Dana Energi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
09/1/2016 00:00
Dana Energi
(MI/SENO)
RENCANA pemerintah untuk memungut dana ketahanan energi ditunda.

Belum adanya dukungan politik dari DPR membuat pemerintah khawatir.

Padahal, Undang-Undang Energi sudah mengamanatkan agar kita memikirkan ketersediaan energi untuk masa depan.

Terutama setelah Conference of Parties 21 di Paris, Prancis, kewajiban negara untuk memiliki dana ketahanan energi menjadi lebih menguat.

Semua negara dituntut mengambil dana guna mengompensasi pelepasan emisi gas buang yang diakibatkan penggunaan energi berbasis fosil.

Di Australia, misalnya, sejak 2011 dibuat formulasi beban biaya yang harus dibayarkan terhadap setiap ton CO2 yang dihasilkan dari kegiatan industri.

Pembangkit listrik tenaga batu bara di sana setiap tahun harus membayar kompensasi atas pelepasan CO2 yang mereka hasilkan.

Hal yang hampir sama berlaku di Amerika Serikat.

Sejak 2006, pemerintah AS mengumpulkan dana ketahanan energi yang dialokasikan untuk beragam kegiatan.

Sebesar 1/6 bagian untuk pengembangan energi baru dan terbarukan.

Adapun 1/12 bagian untuk mengompensasi biaya kesehatan warga akibat udara yang tercemar.

Indonesia yang ikut menandatangani Kesepakatan COP-21 seharusnya melangkah juga ke sana.

Pemerintah sudah menetapkan untuk memungut Rp300 dari pembelian setiap liter premium dan Rp200 untuk solar.

Namun, langkah itu ditunda karena ada yang berpandangan seharusnya pemerintah yang menganggarkan dana ketahanan energi.

Padahal, tidak mungkin kegiatan itu hanya dibebankan kepada negara.

Masyarakat harus ikut serta mendanai baik itu biaya pengembangan energi baru dan terbarukan maupun menjaga kondisi lingkungan.

Pembebanan terhadap setiap liter BBM yang dikonsumsi akan mendorong masyarakat lebih hemat dalam menggunakan energi.

Persoalan terbesar pada kita sekarang ini, sebaik apa pun pemikiran yang datang dari pemerintah pasti dianggap buruk.

Sebaliknya, seburuk apa pun pemikiran yang datang dari publik dianggap baik.

Kita menjadi jauh dari berpikir atas dasar akal sehat.

Inilah yang bisa membawa bangsa ke arah kehancuran. Kita harus kembali kepada akal sehat.

Yang harus dilihat bukan siapa yang menyampaikan, tetapi seberapa bermanfaat pikiran yang ditawarkan.

Sepanjang itu bermanfaat bagi kepentingan orang banyak dan berguna bagi masa depan kehidupan, kita harus mendukungnya.

Bumi ini sekarang dihadapkan pelepasan emisi gas buang yang sudah berlebihan.

Akibatnya, kita merasakan efek rumah kaca di saat pantulan panas dari bumi kembali lagi ke bumi karena udara kita sudah terlalu padat dengan CO2.

Itu bisa dirasakan dengan suhu udara yang semakin panas. Pada musim kemarau lalu, di Jakarta suhu udara bisa mencapai 39 derajat celsius.

Di sisi lain, kita dihadapkan pada energi fosil yang terus berkurang.

Tidak lama lagi kita kehabisan energi fosil karena cara penggunaan yang berlebihan.

Tanpa ada energi alternatif, satu saat kita tidak lagi punya pasokan energi.

Energi baru dan terbarukan tidak bisa datang dengan sendirinya.

Kita harus mempersiapkan sejak sekarang.

Untuk itu diperlukan penelitian dan penelitian itu harus disiapkan anggarannya.

Tak mungkin kemudian kita sepenuhnya membebankan kepada anggaran negara.

Pembangunan kesadaran akan masa depan itulah yang kita butuhkan.

Investasi untuk mendapatkan energi baru dan terbarukan mungkin tidak kita nikmati sekarang, tapi kita persiapkan untuk anak cucu kita.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.