Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM salah satu bagian ceramahnya yang kini banyak diunggah ulang di media sosial, almarhum KH Zainuddin MZ pernah menyampaikan bahwa masyarakat zaman sekarang ini ibarat daun kering. Apa itu daun kering? "Gampang dikumpulin, sulit diiket, berisik, gampang dibakar," kata ustaz yang kondang dengan sebutan Dai Sejuta Umat itu.
Itulah masyarakat yang menurut dia lebih senang dengan bungkusan, tapi lupa isi. Masyarakat yang mudah kagum oleh citra. Padahal, sesungguhnya semua itu hanyalah hasil polesan semata. Benar kata Pak Kiai, orang-orang seperti ini ketika berkumpul memang akan berisik dan mudah dipanas-panasi, hanya demi membela figur yang citranya begitu mereka kagumi.
Pesan yang serupa pernah juga disampaikan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus melalui postingan di akun Instagram-nya, beberapa waktu lalu. Analogi yang dipakai bukan daun kering, melainkan lato-lato. Gus Mus memasang gambar alat permainan lato-lato disertai teks yang pendek, tapi menusuk, #FatwaAhad: Jika bukan mainan, jangan mau dibentur-benturkan.
Kalimat pendek itu mengandung pesan penting, masyarakat jangan mau dibentur-benturkan, dikutub-kutubkan, apalagi dibakar karena sejatinya kita bukan mainan para penguasa. Terserah saja bila kaum elite mau membangun citra sehebat apa pun, tetapi rakyat tak boleh gampang terbujuk. Pelajari isinya, jangan cuma bungkusnya sehingga kita tidak terjebak pada kekaguman dan pembelaan yang membabi-buta.
Dalam konteks hari ini, publik sedang dihadapkan pada upaya pengotakan antara narasi perubahan dan narasi keberlanjutan. Seolah-olah dua narasi itu seratus persen berseberangan, tidak ada titik irisan dan persamaan sama sekali. Seakan-akan yang properubahan otomatis antikeberlanjutan. Sebaliknya, yang prokeberlanjutan dianggap tak menginginkan perubahan.
Para elite kita sepertinya sudah menyadari masyarakat kita seperti masyarakat daun kering. Gampang mengumpulkannya dan dikasih percikan api sedikit saja mereka akan cepat terbakar. Pun seperti masyarakat lato-lato yang kapan saja harus siap dimainkan dan kapan saja bisa dihentikan seperti halnya bola lato-lato. Suka-suka tangan penguasa yang memainkannya.
Untuk membakar daun-daun, demi menggerakkan bola lato-lato itu diperlukan amunisi. Diperlukan benih untuk memelihara konflik yang mungkin di mata mereka mengasyikkan. Maka, digosok-gosoklah terus pertentangan dua narasi yang sebetulnya tidak bertentangan itu: keberlanjutan versus perubahan.
Padahal, sejatinya kolaborasi dua hal itulah yang menggerakkan sistem dan sendi kehidupan di bumi ini. Keberlanjutan tanpa perubahan, ya omong kosong. Perubahan ialah suatu keniscayaan. Kata Heraclitos, perubahan tak bisa dielakkan. "Segala sesuatu berubah. Satu-satunya yang tidak berubah ialah perubahan itu sendiri," begitu kata filsuf Yunani Kuno itu. Lantas kenapa harus takut dengan perubahan?
Toh, perubahan tak bisa dilakukan secara frontal. Kalau frontal, itu namanya revolusi. Sistem dirombak secara total, semua baru, tak menyisakan buat yang lama. Nah, saat ini, kita tidak sedang dalam situasi yang memaksa terjadinya revolusi, kecuali jika api yang dilempar para elite ke masyarakat daun kering tadi makin membesar, tak terkendali, dan ujungnya malah memakan tuannya sendiri.
Konsep perubahan yang ditawarkan kubu properubahan dalam konteks kontestasi dalam Pemilu 2024 juga tidak dalam artian radikal. Artinya, perubahan mesti dihela, tetapi tanpa maksud menyetop capaian bagus yang sudah diraih. Perubahan tak lantas menafikan hal-hal baik yang perlu dilanjutkan.
Dalam konsepsi Islam, melalui perayaan tahun baru Hijriah, 1 Muharam 1445, kemarin, spirit hijrah, semangat perubahan pun sejatinya mengandung makna evaluasi dan introspeksi diri. Dengan dasar evaluasi dan introspeksi itu, perubahan dilakukan untuk tujuan memperbaiki sekaligus meningkatkan kualitas diri.
Namun, hijrah hendaknya tidak hanya dilakukan dalam tataran individu, tapi juga dalam konteks negara. Semua elemen penyangganya harus bersama-sama menggelorakan spirit perubahan demi perbaikan bangsa ke arah lebih baik. Jangan belum apa-apa negara malah ketakutan dengan narasi perubahan dan kemudian mengerahkan 'pasukan' untuk mereduksi makna perubahan.
Kita, masyarakat kiranya, juga perlu memanfaatkan momentum ini untuk berubah dari masyarakat daun kering menjadi masyarakat daun basah. Tidak hanya lebih kuat dan mudah diikat dalam kesamaan semangat positif, daun basah tidak berisik dan tidak gampang dibakar. Ia juga punya aura menyejukkan. Aura yang amat kita butuhkan di saat suhu dan cuaca politik terus memanas menjelang perhelatan kontestasi politik, tahun depan. Sekali lagi, jangan mau menjadi daun kering.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved