Paradoksal Negeri Religius

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
04/8/2023 05:00
Paradoksal Negeri Religius
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KETIKA menghadiri acara Zikir dan Doa Kebangsaan 78 Tahun Indonesia Merdeka di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (1/8), Presiden Jokowi mengucap syukur karena Indonesia merupakan negara paling religius di dunia. Dia bilang, tingginya religiusitas ialah modal bagi bangsa untuk mengarungi kehidupan yang sarat terpaan badai dan topan.

Pak Jokowi menyebut, berdasarkan survei internasional yang pernah dia baca, 96% masyarakat Indonesia percaya kepada Tuhan. ''Angka ini ialah tertinggi di dunia. Alhamdulillah tertinggi di dunia,'' begitu katanya.

Pak Jokowi benar. Sejumlah survei menunjukkan bahwa Indonesia memang menjadi salah satu negara paling religius, paling percaya pada ajaran agama. Yang disebutkan Pak Presiden itu ialah sigi Pew Research Center bertajuk The Global God Divide yang menghasilkan 96% responden kita menganggap seseorang mesti beriman kepada Tuhan untuk dapat bermoral, lalu 98% menganggap agama penting dalam hidup mereka.

Majalah CEOWORLD dan Global Business Policy Institute juga pernah melakukan survei untuk mengukur tingkat religiusitas di 148 negara. Hasilnya, Indonesia masuk 10 besar, tapi bukan yang paling religius. Kita berada di posisi tujuh dengan skor 98,7. Posisi puncak ditempati Somalia dengan nilai 99,8, disusul Nigeria (99,7), Bangladesh (99,5), Etiopia (99,3), Yaman (99,1), dan Malawi (99).

Hasil jajak pendapat yang dihelat Statista Global Consumer Survey mirip-mirip. Indonesia masuk jajaran negara yang tingkat religiusitasnya 80-99%. Peringkat pertama di daftar ini ialah Peru. Ada pula empat negara Asia Tenggara lainnya, yakni Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina.

Yang agak berbeda ialah hasil survei oleh US News terhadap 17.000 warga dari negara pada 2022. Di survei ini, Arab Saudi bercokol di posisi teratas mengungguli Israel, sedangkan Indonesia tak masuk 10 besar.

Percaya kepada Tuhan ialah kompas, penuntun hidup. Ia ialah padom, penunjuk arah, sehingga dengan bersandar padanya kita tak akan tersesat. Kalau punya kompas, jika memiliki padom, bisalah kita tenang hati. Pertanyaannya, apakah tinggi-rendahnya tingkat religiusitas berbanding lurus dengan maju-mundurnya sebuah bangsa?

Sayangnya, hasil survei justru berkebalikan. Negara-negara maju pada umumnya malah tak masuk jajaran bangsa religius. Siapa yang meragukan majunya peradaban Kanada, Finlandia, Swedia, Inggris, Spanyol, Prancis, Jerman, Australia, atau Korea Selatan? Namun, soal religiusitas, tingkatan mereka hanya 40-59%. Siapa yang menyangsikan kehebatan Tiongkok dan Jepang? Asal tahu saja, tingkat religiusitas kedua negara cuma 20-39%.

Jika begitu, buat apa orang percaya agama? Tunggu dulu. Semua agama mengajarkan kebaikan, mendorong kemajuan, meninggikan peradaban. Semua agama melarang manusia berbuat keburukan, menebar kerusakan. Jadi, kalau korelasi dengan fakta tak linear, yang salah pasti bukan agama, tetapi orangnya.

Agama mengharamkan yang haram-haram, tapi banyak orang termasuk di negeri ini pilih-pilih mana yang haram. Mereka setengah mati menolak makanan haram, tetapi getol mencari uang dengan cara yang haram. Maka, tak mengherankan jika di negara-negara religius, termasuk negeri ini, korupsi merajalela.

Agama mengajarkan bahwa kebersihan sebagian dari iman. Namun, di negara-negara religius, kemauan dan semangat untuk hidup bersih tetap saja langka. Masih banyak lagi paradoks antara ajaran agama dan perbuatan masyarakat di negeri religius. Agama mengajarkan ini orang melakukan itu. Agama menuntun ke sini, mereka maunya ke sana.

Beda jauh dengan negara-negara yang tingkat religiusitasnya rendah. Di sini, di negeri semacam inilah yang sesungguhnya mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Barangkali petikan puisi Ketika Agama Kehilangan Tuhan yang pernah beredar luas ini bisa menjadi perenungan kenapa negara-negara religius malah tertinggal dari mereka yang kurang religius: Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala, Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama.

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu. Tuhan pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya.

Dulu orang belajar agama sebagai modal untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja....

 

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.