Konoha, Wakanda

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
02/9/2023 05:00
Konoha, Wakanda
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ANUGERAH terbesar bagi perorangan atau bangsa ialah abhaya, ketidaktakutan. Bukan keberanian jasmani semata, melainkan juga tidak adanya ketakutan dalam alam pikiran. (Jawaharlal Nehru)

Dalam sepekan ini, soal 'rasa takut' menjadi perbincangan hangat di kalangan publik. Pemantiknya, pidato bakal capres Anies Baswedan di depan sivitas akademika FISIP Universitas Indonesia. Anies memberikan kuliah kebangsaan bertajuk Hendak ke mana Indonesia Kita? Gagasan, Pengalaman dan Rancangan Para Pemimpin Masa Depan, Selasa (29/8) lalu.

Ketika itu, Anies menyinggung soal Konoha dan Wakanda, desa dan negeri fiksi dalam anime Naruto dan film Black Panther. Konoha dan Wakanda kerap menjadi sarkasme dari penggambaran kondisi Indonesia yang semrawut dengan berbagai permasalahannya. Kata-kata Konoha dan Wakanda selalu muncul di komentar-komentar ataupun konten-konten di media sosial.

Anies mengaitkan dua kampung halaman imajiner itu dengan kualitas demokrasi kita yang kian turun. Salah satu indikatornya, mulai muncul rasa takut untuk mengkritik dan berbeda. Bentuknya, menyamarkan kata 'Indonesia' menjadi 'negeri Konoha' atau 'Wakanda' saat menuliskan kritik di media sosial.

Anies mulanya bicara soal kualitas demokrasi yang harus ditingkatkan. Dia menilai demokrasi bukan hanya soal pemilu. "Kita tadi salah satu menyebut kebebasan berekspresi. Demokrasi itu bukan hanya ada pemilu atau tidak, tapi demokrasi itu nilai-nilai yang tumbuh di dalam masyarakat," kata Anies.

Dia menilai demokrasi ialah ketika aspirasi diproses tanpa rasa takut. Aspirasi itulah yang kemudian menjadi keputusan dan dilaksanakan. "Di mana aspirasi bisa diproses melalui proses politik tanpa rasa takut tanpa tekanan dan kemudian nantinya bisa jadi keputusan-keputusan yang dilaksanakan semuanya dalam kedamaian," jelasnya.

Anies kemudian menyinggung fenomena banyak warga menggunakan kata 'Konoha' atau 'Wakanda' saat menyampaikan kritik. Dia menyebut hal itu merupakan salah satu masalah. Hal itu menjadi pertanda ada sensor dalam diri warga. Bukan cuma itu, kata Anies, ada yang mengkritik polusi udara Jakarta malah menggunakan nama Kota Lahore.

Konoha, Wakanda, dan belakangan bertambah Lahore boleh jadi sekadar seloroh. Tidak serta merta bentuk ketakutan. Tapi, bukan tidak mungkin penggunaan kata-kata penyamaran itu merupakan benih-benih ekspresi rasa takut yang mulai bersemi. Karena itu, apa yang disampaikan Anies menjadi semacam wake up call bagi jalan demokrasi kita yang potensial meleset dari rel bila tidak dibenahi.

Dulu, di era Orde Baru, kasus mirip-mirip 'Konoha', 'Wakanda', dan 'Lahore' ini kerap terjadi. Sejumlah aktivis, misalnya, memelesetkan nama Presiden Soeharto dengan 'Soeharno yang jualan bakso', saat ngrasani penguasa Orde Baru itu sambil berbisik. Atau, biasanya dikasih embel-embel, "Yang saya ceritakan tadi kejadian di Kutub Utara, bukan di sini."

Begitulah kiranya ketika ekspresi dalam bentuk kebebasan berpendapat dikekang, bahkan diteror, orang menyamarkan pembicaraan dengan sebutan yang dipelesetkan. Semua itu menunjukkan satu hal: kian bertumbuhnya rasa takut. Kini, rasa takut itu bukan saja berasal dari kekuasaan langsung, melainkan bisa datang dari para pengikut tegak lurus penguasa. Dalam kondisi seperti itu, demokrasi terancam oleh mobokrasi.

Tanda-tanda bahwa kebebasan berekspresi mulai terancam bisa juga dirunut pada indeks kebebasan pers. Pekan ini, Dewan Pers merilis Survei Indeks Kemerdekaan Pers (IKP) 2023. Hasilnya, Indeks Kebebasan Pers Indonesia tahun 2023 menurun. Tahun ini, nilai IKP nasional turun menjadi 71,51. Padahal, sebelumnya, di tahun 2022, indeks itu masih ada di angka 77,88.

Para informan ahli yang disurvei merupakan representasi dari unsur state, civil society, dan korporasi. Benar bahwa angka yang turun itu masih berada pada standar indeks kemerdekaan pers. Namun, penurunan poin yang relatif tajam itu jelas alarm yang mesti jadi evaluasi betapa kemerdekaan berekspresi mulai terusik. Mulai muncul rasa takut untuk berbeda.

Negeri ini masih memiliki harapan yang tetap menjadi sesuatu yang indah bagi manusia. Ia menjanjikan masa depan penuh warna-warni bunga. Harapan itu sesuatu yang membebaskan. Namun, manusia sendirilah yang justru menciptakan makhluk lain untuk membunuh harapan-harapan yang ada di rongga dada. Makhkuk itu ialah ketakutan.

Rasa takut, bila dibiarkan, akan menolak eksistensi hak asasi manusia. Rasa takut itu hidup di bawah atap kekuasaan yang juga dihantui ketakutan. Rasa takut itu meringkuk di bawah ketakutan yang membunuh harapan, mematikan perubahan.

Apakah rasa takut di negeri ini makin pekat oleh kekuasaan yang juga dicekam ketakutan? Semoga memang itu hanya terjadi di Konoha dan Wakanda.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.