Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM pertandingan apa pun, yang namanya wasit atau lembaga pengadil pasti selalu ada. Keberadaannya wajib. Ia komponen penting untuk mengawal pertandingan berjalan lancar dan, yang terpenting, menjunjung fair play.
Pemilihan umum (pemilu) juga bisa diibaratkan pertandingan. Pemilu ialah arena kontestasi, kompetisi memperebutkan suara rakyat dengan batasan dan aturan ketat. Pemilu bukan pertarungan bebas yang apa pun mungkin dilakukan demi meraup kemenangan. Oleh karena itu, wasit dalam urusan pemilu juga merupakan faktor penting.
Di Indonesia, wasit 'pertandingan' pemilu ialah Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Merekalah pemegang kuasa penuh di lapangan pemilu. Bawaslu tidak sekadar mengawal dan mengawasi jalannya pertandingan, tapi sekaligus punya wewenang untuk menyemprit dan menindak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi.
Dengan kuasa yang dimilikinya itu, wasit tentu harus netral, tidak berat sebelah, pun tidak tebang pilih. Wasit mesti imparsial, tidak memihak, juga tidak berkongsi dengan kepentingan pihak yang sedang bertanding. Sepatutnya wasit juga punya nyali dan keberanian tinggi untuk menjatuhkan hukuman bagi siapa pun yang dinilai melanggar aturan main. Itu pakemnya.
Jadi, secantik-cantiknya para pemain memainkan pertandingan di lapangan, kalau wasitnya tidak kredibel, tidak netral, tidak punya nyali, jangan harap pertandingan bakal berjalan apik. Boleh jadi yang muncul keributan-keributan yang malah merusak permainan. Sehebat apa pun pelatih tim yang bertanding menyusun strategi, irama pertandingan bakal tetap rusak bila wasitnya menyimpang dari pakem.
Isu perihal wasit pemilu alias Bawaslu ini belakangan kian banyak disorot. Bawaslu dinilai lembek sekaligus tidak punya ketegasan menindak sejumlah pelanggaran yang nyata-nyata terjadi di lapangan. Jangankan menindak, untuk sekadar menyemprit mereka tampak malas, ogah-ogahan. Bawaslu bagaikan wasit yang kehilangan peluit dan kartu-kartu hukumannya.
Bawaslu juga dianggap lambat karena kurang responsif terhadap kejadian-kejadian yang berpotensi menjadi sebuah pelanggaran. Sejatinya sudah banyak indikasi pelanggaran pemilu yang ditemukan masyarakat umum dan masyarakat pemantau pemilu. Akan tetapi, ya itu tadi, entah lantaran peluitnya hilang entah memang Bawaslu tak punya cukup nyali, penegakan hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran itu minim.
Mereka lebih banyak menunggu laporan. Setelah laporan masuk pun tak selalu mereka cepat bertindak. Memang ada yang ditindaklanjuti, tapi lebih banyak yang dicuekin, seperti sengaja dibiarkan sampai isu dari laporan itu mereda dengan sendirinya. Hari-hari ini publik menyaksikan Bawaslu lebih banyak diam membeku.
Kebekuan Bawaslu itu pada akhirnya membuat masyarakat hanya disuguhi beragam dugaan kecurangan dan ketidaknetralan tanpa ada kepastian melalui uji kebenaran melalui proses hukum. Orang mulai menduga-duga soal ketidaknetralan itu ketika kerap kali peluit sang wasit hanya kencang kepada satu kelompok tertentu, tapi melempem kepada kelompok lain.
Satu hal lagi yang hilang dari Bawaslu ialah kreativitas dan inovasi pengawasan. Bentuk pelanggaran semakin canggih, tapi Bawaslu sepertinya masih bertahan dengan gaya pengawasan lawas. Akibatnya, sering kali mereka luput mendeteksi gejala-gejala awal pelanggaran. Ketika banyak yang tidak terdeteksi, pelanggaran pada akhirnya menumpuk dan pada satu titik nanti akan menjadi bom waktu.
Sesungguhnya sudah banyak yang mengingatkan, jika sang wasit pemilu itu terus-terusan melakukan pembiaran, trust atau kepercayaan publik kepada Bawaslu bakal semakin luntur. Bahkan tidak cuma itu, kepercayaan publik terhadap proses dan hasil pemilu bisa terjerembap apabila Bawaslu tak kunjung tegas dan cepat menindak pelanggar kompetisi.
Mari kita ambil analogi dari sebuah pertandingan sepak bola. Ketika wasit tidak tegas, pelit meniup peluit, atau mencla-mencle, yang akan terjadi ialah kekacauan. Ketika kinerja wasitnya buruk, lambat, apalagi tidak menghormati asas keadilan dan kesetaraan dalam setiap keputusannya, risiko terberatnya ialah akan memicu perkelahian bukan saja antarpemain, melainkan juga antarsuporter.
Sekrusial itulah peran dan fungsi wasit. Baik di pertandingan sepak bola maupun pertandingan pemilu. Wasit memang tak mesti lebih hebat daripada pemain, tetapi soal integritas dan ketegasan kiranya tak bisa ditawar-tawar. Dengan integritas dan ketegasan itulah wasit bisa memegang kendali pertandingan, bukan sebaliknya, mereka yang dikendalikan pemain dan permainan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved