harapan warga yang lain," ujar seorang wiraswasta dari Magelang.
Massa menyampaikan berbagai pesan melaui spanduk, poster, dan kaus.
Dalam serombongan anak muda yang menggunakan kaus hitam ada tulisan yang menarik di bagian punggungnya. ‘Perjuangan ini milik kita dan kemenangan milik yang Maha Kuasa, bukan penguasa’, tulisnya.
Ada pula spanduk yang senada pesannya, "Di atas penguasa, masih ada yang Maha Kuasa." Ada pula pesan bergaya pantun dan ala candaan di media sosial, seperti "Capek-capek kuliah jurusan teknik, eh milihnya pelanggar etik."
Semangat untuk memperbaiki negeri dalam momentum Pemilu 2024 bergelora di seantero negeri. Sejumlah elemen masyarakat mulai tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, non-government organization, hingga sivitas akademika plus guru besar, angkat bicara. Mereka merasakan kegundahan. "Indonesia sedang tidak baik-baik saja," seru mereka.
Padahal, rakyat Indonesia akan menggelar pesta demokrasi. Yang namanya pesta harus menggembirakan, penuh sukacita, dan tidak ada yang terpaksa atau mengalami tekanan. Namun, kerisauan di kalangan anak bangsa menguar. Kerisauan yang bukan mengada-ada, melainkan fakta yang bisa dilihat masyarakat.
Sederet fakta yang membuat miris Indonesia sebagai negara hukum ialah rekayasa hukum di Mahkamah Konstitusi. Pelanggaran etik juga terjadi pada Ketua Komisi Pemilihan Umum Hasyim Asy'ari hingga tiga kali. Krisis kenegarawanan Presiden Joko Widodo yang terindikasi ingin memperjuangkan kemenangan salah satu paslon, yakni putra sulungnya menjadi cawapres.
Dampak Presiden Jokowi cawe-cawe dalam pilpres terlihat pada aparaturnya. Menurut Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Pemilu bersama Koalisi Masyarakat Sipil Kawal Pemilu Demokratis, sebanyak 121 kasus dengan 31 kategori tindakan penyimpangan aparat negara di seluruh Indonesia sebelum dan selama masa kampanye Pemilu 2024.
Temuan kasus-kasus itu mengindikasikan penyalahgunaan kekuasaan negara di berbagai level dan tingkatan mulai presiden hingga kepala desa, termasuk penjabat kepala daerah.
Terdapat tiga jenis pelanggaran dalam kasus penyimpangan state apparatus, yaitu kecurangan pemilu, pelanggaran netralitas, dan pelanggaran profesionalitas. Belum lagi politisasi bantuan sosial.
Seiring dengan merebaknya petisi keprihatinan kampus yang dimotori guru besar, aparat kepolisian bergerak cepat mendekati pimpinan perguruan tinggi di Jawa Tengah untuk membuat rekaman yang berisi puja dan puji kepada Jokowi. Sejumlah rektor manut, tetapi ada juga yang menolak. Mahasiswa pun mulai turun ke jalan, di Jakarta, Yogyakarta, dan daerah lain.
Yang menyedot perhatian publik ialah film Dirty Vote yang berisi bibit-bibit kecurangan Pemilu 2024. Film yang dirilis di akun Youtube PSHK (Pusat Studi Hukum dan Kebijakan) Indonesia pada Minggu (11/2) hingga pukul 17.00 WIB kemarin sudah ditonton 4,4 juta orang.
Energi perlawanan terus berkobar untuk Indonesia lebih baik. Perlawanan tak hanya bermodal semangat, tetapi juga harus menggunakan ilmu agar tidak tersesat. Orang yang berilmu, kata Plato, mengetahui orang yang bodoh karena dia pernah bodoh. "Sedangkan orang yang bodoh tidak mengetahui orang yang berilmu karena dia tidak pernah berilmu," tandasnya. Tabik! (X-1)
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved