Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JIKA hukum jadi menakutkan, ia mungkin teror bagi yang menerimanya. Jika hukum tak adil, bisa jadi ia tirani.
Menurut orang bijak seperti Santo Agustinus, hukum yang tak adil bukanlah hukum.
Frase 'bukan hukum' bisa ditafsirkan macam-macam. Ia bisa tirani.
Di alam demokrasi, hukum serupa itu (tirani) harusnya lekas diusir pergi.
Hukum, kata penulis John Arbuthnot, adalah lubang tanpa dasar yang bisa melahap segala sesuatu.
Kini kita memang tengah menyaksikan 'lubang tanpa dasar' yang 'melahap segala sesuatu' di mahkamah kita. Tengoklah di Pengadilan Negeri Situbondo, Jawa Timur, janda berusia 63 tahun, Asyani, benar-benar tengah dilahap 'lubang tanpa dasar' itu.
Ia tak berdaya.
Juli tahun lalu Asyani hendak membuat dipan dengan beberapa lembar kayu jati simpanannya.
Akan tetapi, alih-alih ia punya dipan, beberapa lembar kayu itu disita polisi hutan yang berpatroli.
Polisi meyakini kayu itu dicuri dari Perhutani. Asyani berkukuh, kayu itu ditebang dari tanah miliknya sebelum dijual untuk berobat suaminya yang terkena stroke.
Asyani tak berdaya menghadapi aparat yang perkasa.
Ia memang tak bisa menunjukkan dokumen kepemilikan kayu yang diminta.
Di mahkamah yang perkasa itu, Asyani hanya bisa menangis histeris.
Ia mengiba, meminta dibebaskan dari segala perkara.
Sesungguhnya, kata Asyani, ia bisa bebas dari hukum jika ia mampu memberi uang suap Rp4,5 juta kepada orang Perhutani. Ia terlalu miskin untuk itu.
Dalam sebuah sidang, ia menunjuk seorang penguasa Perhutani, Sarwin.
"Sarwin, kamu tega memenjarakan saya," suara Asyani parau. Tapi, hukum tak mendengar suara parau!
Apa pun argumentasinya, negara teramat perkasa pada orang-orang tak berdaya, tetapi kerap mengerut pada orang-orang kuat.
Berkali-kali perkara seperti ini mengganggu nurani kita.
Pada 2009, Nenek Minah di Gumelar, Banyumas, ditahan tiga bulan dan divonis 1,5 bulan oleh PN Purwokerto karena mengambil tiga buah kakao milik Perhutani.
Ia telah minta maaf pada mandor hutan yang menegurnya. Tetapi, tak ada maaf untuk kekhilafan kecil itu.
Tahun berikutnya, hakim PN Bojonegoro memenjarakan suami istri, Supriyono-Sulatri, selama 3,5 bulan karena mencuri setandan pisang.
Pada 2012, PN Palu, Sulawesi Tengah, memvonis remaja pencuri sepasang sandal jepit yang dilaporkan dua polisi.
Pada tahun yang sama PN Sinjau, Sulawesi Selatan, memvonis Kakek Rawi dua bulan 25 hari karena mencuri 50 gram merica.
Hukum positif pasti akan dengan lantang berkata, "Hukum tak mengenal siapa dia." Orang kaya atawa kaum duafa.
Kredonya jelas: equality before the law (persamaan di hadapan hukum) yang merupakan salah satu asas terpenting hukum modern.
Namun, itu terasa mengerikan dan jemawa bagi orang-orang bersahaja seperti Asyani dan orang-orang malang lainnya.
Menurut Guru Besar Universitas Lampung bidang hukum, Sunarto, dalam masyarakat kita yang plural, kearifan lokal dalam hukum adat kita mestinya bisa menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang tak memenuhi asas keadilan hukum itu.
"Hukum adat bisa bekerja menyelesaikan kasus seperti Nenek Minah."
Hukum positif pun bukankah proses yang tak berjalan di atas ruang hampa?
Bukankah di situ ada manusia? Bukankah di tengah timbunan teori hukum, ketika hakim bekerja, juga dituntut berpulang pada hati nuraninya?
Kini masih adakah nurani itu untuk orang-orang malang?
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved