Ahli Waris Koruptor

12/1/2016 00:00
Ahli Waris Koruptor
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)
KITA tahu korupsi dimulai dari zaman tua. Seymour Martin Lipset dan Gabriel Saman Lenz, dalam artikel berjudul "Korupsi, Budaya, dan Pasar" yang ditulis 1990-an, memulai tulisan korupsi dari sebuah aktivitas transhistoris yang amat kompleks sejak zaman Mesir Kuno, Yunani, dan Romawi. Pemerintahan diktator dan demokrasi; ekonomi feodal, kapitalis, dan sosialis; budaya agama Kristen, Islam, Hindu, dan Budha; semuanya tak ada yang steril dari korupsi. Hanya menurut dua ilmuwan dari Univeritas George Mason Amerika Serikat ini, kadarnya yang berbeda-beda.

Mereka menemukan kasus negara-negara yang kurang makmur dengan motivasi pencapaian yang tinggi umumnya yang paling kurup. Sebaliknya negara-negara yang relatif rendah motivasi pencapaian dan tinggi aksesnya ke cara-cara yang layak, umumnya mempunyai tingkat korupsi yang relatif rendah.

Kesaksian Plato sekitar 2.500 tahun lalu, korupsi sebagian besar adalah sebuah ekspresi partikularisme, yakni perasaan wajib membantu memberikan sumber-sumber bagi orang-orang yang menanam budi, terutama sekali pada keluarga, juga kepada teman-teman dan kelompok. "Sudah terbukti bahwa kekerabatan adalah institusi yang efektif untuk kelangsungan hidup tetapi merupakan hambatan untuk berkembang," katanya.

Lipset dan Lenz menyertakan pula Indeks Persepsi Korupsi (IPK) dari Transparansi Internasional pada 1998 terhadap 85 negara. Terlihat dengan jelas, 10 negara paling bersih antara lain Denmark, Finlandia, Swedia, Selandia Baru, Kanada, Islandia, dan Singapura. Inilah negara yang selama berpuluh-puluh tahun bertenggar di papan atas negara paling tipis tingkat korupsinya. Adapun 10 negara paling korup antara lain Kamerun, Paraguy, Honduras, Tanzania, Nigeria, Indonesia. Indonesia, selama era reformasi memang berlahan naik IPK-nya, tetapi posisi 117 dari 175 negara yang disurvei, pada 2014, tetap masih dalam kategori negeri korup.

Dalam banyak survei korupsi memang menjadi biang ketimpangan pendapatan dan kemiskinan. Peningkatan 0,78 angka pertumbuhan korupsi berakibat pada penurunan drastis angka pertumbuhan pendapatan di antara orang misikin, 7,8 persen per tahun. Dan, Indonesia memang masih menjadi lokus yang amat subur bagi koruptor. Terbukti pula kesenjangan antara kaya dan miskin termasuk yang tertinggi di dunia.

Karena itu, disertasi Ketua Pengadilan negeri Jakarta Selatan, Haswandi, berjudul "Pengembalian Aset Tindak Pidana Korupsi Pelaku dan Ahli Warisnya Menurut Sistem Hukum Indonesia", layak diapresiasi. Haswandi mempertahankan disertasi untuk memperoleh gelar doktor di Fakultas Hukum, Universitas Andalas, Sumatera Barat, Sabtu (9-1). Menurut sang hakim, modus pelaku menyembunyikan harta kekayaan hasil korupsi bisa dengan beragam cara, seperti memanfaatkan sanak keluarga, kerabat dekat, atau orang kepercayaan termasuk ahli waris. Ternyata apa yang dikemukakan Plato 2.500 tahun silam tentang keluarga dan orang-orang dekat menjadi bagian kejahatan korupsi, masih menjadi fakta aktual hari ini.

Namun, katanya, dalam mengejar hasil kejahatan korupsi kita masih menemui sejumlah kendala, karena sistem hukum negeri ini belum maksimal. Perangkat hukum tindak pidana korupsi dalam mengembalikan aset hanya mengutamakan uang pengganti, norma hukum perdata material terhadap ahli waris koruptor belum diatur. Ia menyarankan perlu segera dirumuskan norma tentang perbuatan melawan hukum yang dapat dijadikan dasar hukum mengguggat ahli waris koruptor.

"Konsep pengembalian aset tindak pidana korupsi pelaku dan ahli warisnya dalam sistem hukum indonesia harus ditujukan untuk penyempurnaan peraturan perundangn-undangan. Hal ini agar dapat menuntut tidak hanya pelaku, tetapi juga ahli warisnya. Tak seorang pun boleh diuntungkan dari hasil suatu kejahatan. Apalagi korupsui telah merenggut hak masyarakat," katanya.

Setelah menyempurnakan regulasi tentang peberantasan tindak pidana korupsi, yang harus dilakukan pemerintah dan DPR adalah segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pengembalian aset Hasil Kejahatan. Ini sebuah upaya terobosan yang mestinya bisa memaksimalkan upaya pemberantasan korupsi.

Pemberatasan korupsi yang bak siput berjalan memang perlu berbagai penyempurnaan regulasi, keberanian, ketegasan, dan berbagai terobosan. Kesenjangan sosial umumnya berjalan beriringan dengan korupsi, tapi ini 'hubungan' yang berpotensi menjadi bom waktu yang amat berbahaya. Saatnya ahli waris koruptor juga ikut memikul tanggung jawab. Mereka tak bisa lagi berlaku seolah-olah bertangan bersih, padahal berlumuran kotoran.

Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.