Pemimpin Kagetan

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
03/8/2023 05:00
Pemimpin Kagetan
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ADA falsafah Jawa yang sampai saat ini masih relevan kita simpan sebagai pegangan mengarungi hidup: ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, makna falsafah yang sejatinya bersumber dari pesan pujangga Ranggawarsita itu, kira-kira, ialah 'jangan gampang kaget/terkejut, jangan gampang heran/terpukau, jangan mentang-mentang'.

Dalam bidang apa pun, untuk siapa pun, sampai kapan pun, ajaran 'tiga jangan' itu tampaknya bisa masuk. Terlebih buat para pemimpin dan calon pemimpin, baik pemimpin di lingkup terkecil maupun level yang paling besar seperti negara. Kiranya bakal lebih dekat kepada kemudaratan kalau kita punya pemimpin yang kagetan, gumunan, sekaligus suka mentang-mentang atau aji mumpung.

Mungkin tidak perlu sampai tiga-tiganya. Satu saja dulu soal kagetan. Satu sifat itu saja sudah mencerminkan bukan ciri-ciri pemimpin yang baik. Orang yang suka kagetan konon jiwanya kecil. Lantas bagaimana kalau orang yang jiwanya kecil itu harus memimpin orang banyak dengan semua persoalan dan tantangan yang harus ia panggul di pundaknya? Bisa-bisa kerjanya hanya terkaget-kaget setiap hari.

Lebih celaka lagi kalau sikap kagetan itu ditunjukkan hanya sebagai gimik. Berpura-pura mudah kaget demi menarik simpati. Pura-pura terkejut mendengar harga telur ayam sampai Rp40 ribu/kilogram saat blusukan, misalnya, cuma biar kelihatan punya empati dan kepedulian terhadap apa yang dirasakan masyarakat banyak. Padahal, sebagai pemimpin atau calon pemimpin, ia mestinya tahu persis akar persoalannya melalui data dan fakta yang selalu ia dapatkan.

Yang ditunggu dari seorang pemimpin ialah kebijaksanaan dan solusi atas permasalahan yang ada, bukan wajah atau malah topeng kekagetan. Bila pemimpin mudah kaget (betulan), sedikit-sedikit kaget atas kondisi rakyatnya, sangat mungkin ia akan lebih sering mengambil kebijakan reaksioner, hanya didasari emosional tanpa konsep dan analisis yang jelas. Ujung-ujungnya, kebijakannya bisa keliru atau jauh dari kata solusi.

Lain lagi kalau pemimpin suka memamerkan kekagetan palsu, boleh jadi dia bahkan tidak bakal menawarkan solusi apa-apa karena memang bukan itu tujuan dia. Menemukan jalan keluar jadi urusan nomor sekian, syukur-syukur ada, tapi kalau tidak ada ya tidak masalah. Yang penting dia sudah menunjukkan empati (dengan kekagetannya) dan di saat yang sama ia berharap simpati publik balik datang ke dia.

Kata The Beatles, kehidupan ini ibarat 'long and winding road''. Kadang kita disuguhi jalanan yang lurus dan mulus, tetapi tikungan, kelokan, bahkan jalan terjal juga akan selalu muncul dan mesti dilewati. Di balik turunan pasti ada tanjakan, begitu adagium yang kerap jadi patokan para pehobi sepeda alias goweser.

Begitu pun dalam kehidupan berbangsa, dinamika persoalannya tak pernah berhenti, apalagi berakhir. Kalau yang kita hadapi jalanan mulus terus, barangkali tidak terlalu masalah punya pemimpin kagetan. Namun, bagaimana ketika tiba-tiba jalan terjal berliku nongol di depan mata, apa iya kita mau membiarkan si pemimpin kagetan menuntun langkah kita, sementara dia sendiri terkaget-kaget sepanjang jalan?

Kalau sudah begini, tampaknya masyarakat yang harus lebih cerdas menyikapi. Terutama bagi golongan generasi muda, jangan malah ikut-ikutan kagetan. Biarlah perilaku itu jadi gimik orang-orang tua kolot yang secara fisik dan usia memang makin gampang terkena serangan kagetan.

Jika bicara dalam konteks memilih pemimpin negeri, publik masih punya waktu sekitar tujuh bulan sebelum pelaksanaan Pemilu 2004, Februari 2024 mendatang. Dengan tidak ikut gampang terkena sindrom kaget, rakyat bisa lebih matang dalam memilah mana pemimpin atau calon pemimpin yang kagetan dan mana yang tidak. Mana pula pemimpin yang hanya mengandalkan reaksi dan mana pemimpin yang memiliki visi.

Tidak seperti dulu, kini informasi soal calon pemimpin atau wakil rakyat melimpah ruah di ruang-ruang dunia maya. Visinya apa, rencana programnya bagaimana, rekam jejaknya seperti apa, arah politiknya ke mana, dan rupa-rupa informasi lain. Begitu pula informasi dan data perihal isu-isu nasional bahkan global, di berbagai sektor, yang akan menjadi tantangan bangsa ini ke depan.

Semua terpampang lebar di era keterbukaan informasi. Jadi, sebetulnya tidak ada alasan buat kita untuk ikut-ikutan menjadi masyarakat yang kagetan, gampang terbengong-bengong, atau bahkan jadi masyarakat yang mudah terpukau alias gumunan.

Kalau masih gampang terkaget-kaget, masih suka terbengong-bengong, berarti tidak ada bedanya dengan pemimpin yang kagetan. Antara malas menggali informasi, fakta, dan data, atau memang mereka sedang berpura-pura bodoh.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.