Kisah Klise Berburu Harun Masiku

Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group
08/7/2023 05:00
Kisah Klise Berburu Harun Masiku
Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SAYA mencoba menghitung-hitung, sudah berapa lama Harun Masiku, mantan politikus PDIP itu, buron dari kejaran KPK. Hasilnya ketemu, sudah 1.273 hari sejak Harun dimasukkan dalam daftar pencarian orang (DPO) oleh KPK pada 12 Januari 2020.

Tidak terasa, sudah 43 purnama KPK bak memburu angin. Pengejaran Harun, hingga detik ini, tidak kunjung menemukan titik terang. Kalaupun ada yang muncul, itu hanyalah informasi spekulatif tentang titik lokasi di mana ia berada.

Tapi, KPK tak lelah membagikan informasi spekulatif seperti itu. Spekulasi terbaru informasi keberadaan Harun kembali dikemukakan Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu. Pada Kamis (6/7), atau hari ke-1.271 masa pelarian Harun, Pak Plt Deputi menerangkan KPK telah mendapatkan informasi bahwa bulan lalu Harun bersembunyi di sebuah masjid di negara tetangga.

KPK pun, kata Asep, sempat mengirim tim pada bulan lalu ke negara tetangga setelah mendapat informasi keberadaan mantan caleg PDIP itu. Asep tidak menyebutkan secara benderang, di masjid negara tetangga yang mana Harun sempat singgah. Pokoknya, setelah diburu ke lokasi yang disebut-sebut itu, hasilnya lagi-lagi nihil.

Awal tahun ini, Asep juga mengemukakan informasi bahwa keberadaan Harun sudah terendus KPK. Tahun lalu, kisah serupa juga beberapa kali dikemukakan oleh lembaga antirasuah itu. KPK di bawah kepemimpinan Firli Bahuri mungkin gerah, atau malah sudah kena mental, terus-menerus ditanya ihwal keberadaan Harun. Akibatnya, institusi pemberantasan korupsi itu memiliki semacam kewajiban menyampaikan progress report yang tidak ada progres-progresnya itu.

Pernah suatu waktu, dalam sebuah forum diskusi, juru bicara KPK Ali Fikri merasa jengkel kepada aktivis antikorupsi ICW Kurnia Ramadhana yang terus-terusan menyoal belum tertangkapnya Harun, padahal ada DPO lain yang sudah empat tahun buron, yakni Izil Azhar, akhirnya bisa ditangkap juga. Waktu itu, Harun baru buron dua tahun.

Jawaban sang aktivis antikorupsi itu amat pas, mewakili keingintahuan publik. "Kenapa kami fokus di isu (Harun Masiku) itu? Karena banyak kejanggalan saat proses penanganan perkaranya," kata Kurnia.

Kejanggalan penanganan kasus yang dimaksudkan ICW di antaranya upaya mengembalikan penyidik Rossa Purbo Bekti ke instansi asal yakni kepolisian hingga kegagalan KPK menggeledah kantor PDIP. Padahal, selama ini, untuk penanganan perkara lain di tempat lain, KPK amat tegak lurus pada prinsip 'tidak pandang bulu'. Bahkan kendati hanya 'berhasil' membawa flashdisk setelah berjam-jam menggeledah sebuah kantor gubernur yang kebetulan saat maju pilkada diusung partai lain.

KPK mungkin merasa kasus Harun seperti kerikil dalam sepatu: kecil tapi mengganggu. Namun, publik dan para aktivis antikorupsi melihat kasus itu sebagai duri dalam daging yang tidak kunjung bisa dicabut. Lama-lama, daging bisa bernanah dan busuk. Kalau Harun gagal ditangkap, institusi KPK yang kian kehilangan kepercayaan akan makin tidak dipercaya masyarakat.

Kasus Harun Masiku sejatinya amat terang benderang. Ia pun ditangkap tangan oleh KPK beserta tiga orang lainnya. Harun harus berhadapan dengan hukum lantaran diduga menyuap mantan komisioner KPU Wahyu Setiawan agar bisa ditetapkan sebagai pengganti Nazarudin Kiemas yang lolos ke DPR tapi meninggal dunia. Ia diduga menyiapkan uang sekitar Rp850 juta untuk pelicin agar bisa melenggang ke Senayan.

Suap diberikan agar ia ditetapkan sebagai anggota DPR dari Daerah Pemilihan I Sumatra Selatan menggantikan Nazarudin Kiemas, peraih suara terbanyak dari PDIP untuk dapil tersebut, yang meninggal dunia. Hasil Pemilu 2019 menyatakan Harun hanya mengantongi 5.878 suara dan ada di posisi keenam. Padahal, aturan menyebutkan bila ada anggota dewan diganti antarwaktu, penggantinya harus meraih suara terbanyak di bawah anggota yang diganti tersebut.

KPU kemudian memutuskan mengalihkan suara kepada Riezky Aprilia, caleg PDIP dengan perolehan suara terbanyak kedua di Dapil I Sumatra Selatan. Akan tetapi, PDIP melalui rapat pleno menginginkan Harun yang menggantikan Nazarudin. Bahkan, PDIP sempat mengajukan fatwa ke Mahkamah Agung dan menyurati KPU agar melantik Harun. Namun, KPU tetap dengan keputusannya melantik Riezky.

Sedemikian terangnya kasus itu justru membuat KPK seperti tidak kunjung bisa melihat. Episode 'drama' pelarian Harun Masiku seperti opera sabun: berputar di kisah itu-itu saja. Terendus lagi, terdeteksi lagi, ada informasi baru lagi, eh hasilnya pepesan kosong lagi. Sampai kapan opera sabun itu berakhir? Nanti, barangkali saat sabun sudah menipis dan tidak berbusa lagi.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.