Tanda Bahaya

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
21/10/2023 05:00
Tanda Bahaya
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

APAKAH ekonomi kita baik-baik saja? Saya, kok, melihat sebaliknya. Ada sinyal mengkhawatirkan dengan stabilitas ekonomi makro maupun kondisi ekonomi mikro kita. Di sisi makro, lampu kuning dinyalakan Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga acuan dari 5,75% menjadi 6%.

BI melihat ketidakpastian global masih sangat tinggi. Selain itu, tingkat inflasi yang dipicu oleh naiknya harga-harga, terutama harga kebutuhan pokok, mesti diredam dengan menaikkan suku bunga. Gejala merambatnya inflasi mulai terlihat, terutama oleh harga beras yang terus-terusan naik, enggan turun.

Di samping itu, ancaman inflasi juga dipicu oleh harga barang impor yang terkerek karena nilai tukar dolar terhadap rupiah yang terus melejit. Kemarin, 1 dolar Amerika Serikat sudah setara dengan Rp15.860. Sudah dua pekan terakhir, rupiah terus rontok atas dolar AS dan berada di atas Rp15.600. Bila suku bunga tidak dinaikkan, bisa-bisa rupiah tembus lebih dari Rp16.000 per dolar AS.

Tapi, sampai kapan BI kuat menjaga rupiah dengan mengerek suku bunga? Kalau suku bunga terus naik, geliat ekonomi yang belum sepenuhnya terjadi akan kembali terhuyung. Pukulan bakal makin dirasakan banyak sektor. Sebab, ekspektasi sektor riil ialah BI menahan suku bunga di 5,75%.

Penyebab rupiah terus melemah tidak terlepas dari kecenderungan perilaku pasar keuangan ataupun investor yang lebih memilih memegang uang kertas dolar, alias fenomena cash is the king. Kecenderungan itu dipicu oleh terus bertahan tingginya suku bunga di negara-negara maju, khususnya kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed.

Pada saat bersamaan, pemerintah AS menaikkan suku bunga imbal hasil surat berharga negara bertenor jangka panjang. Tidak hanya surat berharga yang bertenor 10 tahun yang dinaikkan imbal hasilnya, tapi juga yang bertenor 20 hingga 30 tahun. Akibatnya, aliran modal dari negara emerging market termasuk Indonesia berbondong-bondong keluar untuk pulang kampung ke AS.

Dari sisi makro, kelihatan bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi kita kian kedodoran dari aspek kualitas. Pertumbuhan ekonomi di atas 5% belum melahirkan pemerataan yang signifikan. Pertumbuhan itu masih dinikmati lapisan kecil masyarakat yang diuntungkan karena menerima windfall atau durian runtuh tingginya harga komoditas.

Mayoritas rakyat justru kian tercekik oleh harga-harga kebutuhan pokok yang terus membubung. Dalam kurun waktu setahun, dari September 2022 ke September 2023, harga beras melonjak 13,78%, menyentuh rekor kenaikan harga beras tertinggi. Sialnya, walau harga beras naik, petani tetap gagal menikmati keuntungan dari naiknya harga tersebut karena para pedaganglah yang bisa mengotak-atik harga beras.

Apalagi, setelah India menyetop keran ekspor beras ke seluruh negara demi mengamankan stok dalam negeri. Kondisi psikologis bakal munculnya 'kelangkaan' beras inilah yang memicu pasokan beras ditahan sehingga harga mahal. Bulog tidak cukup punya 'nyali' untuk menyerap beras petani di harga yang sudah ditentukan karena bisa merugi.

Jadi, yang tercekik harga beras bukan saja konsumen beras, melainkan juga petani produsen beras itu sendiri. Situasi perekonomian riil yang kian sulit dirasakan rakyat, terutama rakyat kecil, seperti ini sudah terjadi sejak awal tahun. Ketimpangan pendapatan, risiko memburuknya kualitas modal manusia (pendidikan dan kesehatan), dan ketimpangan gender muncul di mana-mana. Perekonomian memang berangsur membaik, tetapi pemulihannya timpang. Ada yang naik dan ada yang turun seperti huruf K.

Mereka yang memiliki tabungan unggul. Namun, mereka yang tidak punya tabungan terpuruk. Data dari Survei Konsumen Bank Indonesia kuartal I 2023 menunjukkan penurunan porsi tabungan terhadap total pendapatan yang paling dalam terjadi pada kelompok pengeluaran Rp3 juta ke bawah. Sebaliknya, tabungan untuk kelompok menengah atas (pengeluaran Rp5 juta ke atas) justru meningkat.

Secara umum, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan turun 2,1%, dari 17,7% pada April 2023 menjadi 15,6% pada Mei 2023. Seturut dengan itu, porsi utang terhadap pendapatan membengkak, dari 6,7% menjadi 7,6%. Itu artinya tabungan mengempis, utang mengembang.

Kondisi sebaliknya, berbagai upaya pemulihan ekonomi sejauh ini lebih banyak menguntungkan orang kaya. Data Lembaga Penjamin Simpanan mengonfirmasikan jumlah simpanan rekening di atas Rp5 miliar mencapai lebih dari Rp4.000 triliun. Tabungan orang kaya itu meningkat pesat, tumbuh 9,6% secara tahunan per Maret 2023. Sebaliknya, simpanan di bawah Rp100 juta hanya tumbuh 3,6%.

Angka-angka statistik itu kiranya jadi panduan utama untuk menentukan mana pembangunan prioritas dan mana proyek-proyek yang bisa ditunda. Sebab, sinyal bahaya perekonomian kita terus menyala. Kombinasi guncangnya ekonomi makro dan mirisnya ekonomi mikro ialah problem 'hari ini' yang mesti diselesaikan 'hari ini'. Tidak cukup banyak waktu untuk membereskannya.

Jika tidak lekas, kita bisa meratapi nasib seperti penggalan lirik lagu Blowing in the Wind karya Bob Dylan: How many deaths will it take till he knows, that too many people have died (Berapa banyak kematian yang dibutuhkan, sampai dia tahu, itu terlalu banyak).



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.