Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SAMPAI hari ini barangkali tidak ada satu pun preman yang menyambi menjadi peneliti. Sama sekali tak nyambung, memang. Yang satu mengandalkan otot, satu lagi menjadikan kemampuan otak sebagai panglima. Kerja preman berdasarkan spontanitas, sedangkan kerja peneliti mesti diawali dengan landasan berpikir yang jelas, rasional, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Namun, jika dibalik, peneliti yang berkelakuan seperti preman, rupanya ada. Alih-alih memaksimalkan keilmuwan dan keenceran otak yang dimiliki, peneliti jenis seperti itu justru tak sungkan mengedepankan otot dan emosi. Pikirannya pendek, merasa paling benar. Ujung-ujungnya main ancam, bahkan mengancam membunuh orang-orang yang tak sependapat dengannya. Duh Gusti, ini sebetulnya peneliti atau gali?
Bahkan gali sekalipun mungkin masih berpikir ulang beberapa kali untuk berani mengirimkan ancaman kepada satu kelompok organisasi masyarakat besar, bukan sebatas ancaman kepada individu. Tetapi rupanya peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang Hasanuddin punya kenekatan melebihi gali.
Ia tak perlu berpikir panjang untuk berani menebar ancaman kepada Muhammadiyah yang dianggapnya tidak taat terhadap pemerintah dalam hal penetapan 1 Syawal 1444 H. Ancamannya pun tidak main-main. Ia mengancam membunuh satu-satu warga Muhammadiyah sekaligus menantang siap dilaporkan dengan ancaman pasal pembunuhan. Mengerikan.
Benarlah seperti yang dikatakan seorang kawan, negeri ini semakin ke sini rasanya semakin semrawut dengan pikiran-pikiran dan perilaku yang nyaris tak masuk akal. Ketika orang awam sudah bisa menghargai perbedaan pandangan, orang-orang yang kita anggap pintar malah berpikiran amat kerdil, memanfaatkan perbedaan itu untuk memprovokasi dan main ancam.
Di saat negara berupaya menjunjung penghormatan terhadap perbedaan sikap dan pendapat, seorang peneliti di sebuah lembaga riset milik negara justru dengan pongah menginjak-injaknya. Sangat disayangkan, kewarasan dan intelektualitasnya (kalau dia punya) kalah oleh kebenciannya terhadap kelompok tertentu.
Jika dibiarkan, ia berpotensi melakukan kejahatan dengan latar kebencian (hate crime) seperti banyak kisah yang sering kita baca tentang pembunuhan massal di luar negeri, yang diawali dengan kebencian terhadap kelompok dengan latar identitas tertentu. Ia bahkan mungkin bisa ditempatkan satu tingkat di bawah teroris karena sama-sama menebar teror dan ancaman terhadap satu kelompok masyarakat yang dibencinya.
Muhammadiyah barangkali bisa menghadapinya dengan kalem dan memilih menjauh dari provokasi murahan semacam itu. Tetapi siapa yang menjamin orang yang sama tidak akan melakukan ancaman serupa terhadap kelompok lain atau bahkan terhadap individu lain? Kalau organisasi besar dan sangat dihormati seperti Muhammadiyah saja berani ia ancam dan maki-maki, bagaimana dengan orang biasa yang tak punya kekuatan apa-apa?
Karena itu, semestinya polisi tidak boleh kalem. Mengancam untuk membunuh adalah kejahatan serius. Sama sekali tak boleh diabaikan. Kiranya polisi bisa menindaknya tanpa menunggu dia merealisasikan ancamannya, bukan? Apalagi kini sudah ada pihak yang melaporkan ancaman si peneliti itu, rasanya tak elok kalau polisi tak segera mengusutnya meskipun permintaan maaf secara terbuka sudah ia sampaikan.
Namun, buat saya, yang paling menjengkelkan ialah kok bisa-bisanya orang sejenis AP Hasanuddin, yang punya pikiran sepicik itu, bekerja sebagai peneliti di BRIN? Bukankah salah satu karakter peneliti itu harus mampu berpendapat secara ilmiah dan kritis? Fatsunnya, setiap pendapat peneliti harus didasari fakta yang telah teruji kebenarannya, tidak mengada-ada tanpa bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.
BRIN jelas bukan lembaga abal-abal. Ia milik pemerintah. Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2021 secara efektif menetapkan BRIN sebagai satu-satunya badan penelitian nasional, meneruskan Komite Inovasi Nasional. Peraturan itu memutuskan bahwa semua lembaga penelitian milik pemerintah bergabung menjadi BRIN. Dalam benak saya, juga publik awam pada umumnya, orang-orang hebat nan pandai yang berkumpul di situ, bukan orang-orang yang berjubah peneliti tapi kelakuan, cara berpikir, dan tutur katanya bak preman jalanan.
Mestinya tidak masuk akal kalau badan sekaliber itu masih bisa 'disusupi' orang-orang yang berlagak peneliti tapi sejatinya berwatak preman. Jangan-jangan AP Hasanuddin bukan satu-satunya. Jangan-jangan banyak peneliti BRIN yang kadar moral dan intelektualitasnya seperti itu. Lantas, salahkah bila publik juga mulai meragukan kekaliberan BRIN sebagai lembaga? Entahlah, biar BRIN yang menjawabnya.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved