Alarm untuk Demokrasi

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
03/6/2023 05:00
Alarm untuk Demokrasi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

HANYA butuh waktu 25 tahun bagi Republik ini untuk 'memukul' mundur demokrasi. Begitu sejumlah kritikus menggambarkan situasi yang terjadi di Tanah Air saat ini. Dalam bahasa pendiri Partai Amanat Nasional yang kini menjadi penulis, Abdillah Toha, banyak hal yang dilakukan petinggi negeri ini malah sudah 'membahayakan demokrasi'.

Abdillah merujuk pada ikut cawe-cawenya Presiden Jokowi untuk mengatur strategi ihwal siapa yang bakal menggantikannya di Pemilu 2024 kelak. Juga, tendensi Mahkamah Konstitusi yang 'rela' direcoki tangan-tangan kekuasaan sehingga membuat keputusan yang di luar lingkup pekerjaan mereka sebagai penjaga konstitusi.

Para kritikus, termasuk Abdillah, umumnya merisaukan ketidaknetralan Kepala Negara dalam urusan Pemilu 2024 dengan dalih kepentingan nasional berupa keberlanjutan pembangunan. Mereka mengkritik dengan mengatakan bahwa seolah-olah apa yang sudah dicapai saat ini serbabenar, serbasempurna, sehingga harus dilanjutkan dan haram dikoreksi.

Rakyat, kata para kritikus, diharap percaya saja. Diminta manut saja. Kalau ada yang mbalelo, siap-siaplah dipersalahkan dan ditendang dari barisan. Itulah inti pokok dari kerisauan terhadap nasib demokrasi yang alih-alih ditegakkan, justru malah dirobohkan. Demokrasi itu dianggap penghambat ekonomi.

Jadilah hubungan antara demokrasi dan jalan ekonomi kembali dipisahkan. Demokrasi yang memberikan ruang terbuka terhadap suara berbeda dianggap menebar kegaduhan. Para kritikus yang cerewet, gaduh, dan berbeda itu bisa-bisa dicap sebagai pengganggu stabilitas ekonomi. Bisa dimasukkan golongan para pemutus keberlanjutan pembangunan.

Padahal, mereka merasa sedang mempraktikkan jalan demokrasi. Mereka itu tidak sekadar berbeda, tapi sedang menawarkan jalan alternatif. Mereka justru sedang berpartisipasi secara aktif untuk mewujudkan sebagian janji yang belum bisa ditunaikan.

Mereka yang mengkritik pembangunan infrastruktur yang mereka nilai serbasimsalabim dan mentah dalam perencanaan bukan berarti menolak pembangunan infrastruktur. Bukan. Mereka paham bahwa infrastruktur kita ketinggalan. Namun, demi memangkas ketertinggalan itu, bukan berarti semua harus selesai pada 2024 tanpa memedulikan ketahanan imfrastruktur tersebut untuk jangka panjang.

Demokrasi yang benar itu ada kebebasan untuk mengoreksi ketergesa-gesaan yang berpotensi menimbulkan keburukan dalam jangka panjang. Demokrasi kerap gaduh, tapi kegaduhan yang perlu. Lain cerita kalau kita memang menolak demokrasi. Di kalangan penolak demokrasi, berkembang pendapat pokoknya demokrasi itu selalu gaduh, penuh ketidakpastian, merongrong kenyamanan, memicu instabilitas.

Padahal, berbagai literatur dan penelitian menunjukkan sebaliknya. Ada korelasi positif antara demokrasi dan kesejahteraan ekonomi. Demokrasi diyakini membawa pengaruh positif terhadap dinamika pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi tersebut akan membawa implikasi langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tingkat kesejahteraan yang tinggi banyak dijumpai di negara-negara yang menerapkan demokrasi secara teguh. Hasil kajian Morton Halperin dan kawan-kawan menunjukkan dalam kurun lima dekade terakhir, statistik pertumbuhan ekonomi di negara-negara demokrasi tercatat 25% lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara otoriter.

Benar bahwa pengalaman Singapura dan Tiongkok menunjukkan hal berbeda. Kedua negara itu seolah mengirim sinyal bahwa ada jalan lain di luar demokrasi untuk mencapai kesejahteraan. Tiongkok, misalnya. ‘Negeri Tirai Bambu’ tersebut mencoba bereksperimen dengan mengawinkan sistem politik otoriter dan sistem ekonomi pasar bebas. Alhasil, pertumbuhan ekonomi Tiongkok dewasa ini menjadi momok menakutkan bagi negara-negara Barat.

Kolumnis Fareed Zakaria mengistilahkan negara-negara tersebut sebagai illiberal democracy. Istilah yang diperkenalkan pada 1997 itu menggambarkan fenomena kemunculan negara pseudo democracy. Negara penganut sistem politik nondemokrasi, tetapi memiliki pencapaian pertumbuhan ekonomi tinggi juga termasuk dalam kategori pseudo democracy ala Fareed Zakaria ini.

Kiranya pengalaman Tiongkok dan Singapura itulah yang mengilhami elite kita untuk mengutak-atik demokrasi. Namun, itu hanya pengecualian. Pengecualian itu terjadi karena Singapura dan Tiongkok tidak semajemuk Indonesia. Pula, di dua negara tersebut, angka korupsi dan kolusi bisa ditekan. Mereka sangat keras terhadap perilaku korup dan kolutif.

Skor indeks persepsi korupsi Tiongkok yang 43 juga naik signifikan, lebih dari lima poin dalam waktu sewindu. Skor IPK Singapura malah stabil di atas 83 poin. Untuk Indonesia, skor IPK masih naik-turun. Skor IPK Indonesia masih di rentang 36 hingga 38. Dalam kondisi seperti itu, demokrasi justru mesti dikuatkan dan disuntik vitamin, bukan malah terus-terusan dirongrong.

Adanya jaminan kebebasan berpendapat, kebebasan mengkritik, kebebasan untuk berbeda tanpa dihalang-halangi yang menjadi roh demokrasi justru akan lebih memastikan pertumbuhan ekonomi berlangsung lebih langgeng, adil, dan merata. Demokrasi juga memastikan ruang sebesar-besarnya bagi perlindungan ekologis terhadap sumber daya alam yang kita miliki.

Namun, bila yang berbeda sikap terus dihalang-halangi, yang tidak puas tidak diberi ruang mengekspresikan ketidakpuasan, bahkan malah dikucilkan, berarti kita memang mesti membunyikan alarm bahaya bagi demokrasi. Kalau alarm itu mati, mungkin hari ini demokrasi kita sedang rebah. Namun, bisa-bisa, besok roboh. Semoga tidak.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.