Kekuatan Influencer

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media G
21/9/2023 05:00
Kekuatan Influencer
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media G(MI/Ebet)

ISTILAH influencer atau pemengaruh kian populer, sekurangnya dalam satu dekade terakhir ini, seiring dengan lajunya era digital dan perkembangan media sosial. Menjadi sebuah tren global, ketika seseorang yang memiliki pengikut (follower) di media sosial dalam jumlah banyak, didayagunakan untuk memengaruhi perilaku ataupun pilihan pengikutnya di media sosial dan publik pada umumnya.

Pada awalnya para aktor digital itu lebih banyak dimanfaatkan untuk tujuan komersial atau pemasaran produk dan jasa. Dalam tingkatan paling sederhana, mereka mungkin sebatas di-endorse untuk mengiklankan produk di media sosial. Ya, mirip-mirip iklan di televisi lah, cuma platformnya saja yang kini berbeda.

Seiring waktu, levelnya naik, keterlibatan para influencer tak sekadar disuruh cuap-cuap atau berakting memamerkan produk. Mereka juga mulai terlibat atau dilibatkan secara aktif dalam sosialisasi dan kampanye brand (merek) produk atau jasa yang meng-endorse-nya. Keberhasilan mereka eksis di media sosial maupun di dunia nyata sehingga bisa meraup ribuan, bahkan jutaan pengikut, dijadikan inspirasi.

Ujung-ujungnya sih tetap jualan, tapi pakai gaya yang berbeda menyesuaikan dengan tren yang berkembang saat ini yakni social commerce. Memasukkan unsur inspiratif menjadi salah satu ciri social commerce yang membedakannya dengan e-commerce (lokapasar) pada umumnya.

Berkembang lagi, influencer tak lagi melulu jualan atau mempromosikan barang konsumsi, tapi juga mengungkit isu-isu di sektor lain. Dalam beberapa tahun belakangan banyak lahir influencer tekun menebar pesan-pesan kebaikan pada isu lingkungan, pendidikan, kesehatan, bahkan politik dan hukum. Mereka mencoba memberikan dampak positif bagi publik, seperti seharusnya seorang influencer berperilaku.

Namun, yang namanya pengaruh (influence), selalu ada yang baik, ada pula yang buruk. Influencer juga sama. Pengaruh yang mereka miliki tidak melulu digunakan untuk mempromosikan hal-hal yang positif. Sebagian dari mereka, pengaruhnya malah digadaikan untuk memasarkan atau mengampanyekan hal-hal negatif.

Contohnya banyak. Beberapa waktu lalu, misalnya, marak diberitakan soal platform investasi bodong yang menyewa sejumlah influencer yang dipoles seolah-olah 'crazy rich' untuk menggaet korban. Benar saja, banyak orang kena tipu dan menanamkan uang di investasi abal-abal itu. Hasilnya ambyar, imbal hasil investasi tak didapatkan, uang yang ditanamkan pun hilang.

Belakangan, beberapa influencer termasuk artis dan selebgram juga ketahuan mempromosikan judi online. Boleh jadi atas sumbangsih mereka juga, judi online yang sesungguhnya adalah barang haram di negeri ini menjadi digandrungi masyarakat dan mampu memutar uang panas hingga puluhan triliun rupiah setiap tahun.

Pada isu politik pun bad influencer berderet jumlahnya. Mereka, para influencer tersesat itu, sebagian bersalin rupa menjadi buzzer (pendengung). Mereka konsisten mendengungkan pengaruh buruk lewat media sosial, bahkan terkadang tak segan untuk menyebar berita-berita bohong dan fitnah untuk menjatuhkan lawan.

Sesungguhnya, teramat sayang jika pengaruh besar yang dipunyai para pemengaruh itu malah dipakai untuk sesuatu yang nirguna, bahkan untuk hal-hal yang merusak. Mereka punya daya guna, tapi yang disodorkan justru daya rusak. Mereka tidak sadar kerusakan yang ditimbulkan dari penggunaan pengaruh yang melenceng itu bisa luar biasa besarnya.

Padahal, dalam hal-hal tertentu, influencer dinilai memiliki kekuatan yang lebih besar, bahkan ketimbang pers atau media arus utama sekalipun, untuk memengaruhi keputusan publik. Bayangkan kalau kekuatan sebesar itu tidak dipakai untuk membangun, tapi justru untuk merusak. Impaknya akan sangat dahsyat, dan siapa lagi kalau bukan publik yang akan menanggungnya?

Dalam konteks politik kebangsaan hari ini, sejatinya kita membutuhkan lebih besar lagi kiprah para pemengaruh di media sosial. Dengan jumlah penduduk berusia muda lebih banyak ketimbang yang tua, kiranya para aktor digital itulah yang akan lebih didengar, diikuti, dan dijadikan teladan. Karena itu, harus dicatat, yang dibutuhkan negara ini ialah pemengaruh baik, bukan pemengaruh buruk.

Di sisi lain, dunia politik penting bagi influencer karena ia identik dengan kekuasaan. Politiklah sesungguhnya kasta tertinggi bagi seorang influencer bila ia ingin menebar pengaruh sekaligus gagasannya kepada publik yang lebih luas. Bukankah dengan menggenggam kekuasaan ia akan lebih mudah untuk merealisasikan gagasan-gagasan itu?

Namun, jangan pula kebablasan. Setelah berkuasa, jangan balik ke mode awal jadi tukang endorse produk, apalagi meng-endorse calon penggantinya.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.