Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK orang bilang bahwa etika dalam praktik politik itu omong kosong. Ia dipandang absurd. Dalam politik praktis, kata orang yang meyakini absurditas etika politik, yang penting tidak melanggar aturan cukup sudah.
Tapi, benarkah seperti itu? Untuk menjawab pertanyaan itu, pas kiranya bila kita menyimak peristiwa tentang hakim Inggris yang dipecat gara-gara menonton film porno di kantor mereka, beberapa tahun yang lalu. Inggris, negara liberal itu (liberal kerap dianggap bebas dalam kacamata negatif), tidak mengenal kompromi atas pelanggaran etika.
Tiga hakim di Inggris itu, yakni Timothy Bowles, Warren Grant, dan Peter Bullock, dipecat karena menonton bahan-bahan pornografi melalui fasilitas teknologi informasi di kantor mereka. Selain dipecat, ketiga hakim tersebut juga diberhentikan dari jabatan mereka.
Dua pejabat pemerintah yang menggelar investigasi atas kasus tersebut, ketika itu, menyimpulkan bahwa menonton bahan-bahan pornografi ialah 'penyalahgunaan yang tidak bisa dimaafkan'. Tindakan itu juga dinilai merupakan 'bentuk tindakan pejabat publik yang sama sekali tidak bisa diterima'.
Chris Grayling, salah seorang pejabat yang melakukan investigasi, mengatakan bahwa dari sisi hukum, ketiga hakim tersebut tidak melakukan pelanggaran. "Ini persoalan etika, soal kode etik. Para hakim ini tidak melanggar hukum ," kata dia.
Badan yang membidangi kode etik hakim mengatakan tiga hakim yang dipecat menerima keputusan tim investigasi dan tidak mengajukan banding. Hakim keempat, Andrew Maw, memutuskan mundur sebelum kasus itu diselidiki.
Begitu kuatnya Inggris menjunjung etika kepublikan. Perkara privat (menonton konten porno), tapi dilakukan di kantor publik yang biaya penyelenggaraannya ditanggung oleh publik melalui pajak, tetap divonis mencederai kepentingan publik. Karena itu, meskipun tidak ada aturan yang dilanggar, tetap saja mereka dijatuhi sanksi pemecatan.
Di negeri ini, etika dipandang amat longgar. Ia seperti berdiri terpisah dari 'barisan' aturan. Moral dan etika kepublikan diposisikan di kaki, bukan di kepala yang menggerakkan perintah kepada tubuh. Apa yang menjadi perdebatan saat Kepala Negara mengumpulkan ketua umum partai politik di Istana Negara dan membicarakan strategi politik partisan amat layak untuk disoal dari sudut pandang etika.
Apalagi secara terang benderang, Kepala Negara mengakui bahwa acara kumpul-kumpul di Istana itu membicarakan strategi koalisi Pilpres 2024. Merancang strategi politik kelompok (bukan strategi memajukan kesejahteraan rakyat) di Istana Negara, yang listriknya dibiayai rakyat, pendingin ruangannya dibayar pakai duit rakyat, suguhan camilannya diambil pakai dana rakyat, apakah bukan bentuk pencederaan terhadap rakyat?
Apa jadinya apabila sebuah bangsa (Indonesia) berubah menjadi bangsa yang tidak bermoral? Para pemerhati etika menganggap sangat jelas bahwa peristiwa di Istana beberapa waktu lalu itu seperti tontonan kebangsaan yang menyuguhkan para pemimpin yang hanya menampilkan moralitas sekadarnya.
Apa yang sebenarnya kita harapkan dari bangsa Indonesia ketika perjalanan meniti peradaban tidak dibarengi dengan etika yang longgar, bahkan sangat longgar? Moral adalah kesadaran hati dari tiap-tiap jiwa manusia, kesadaran hati nurani untuk menghormati dan mencintai sesama, mementingkan kepentingan masyarakat.
Karena itulah, sesungguhnya tidak ada absurditas ketika kita berbicara kebaikan-kebaikan perilaku moralitas. Tolok ukurnya ialah akal sehat dan memosisikan etika pada tempat yang luhur.
Inggris dan banyak negara lainnya sudah menunjukkan cermin besar bagaimana para pejabatnya tidak main-main dengan etika dan moral publik. Tidak ada yang menangkis jika ada kesalahan etis dalam perilaku mereka. Mereka paham betul bahwa etika harus tegak.
Rakyat adalah pemilik kuasa. Etika dan moralitas yang ketat akan menggaransi bahwa sang pemilik kuasa tidak bakal kehilangan kekuasaannya karena dicuri oleh mereka yang tidak berhak.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved