Dalam Dekapan Oligarki

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
25/1/2024 05:00
Dalam Dekapan Oligarki
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

TIDAK perlu repot mencari ke mana-mana, konfirmasi bahwa politik kekuasaan di negeri ini memang cenderung dikuasai oligarki tiba-tiba datang sendiri. Selama ini isu tentang penguasaan panggung kekuasaan oleh oligarki memang terus menjadi sorotan, tapi kebanyakan percakapan yang terjadi di ranah publik masih berupa asumsi atau sebatas dugaan-dugaan.

Kini, dugaan itu mendapat konfirmasi. Pemantiknya ialah klaim yang diungkapkan pengusaha Garibaldi Thohir atau Boy Thohir bahwa para taipan penyumbang sepertiga kekuatan perekonomian nasional Indonesia siap membantu memenangkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2024 dalam satu putaran.

Boy bahkan menyebut nama sejumlah grup perusahaan nasional raksasa yang siap mem-back up kemenangan Prabowo Gibran itu. Namun, kiranya tak perlu kita ungkapkan nama-nama perusahaan itu karena sebagian besar sudah memberikan klarifikasi yang pada intinya membantah klaim Boy Thohir tadi. Biarlah itu menjadi polemik di antara mereka. Kita yang tidak masuk kelompok 'sepertiga' itu tidak perlu ikut-ikutan.

Yang pasti, pernyataan itu menguatkan asumsi bahwa keberadaan sekelompok kecil dengan kekuatan besar yang memegang sekaligus mengontrol kekuasaan politik di Indonesia memang benar adanya. Itu persis seperti pengertian oligarki menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang bermakna 'pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu'.

Kalau menurut Plato, oligarki merupakan bentuk kemerosotan dari pemerintahan aristokrasi atau pemerintahan yang dipimpin kaum cerdik pandai menjadi kekuasaan yang dipimpin sekelompok kecil yang menjalankan pemerintahan demi melayani syahwat dan kepentingan golongan itu sendiri.

Memang, para oligark atau kelompok kecil itu tidak melulu berkaitan dengan mereka yang memiliki kekuatan uang alias pebisnis atau pengusaha. Selain mereka, aktor oligarki berasal dari orang-orang yang punya kekuatan secara politik, seperti elite partai politik, penegak hukum, dan birokrat.

Akan tetapi, kata Jeffry Winters, ilmuwan politik dari Universitas Northwestern, AS, kekayaan ialah kunci utama dalam oligarki. Ia menyebut ada satu hal yang akan dilakukan semua oligark secara politik, yaitu mempertahankan kekayaan atau wealth defense. Artinya, kelompok dengan kekuatan finansial memang menjadi elemen terpenting dari konsep oligarki. Boleh jadi merekalah pengendali sesungguhnya.

Tumbuh suburnya oligarki di Indonesia pun dipicu kuatnya kongsi di antara para elite oligark itu. Kongsi antara kekuatan uang dan keserakahan politik. Nah, celakanya, ketika dua kekuatan itu terus-terusan bercumbu dalam selimut oligarki, praktik kartel dan korupsi otomatis menjadi keniscayaan yang sulit dimatikan.

Di sisi lain, penciptaan kebijakan yang mencerminkan kepedulian terhadap kepentingan dan kebutuhan masyarakat banyak tak pernah menjadi perhatian utama, malah cenderung diabaikan. Dalam bangunan oligarki, rakyat hanya penonton, sebatas objek yang tidak perlu didengar suaranya, bahkan sewaktu-waktu bisa dibungkam.

Karena itu, membaca klaim dukungan Boy Thohir dkk semestinya bikin kita merinding. Jika itu benar, kita patut curiga sekaligus khawatir bahwa praktik kekuasaan oligarki yang sekian lama mendekap negeri ini bakal diteruskan di pemerintahan berikutnya bila kandidat yang mereka dukung berhasil memenangi Pemilu 2024.

Rakyat berhak merasa cemas karena konsep kekuasaan yang hanya menguntungkan segelintir kelompok elite itu nyatanya justru sedang diorkestrasi lagi untuk tetap eksis. Semakin mengkhawatirkan lagi karena saat ini oligarki seperti menemukan sohib kental mereka, yaitu politik dinasti.

Tidak terbayangkan bagaimana bobroknya demokrasi di Republik ini apabila dua antitesis prinsip demokrasi itu berkolaborasi, ditumpuk pula dengan fakta kian lunturnya etika dari sebagian elite politik saat ini.

Oleh sebab itu, jangan kita hanya merasa khawatir dan kemudian pasrah dalam dekapan oligarki. Rakyat mesti bergerak. Kendati ekosistem politik kita masih membuka celah tumbuhnya oligarki, rakyat sejatinya juga punya kekuatan untuk mencegah terjadinya monopoli kekuasaan oleh kelompok oligarki dan politik dinasti itu. Jalan konstitusionalnya ialah melalui partisipasi aktif dalam Pemilu 2024.

Pemilu kali ini, tidak bisa tidak, harus menjadi momen bagi publik untuk secara bijak dan cerdas memilih pemimpin yang betul-betul punya komitmen kuat untuk memutus, atau setidaknya menjauh dari lingkaran setan oligarki.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.