Terkepung Polusi

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
15/6/2023 05:00
Terkepung Polusi
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DI tengah riuhnya pemberitaan soal politik, mulai pergerakan dan intrik koalisi-koalisi parpol menjelang Pemilu 2024, niat cawe-cawe Presiden Joko Widodo, hingga penantian pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi terkait dengan sistem pemilu, beruntung masih terselip satu isu penting yang kini juga ramai dibincangkan, yaitu tentang kualitas udara yang semakin buruk di kota-kota di Indonesia, terutama Jakarta.

Mengapa ini penting, karena dampak dari kian buruknya kualitas udara itu langsung dirasakan masyarakat. Bukan lagi sekadar prediksi atau asumsi, apalagi berandai-andai. Berbeda dengan isu tentang politik dan kepemiluan yang semuanya masih di atas kertas, baru sebatas potensi. Walaupun dengan berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, prediksi dan asumsi dalam politik itu bisa saja menjadi kenyataan.

Namun, yang sudah pasti menjadi fakta hari ini, polusi udara di Jakarta kian mengkhawatirkan. Kadarnya sudah keterlaluan, melebihi yang seharusnya. Akibatnya, ya tadi, kualitas udara Jakarta memburuk, bahkan saking buruknya 'ditahbiskan' sebagai salah satu kota yang memiliki kualitas udara terburuk di dunia. Tentu saja ini berefek langsung pada kesehatan, keamanan, dan keselamatan masyarakat.

Seberapa parahkah udara Jakata? Mari kita bedah. Tingkat kualitas udara dalam satu wilayah biasanya diukur berdasarkan indeks kualitas udara (AQI). Semakin tinggi angka AQI menandakan kualitas udara yang semakin buruk. Makin rendah AQI, semakin baik kualitas udaranya.

Mengutip laman iqair.com, per Rabu (14/6) sore kemarin, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta ada di level 154. Angka ini sejatinya fluktuatif, bisa naik bisa turun secara real time. Akan tetapi, dalam beberapa hari terakhir, AQI Jakarta memang bergerak di antara 120 hingga 160. Angka itu tergolong tinggi dan masuk kategori tidak sehat.

Dengan AQI di kisaran angka tersebut, Jakarta konsisten berada di lima besar di antara kota-kota besar di seluruh dunia untuk kategori kota dengan kualitas udara terburuk. Contohnya, kemarin, dengan AQI 154 Jakarta menempati peringkat dua di bawah ibu kota India, New Delhi.

Polutan utama dari polusi udara ialah particulate matter (PM 2.5). Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), PM 2.5 ialah polutan udara yang berukuran sangat halus, sekitar 2,5 mikrometer. Naiknya angka PM 2.5 dipengaruhi oleh faktor udara panas, kebakaran, dan polusi lingkungan. Untuk Jakarta, kemarin, level PM2.5 mencapai 61 ug/m3 atau 12 kali lebih tinggi di atas anjuran WHO.

Dengan angka-angka itu saja sudah bisa dibayangkan bagaimana 'rusaknya' udara Jakarta. Di sisi lain, fakta bahwa langit di ibu kota semakin keruh, bahkan di pagi hari sekalipun, juga tampak melalui pandangan mata langsung. "Saya kira kabut, ternyata udaranya kotor karena polusinya semakin berat," kata Nita, seorang 'pejuang' pagi saat diwawancarai Metro TV, beberapa waktu lalu.

Kalau secara pandangan mata dan data angka sudah kompak, apa lagi yang bisa dibantah soal buruknya udara Jakarta? Yang pasti penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, ISPA atau yang lain, sudah tak lagi sekadar mengintai, tapi sudah betul-betul menyerang. Dampak terburuknya ialah kematian.

Laman iqair.com bahkan menyatakan polusi udara diperkirakan telah menyebabkan kematian sekitar 4.900 orang di Jakarta selama 2023. Selain itu, polusi udara juga telah menimbulkan kerugian sekitar US$1,3 miliar atau setara Rp18,85 triliun (kurs 14.500/US$) di Jakarta untuk tahun ini saja. Sadis, bukan?

Lalu, ada seorang kawan yang bertanya, mana yang lebih berbahaya, polusi udara atau 'polusi digital'? Yang dia maksud dengan polusi digital ialah konten-konten sampah yang diunggah ke ruang publik melalui medium digital, khususnya media sosial. Polutannya antara lain ujaran kebencian, hoaks, fitnah, perundungan, dan kejahatan siber.

Sangat masuk akal pertanyaan kawan itu karena sudah berkali-kali terbukti, terutama ketika suhu politik memanas menjelang pemilu, polusi digital juga mampu menimbulkan dampak yang tak kalah merusak ketimbang polusi udara. Dimensinya saja yang agak berbeda. Polusi udara mungkin lebih menyerang fisik: menyebabkan sakit, kematian atau kerugian ekonomi, sedangkan polusi digital lebih berimpak ke sisi sosial: menyulut pertikaian, perpecahan, dan polarisasi di masyarakat.

Terkepunglah kita oleh macam-macam polusi yang semuanya merusak. Lantas, di mana negara yang semestinya hadir dengan kebijakan solutif untuk memperbaiki kualitas udara dan ruang digital demi mencegah kerusakan lebih besar? Entahlah. Barangkali, saking bingungnya, kalau ditanya soal penanganan polusi, para pejabat negara akan menjawab seperti Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono, "Saya tiup saja."



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.