Kolonialisme Ekonomi

Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group
10/10/2023 05:00
Kolonialisme  Ekonomi
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

JIKA Anda mengenal musuh dan mengenal diri Anda sendiri, kata Sun Tzu, seorang jenderal dan filsuf Tiongkok yang hidup lebih dari 2.000 tahun yang lalu, Anda tidak perlu takut akan hasil dari seratus pertempuran.

Salah satu The Art of War Sun Tzu sangat relevan untuk melihat kedigdayaan ekonomi Tiongkok yang telah menguasai perekonomian dunia. Ekspansi ekonomi negeri yang berjuluk ‘Tirai Bambu’ itu mampu melumat kekuatan ekonomi sejumlah negara dengan strategi harga murahnya, termasuk Indonesia.

Perekonomian Tiongkok cukup mengagumkan, meningkat sebesar 6,3% pada kuartal kedua 2023 jika dibanding pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut didorong oleh pemulihan penjualan ritel dan sektor jasa. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang mengilap (6,3%) meskipun masih di bawah ekspektasi pasar (7,3%), mendorong pengembangan produk-produk negara tersebut ke pasaran dunia secara masif.

Produk impor Tiongkok di Indonesia, misalnya, nyaris tak terbendung. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor nonmigas Indonesia dari Tiongkok melonjak 43,71% pada Mei 2023 jika dibandingkan dengan April 2023.

Secara pangsa pasar, barang impor terbanyak yang masuk ke Indonesia berasal dari Tiongkok, Jepang, dan Thailand. Data Mei 2023 menunjukkan porsi impor asal Tiongkok mencapai 32,80%, disusul Jepang 8,76%, dan Thailand 5,51%.

Serbuan produk impor, khususnya dari Tiongkok, membuat produk lokal tak berdaya. Produk impor itu menjual secara leluasa, baik melalui daring maupun luring. Produk impor dari Tiongkok dijual dengan harga sangat murah dan kualitas relatif baik. Terlebih produk impor yang dijual melalui Tiktop Shop (sekarang ditutup) dan e-commerce.

Melalui algoritma media sosial, Tiongkok mampu mengetahui kebutuhan pasar di Tanah Air secara akurat. Mereka mampu membaca karakter konsumen Indonesia, seperti status sosial ekonomi, harga, geografis, dan demografis. Alhasil, dengan data tersebut produk dari Tiongkok, pakaian jadi, misalnya, sudah menaklukkan pasar Indonesia sehingga industri pakaian jadi dan tekstil di Tanah Air pun gulung tikar, seperti di Jawa Barat.

Belum lagi serbuan produk impor ilegal membuat produk lokal semakin sekarat. Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) menyebut, serbuan tekstil impor yang masuk secara ilegal telah membuat industri di dalam negeri tumbang.

Menteri Koperasi dan UKM mencatat impor pakaian dan alas kaki ilegal mencapai 41% sepanjang 2022. Sementara impor yang tidak tercatat, termasuk impor ilegal pakaian dan alas kaki mencapai 31%. Dalam paparannya, Senin (27/3), nilai barang yang tidak tercatat, termasuk barang ilegal pada 2022, senilai Rp104,4 triliun. Teten menyebut kehadiran barang impor ini melukai pelaku UMKM di sektor kecil dan produk tekstil, terutama impor ilegal.

Presiden Joko Widodo mengakui Indonesia sudah dijajah secara ekonomi dengan masifnya barang impor di e-commerce. Karena itu, kata Presiden, Indonesia harus menjadi negara produsen. "Jangan mau kita terkena juga kolonialisme di era modern ini. Kita enggak sadar tahu-tahu kita sudah dijajah secara ekonomi," ujar Jokowi di depan Peserta Program Pendidikan Lemhannas Tahun 2023, di Istana Negara pada Rabu (4/10).Iya berharap Indonesia bisa menguasai pasar ekspor, setidaknya di Asia Tenggara (ASEAN).

Indonesia sudah daurat barang impor. Pemerintah tampak terlambat mengantisipasi serbuan produk impor sehingga produk lokal, terutama yang dikelola usaha mikro kecil menengah (UMKM), terkapar tak berdaya. Padahal, hajat hidup orang banyak tergantung pada sektor ini. Kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto mencapai 60,5%. Selain itu, penyerapan tenaga kerja sektor UMKM ialah 96,9% dari total penyerapan tenaga kerja nasional.

Pemerintah harus memiliki keberpihakan terhadap sektor UMKM. Caranya ialah memberikan suntikan permodalan, meningkatan kualitas dan kapasitas, mengurangi biaya tinggi, dan melapangkan jalan untuk bersaing di pasar domestik dan ekspor.

Saatnya, pemerintahan Jokowi memberikan atensi yang besar. Buat apa gemerlap pembangunan infrastruktur yang ternyata berdampak utang luar negeri yang menggunung, sedangkan produk lokal, termasuk yang diciptakan UMKM megap-megap menunggu sakaratul maut karena tak kuat bersaing dengan produk impor.

Jika tidak ada upaya, Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) yang dikumandangkan Presiden Jokowi hanya slogan kosong yang menjadi legasi buruk di akhir jabatan. Tuntutlah ilmu ke negeri China, demikian bunyi sebuah hadis, memberikan petunjuk agar pemerintahan Jokowi tak perlu malu meniru keberpihakan pemerintahan Xi Jinping terhadap UMKM. Tabik!



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.