Politik Kesukarelaan untuk Abah dan Gus

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
24/1/2024 05:00
Politik Kesukarelaan untuk Abah dan Gus
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

POLITIK kesukarelaan kini muncul di mana-mana. Penyulutnya anak muda, yang awalnya ngeri melihat wajah politik kita. Mulanya, mereka mengira politik itu palagan orang 'dewasa'. Panggung bagi yang berkantong tebal. Politik itu penuh intrik nan jauh dari semangat kegembiraan dan spirit kolaboratif yang selama ini melekat pada diri mereka.

Maka, ketika muncul siaran langsung pertama kalinya calon presiden Anies Baswedan di Tiktok, Jumat, 29 Desember 2023, publik heboh. Anak muda menjadi paham bahwa politik atau politikus itu juga manusia yang bisa hangat, bisa jadi tempat curhat, dan nasihatnya bermanfaat.

Anies yang tampil orisinal, tidak dibuat-buat, justru membikin netizen heboh. Saat Anies terlihat kebingungan karena baru pertama kalinya berselancar di Tiktok, simpati anak muda justru muncul. Bukan cibiran atau cemoohan, justru 'tutorial' langsung diberikan tanpa bermaksud melecehkan. Etika mereka, anak muda itu, ternyata luar biasa.

Apalagi, ketika menjawab sejumlah pertanyaan para tiktokers, Anies terlihat sebagai sahabat yang memberikan nasihat tanpa menggurui. Bahkan, Anies dianggap sosok ayah yang menawarkan solusi bagi perjalanan hidup yang macet. Anies mereka nilai memberikan motivasi saat mereka suntuk, energi mereka meredup, dan kebingungan menjalani hidup.

Anies dinilai memberikan pencerahan kepada mereka, anak-anak milenial dan gen Z itu, saat mereka seperti merasa hanya menyaksikan kegelapan masa depan. Nyaris tidak ada pembicaraan politik praktis. Tidak ada kampanye atau ajakan agar mereka memilih Anies. Semua disampaikan secara santai dan menyejukkan.

Seorang netizen malah meminta izin memanggil Anies dengan sebutan ‘abah’. Anies dengan senang hati memperbolehkan. “Boleh dong, boleh sekali,” ucap Anies saat live Tiktok di akun pribadinya itu. Sebagian terharu karena mereka merasa menemukan sosok ayah yang memandu, memotivasi, kawan diskusi, hingga tempat curhat.

Wajar belaka bila live TikTok tersebut tembus lebih dari 320 ribu viewer. Kini, akun @aniesbaswedan punya lebih dari 1,4 juta pengikut. Antusiasme pun meningkat saat siarang langsung di media yang sama episode-episode berikutnya.

Sejak itu, Anies dipanggil ‘abah’ oleh para anak muda. Dalam tempo cepat, tagar #AbahNasional menjadi tren di platform Twitter (X) melalui akun netizen dengan nama @aniesbubble, yang menyebarkan potongan video Anies di TikTok. Kata bubble ini terinspirasi dari platform yang dipakai penggemar idola K-Pop. Tidak mengherankan bila sebagian menggunakan bahasa Korea, menyematkan julukan ala Korea, juga menyematkan emoji ala Korea. Semuanya orisinal, sukarela, riang gembira, jauh dari gambaran mengerikan.

Akun-akun itu semua murni inisiatif penggemar K-Pop. Tidak ada yang memobilisasi dan sama sekali tidak terkait dengan Timnas Anies-Muhaimin. Video yang diunggah di antaranya ada yang bertanya soal skripsi, kisah seorang guru murid usia dini, hingga saran soal buku apa yang mesti mereka baca. Maka, kesan politik itu angker jadi luruh. Politik itu tegang menjadi lumer.

Sejak itu, antusiasme menggulung. Partisipasi terus bersemi. Politik kesukarelaan (political voluntarism) menemukan ruang amat luas. Anak muda, dengan beragam kreativitasnya, seperti sudah mual dijejali joget-joget tanpa solusi. Mereka memang menyukai gemoy, tapi lebih suka yang memotivasi, menebarkan cinta tanpa basa-basi, kesengsem sosok yang lebih orisinal, yang sangat autentik.

Seperti bola salju, efek antusiasme itu berlanjut ke kreativitas lainnya: membuat video elektronik alias videotron untuk mengenalkan sosok Anies. Bila videotron kandidat lain kebanyakan dipasang dan didanai oleh tim kampanye, videotron Anies ini berasal dari kocek pribadi. Ketika ada pihak yang men-take down videotron di Bekasi dan Jakarta, reaksi keras pun muncul dari netizen.

Reaksi dan berita penurunan itu pun tersebar luas. Orang-orang pun menjadi tahu materi video itu tanpa harus melintasi jalan raya di Jakarta dan Bekasi. Gerakan perlawanan anak muda pun muncul di mana-mana. Mereka pun membuka donasi untuk memasang videotron di sejumlah kota. Maka, muncullah videotron Anies di Surabaya, Yogyakarta, Medan, Gorontalo, Aceh, dan di berbagai tempat lainnya.

Kini, bahkan muncul videotron tiga dimensi dalam versi bergerak. LED itu diangkut truk. Tiap hari, LED truk itu bergerak mengelilingi jalanan di Jakarta dan sekitarnya. Biayanya penuh dari saweran kocek pribadi para anak muda itu. Mereka mengikuti pepatah, 'mati satu tumbuh seribu, patah tumbuh hilang berganti'.

Dalam sebuah perbincangan hangat di Instagram, anak muda itu berjanji akan membuatkan videotron serupa untuk Muhaimin Iskandar, cawapres Anies, bila Gus Imin tampil sukses di debat cawapres kedua. Seusai debat, Gus Imin menulis kata 'videotron', di akun media sosialnya. Keesokan harinya, muncullah LED truk lengkap versi Anies dan Gus Imin.

Demokrasi sejati dibangun di atas fondasi partisipasi atau kesukarelaan, bukan mobilisasi atau keterpaksaan. Anak muda, generasi milenial dan gen Z, itu sudah mempraktikannya.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.