Migas Terlindas Copras-Capres

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
17/5/2023 05:00
Migas Terlindas Copras-Capres
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SUDAH berkali-kali Presiden Joko Widodo meyakinkan investor, khususnya investor asing, bahwa di era pemerintahannya investasi di Indonesia bakal memikat. Kepastian hukum dan layanan cepat bakal dijamin. Tim saber pungli dibentuk, tim percepatan izin investasi pun disiapkan. Pokoknya, Indonesia kini bukan Indonesia dulu, begitu kira-kira gambaran ringkas yang dijanjikan.

Namun, sebagian fakta berkata berbeda. Di sektor hulu minyak dan gas serta sebagian proyek strategis nasional, kepastian dan kecepatan layanan masih terus menjadi ganjalan. Tidak mengherankan bila ada beberapa investor kakap akhirnya memilih hengkang dari sejumlah proyek strategis nasional andalan Jokowi tersebut.

Pemerintahan era Jokowi memiliki sejumlah proyek prioritas yang disebut Proyek Strategis Nasional (PSN). Daftar proyek strategis ini pun tertuang dalam Peraturan Presiden No 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Peraturan tersebut direvisi menjadi Peraturan Presiden No 109 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Perpres No 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Namun, sejumlah perusahaan asing satu per satu memutuskan untuk hengkang dari proyek penting tersebut, baik dari sektor minyak dan gas bumi (migas) maupun petrokimia. ConocoPhillips, misalnya. Perusahaan minyak asal Amerika Serikat ini bahkan sudah resmi melepas asetnya di Indonesia pada awal 2022 lalu.

ConocoPhillips sebelumnya merupakan operator dan juga pemegang hak partisipasi (participating interest/ PI) sebesar 54% di Blok Corridor, lepas pantai Sumatra Selatan. Selain ConocoPhillips, perusahaan AS lainnya, yakni Chevron, juga menyatakan akan keluar dari proyek gas laut dalam Indonesia Deepwater Development di Kalimantan Timur.

Perusahaan selanjutnya yang memutuskan untuk hengkang dari Indonesia ialah Shell. Perusahaan asal Belanda itu sejak beberapa tahun lalu menyatakan bakal keluar dari proyek gas raksasa Blok Masela di Maluku dengan menjual kepemilikan hak partisipasi sebesar 35%. Dengan keluarnya Shell dari proyek Blok Masela, pemerintah pun mendorong agar Pertamina dapat masuk untuk mengambil 35% hak partisipasi milik Shell tersebut.

Proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether dan metanol juga ditinggalkan investor asing. Investor yang cabut tersebut, yaitu Air Products and Chemicals Inc, perusahaan petrokimia asal Amerika Serikat. Keputusan hengkangnya perusahaan raksasa asal Amerika Serikat itu disampaikan melalui surat kepada pemerintah Indonesia.

Kendati perusahaan-perusahaan raksasa dunia yang hengkang itu sudah mendapatkan pengganti, kondisi itu tetap memperburuk citra Indonesia sebagai negara yang ramah tujuan investasi sebagaimana digembor-gemborkan. Apalagi, alasan hengkangnya para raksasa global itu seperti yang diduga oleh sejumlah analis.

Hasil analisis sejumlah ahli dan lembaga menyimpulkan hengkangnya perusahaan raksasa global itu dari Tanah Air karena tiga hal klasik. Ketiga faktor itu ialah kepastian hukum lemah, fiskal keekonomian rendah dalam pengembalian investasi, dan birokrasi perizinan yang masih berlapis.

Jika benar semua hasil analisis itu, lalu di mana letak autentiknya janji para pemimpin? Di sektor hulu migas, misalnya, banyak investor menganggap janji memberi 'karpet merah' kepada mereka itu masih pepesan kosong.

Revisi Undang-Undang Migas yang dijanjikan segera dibahas dan diselesaikan antara DPR dan pemerintah hingga kini jalan di tempat. Faktor ini saja sudah serupa sinyal bagi iklim investasi, seberapa serius Indonesia menunaikan janjinya.

Investor migas asing meninggalkan Indonesia boleh jadi tidak semata-mata karena sektor migas tidak ekonomis lagi. Mereka hengkang karena investasi migas kita kalah kompetitif jika dibandingkan dengan portofolio investasi dan kesempatan investasi para raksasa investor migas asing itu di tempat lain. Itulah masalah utama kita.

Jika persoalan utama itu tidak diatasi, di sektor migas, misalnya, target produksi 1 juta barel minyak bumi dan 12 miliar kaki kubik gas bumi per hari di 2030 tidak akan bisa dicapai. Bagaimana tercapai, menjaga tingkat produksi saat ini saja kepayahan.

Jadi, ketimbang sibuk soal copras-capres, berpikir menyiapkan calon pengganti, atau sibuk membisiki relawan satu per satu ihwal siapa yang layak menjadi penggantinya, Presiden sebaiknya lebih intens merealisasikan janjinya memastikan Indonesia bersahabat dengan investor, khususnya di sektor migas. Fokus ke soal itu, di samping memang tugas Kepala Negara, juga agar sektor yang masih jadi andalan itu tidak kian kepayahan melawan zaman.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.