Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUBAHAN itu keniscayaan. Kata Konfusius, hanya orang yang paling bijaksana dan paling bodoh yang tidak pernah berubah. Untuk meningkatkan diri, tegas Winston Churchill, berarti orang mesti berubah. Menjadi sempurna itu, lanjutnya, berarti sering berubah.
Namun, di negeri ini, hari-hari ini, kata perubahan sangat ditakuti oleh sebagian orang, kendati amat dirindukan banyak orang. Mereka yang takut akan perubahan umumnya lalu menakut-nakuti publik bahwa perubahan itu berbahaya. Perubahan itu dianggap teror yang mengganggu kenyamanan, bahkan bisa merusak tatanan.
Padahal, perubahan tidak selalu dari nol. Bisa memang dari nol karena salah perencanaan dan berpotensi jauh menyimpang di kemudian hari. Namun, perubahan bisa saja dari angka 50, bahkan dari 80, menuju angka 100. Berubah itu bisa dari gelap menuju terang, atau dari terang menuju lebih benderang lagi.
Namun, bagi sebagian orang, terutama mereka yang mapan, perubahan itu bakal amat menyiksa. Perubahan bisa mengusik zona nyaman, mengganggu status quo, membuat gaduh, biang kekagetan. Narasi bahwa perubahan itu buruk kian dikemukakan.
Namun, barangkali itu terjadi karena bobot politik lebih diberi garis tebal ketimbang substansi. Kata perubahan selalu dicurigai karena boleh jadi ia berasal dari pilihan politik yang berbeda. Jadi, sebaik dan sepenting apa pun perubahan itu, ia menjadi buruk karena digemakan oleh kaum 'seberang' sana.
Apa yang dikemukakan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, kemarin, misalnya, sulit untuk disebut 'tidak berkaitan dengan politik'. Saat memberikan sambutan secara daring di sebuah forum bisnis itu, Luhut menyinggung pihak yang mau membuat perubahan. LBP, singkatan nama Luhut, menyatakan tidak setuju dengan perubahan itu.
"Jadi, saya tidak setuju ketika orang mengatakan membuat perubahan. Anda tahu? Apa yang terjadi dengan perubahan?" tanya Luhut.
Luhut lalu menegaskan hal-hal yang wajib dilanjutkan presiden mendatang, yakni industrialisasi melalui hilirisasi, lalu digitalisasi di semua lini, juga program pendidikan berkualitas tinggi yang terjangkau.
Soal pengembangan infrastruktur untuk menyambung konektivitas orang, barang, dan laju informasi juga tidak boleh diutak atik. Selain itu, ada usaha dekarbonisasi untuk mempercepat net zero emission, sambil menangkap peluang di bisnis ekonomi hijau juga mesti dilanjutkan. Terakhir, menyeimbangkan semuanya dengan 'adil' dan menyelesaikan masalah ketidaksetaraan sosial di Indonesia.
Apa yang dikatakan Luhut di atas ialah program yang baik. Namun, apakah semua sudah berjalan menjadi yang terbaik? Jika diibaratkan cahaya, apakah sinar semua program itu sudah sangat benderang sampai ke bumi? Bukankah masih banyak 'mendung' di sana-sini yang menutupi sinar tersebut?
Program menyelesaikan ketidaksetaraan di Indonesia, misalnya. Hingga kini harus diakui, ketimpangan terjadi di banyak titik. Sedikit orang kaya kian mampu menabung kekayaan mereka sehingga jumlah tabungan orang kaya terus tumbuh tiap tahun. Sebaliknya, sebagian besar mereka yang susah, kian susah hidup mereka karena makin 'mantab', makan tabungan.
Begitu juga dengan program hilirisasi, yang terus-menerus dipekikkan telah menghasilkan kenaikan pendapatan ekonomi yang signifikan, tapi tetap meninggalkan jejak kemiskinan di daerah penghasil tambang nikel dan daerah tempat pengolahan nikel didirikan. Itu menandakan bahwa program tersebut masih jauh dari sempurna. Untuk 'kesempurnaan' program-program tersebut, jelas butuh perubahan.
Lalu, mengapa tiba-tiba amat alergi terhadap perubahan?
Padahal, saat Jokowi berkampanye pada Pemilihan Presiden 2014, berkali-kali ia memekikkan janji perubahan. Jokowi, misalnya, berjanji akan ada perubahan di tubuh KPK. Perubahan yang dijanjikan itu di antaranya menambah jumlah penyidik di lembaga antikorupsi itu.
Jokowi juga berjanji jika terpilih menjadi presiden, ia akan membawa perubahan yang fundamental untuk kaum disabilitas. Slogan perubahan juga digemakan Jokowi untuk wilayah perbatasan, mengubah nasib warga pinggiran. Bahkan, Jokowi akan menghela perubahan mental bangsa dengan slogan yang gegap gempita, revolusi mental.
Jadi, jangan takut perubahan. Takutlah justru terhadap kemapanan karena hal itu ialah jebakan. Sebaliknya, kemauan berubah ialah tanda kecerdasan. Seperti kata seorang pemikir, Stephen Hawking, kecerdasan ialah kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved