Sakralitas Azan

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
13/9/2023 05:00
Sakralitas Azan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

NEGERI ini kerap heboh saat menyikapi azan. Pernah suatu ketika terjadi ketegangan tingkat tinggi tersebab suara azan via pelantang suara dianggap kelewat melengking. Seorang warga yang terusik dan merasa keberisikan oleh suara muazin via pelantang suara melabrak pengurus masjid.

Suhu kian mendidih saat Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyikapi peristiwa itu dengan membuat analogi yang oleh sebagian kalangan dinilai offside. Lengkingan suara yang teramat keras (termasuk suara azan), kata Menag, bisa membuat orang terusik. "Bayangkan kalau ada dari kita yang mendengar lolongan anjing tetangga dalam waktu lama, pasti kita terganggu," kata Menag.

Perbandingan lengkingan keras suara azan lewat pelantang suara dengan lolongan anjing tetangga itulah yang disoal. Tidak pantas suara azan disepadankan dengan lolongan anjing tetangga. Suara azan itu sakral, sedangkan lolongan anjing tetangga itu profan.

Menteri Agama memilih diam. Tapi, diam-diam, ia menyiapkan aturan. Lalu, muncullah surat edaran Menteri Agama Gus Yaqut yang mengatur volume pelantang suara masjid dan surau. Aturan ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama No SE 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

Aturan ini, tulis surat edaran itu, diterbitkan salah satunya untuk meningkatkan ketenteraman, ketertiban, dan keharmonisan antarwarga. Demi menciptakan hal-hal itu, maka salah satu isi di surat edaran tersebut ialah mengatur tentang volume pelantang suara (banyak juga yang menyebut pengeras suara) paling besar 100 dB (seratus desibel).

Menaikkan volume pelantang suara untuk azan, bacaan Al-Quran, dan lain-lain di atas 100 dB dianggap melanggar. Maka, pelanggar surat edaran akan ditegur, diperingatkan, atau bisa saja dilakukan pencabutan pelantang suara luar dari masjid dan musala.

Ada beragam respons dari publik atas surat edaran itu. Ada yang menganggap negara telah menghalang-halangi warganya untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya. Tapi, banyak pula yang menyambut poisitif surat edaran itu dan menyebutnya sebagai bentuk kehadiran negara.

Untungnya, pro-kontra itu tidak berlarut. Boleh jadi karena memang surat edaran itu efektif. Bisa juga banyak yang mulai 'kebal' dan tidak mempersoalkan lagi kelantangan suara azan. Untuk sejenak, kegaduhan di ranah publik soal azan meredup.

Hingga, dalam beberapa hari terakhir, publik kembali dibuat gaduh oleh kehadiran sesosok politikus berambut putih muncul dalam tayangan azan magrib di televisi MNC Group milik Hary Tanoesoedibjo, Ketua Umum Partai Perindo. Politikus berambut putih itu ialah Ganjar Pranowo, bakal capres yang dideklarasikan PDI Perjuangan dan didukung Partai Perindo.

Banyak yang menilai pemunculan Ganjar sebagai 'model' di tayangan azan magrib itu sebagai iklan terselubung. Tidak sedikit pula yang menganggap itu sebagai bentuk politik identitas, menunggangi azan untuk kepentingan politik. Tapi, di kalangan pendukung Ganjar, itu bukan politik identitas, melainkan potret dari keseharian Ganjar yang menurut mereka memang religius. Jadi, "Itu urusan privat seseorang yang kebetulan bernama Ganjar Pranowo," kata politikus PDI Perjuangan Kapita Ampera.

Tapi, bagi para pengamat, tampilnya Ganjar dalam tayangan azan magrib di televisi milik parpol pendukungnya sulit untuk disebut sebagai sekadar ekspresi religiositas seorang manusia. "Frekuensi televisi itu milik publik. Berarti, tayangan itu ditujukan kepada publik. Jadi, wajar kalau itu menjadi urusan publik. Dan, kemunculan Ganjar di tayangan itu jelas-jelas iklan. Menggunakan tayangan azan untuk iklan itu dilarang," kata pengamat komunikasi yang juga politikus PSI, Ade Armando.

Meletakkan azan yang sakral, untuk tujuan sakral, dalam bingkai yang sakral, kiranya bukan perkara gampang. Kesakralan azan mestinya terbebas dari tujuan mengusik orang lain oleh lantangan suara yang kelewat memekikkan. Begitu pun tayangan azan, mestinya tidak boleh dicampuri oleh tujuan politik.

Saya sepakat dengan pandangan Afaf Nasher, Direktur Eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam cabang New York, yang mengatakan, "Suara azan bukan sekadar azan. Ini adalah seruan untuk persatuan, refleksi, dan komunitas."

Nasher merespons positif keputusan Wali Kota New York Eric Adams yang mengizinkan umat Islam mengumandangkan azan dengan lebih bebas setiap Jumat dan waktu magrib selama bulan suci Ramadan. Aturan itu mulai berlaku di New York, awal bulan ini.

Kalau New York yang mayoritas penduduknya, juga pemimpinnya, nonmuslim saja bisa menghormati sakralitas azan, logikanya di negeri ini, yang mayoritas penduduk dan pemimpinnya muslim, lebih bisa terjadi. Dalam sakralitas itu mestinya tidak ada politisasi atau 'gayaisasi' azan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.