Ruang Hampa Tata Kelola

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
11/3/2023 05:00
Ruang Hampa Tata Kelola
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

GONJANG-GANJING dugaan penyalahgunaan kekuasaan di kalangan pejabat Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Bea Cukai Kementerian Keuangan menunjukkan masih amat ringkihnya tata kelola pemerintahan kita. Banyak aturan tentang tata kelola dibuat, tapi aturan itu tidak berdaya menutup lubang, bahkan celah yang sempit sekalipun.

Mengapa bisa serapuh itu? Saya menduga karena runtuhnya moral obligation. Tidak tampak kewajiban moral untuk menjaga integritas pribadi dan muruah institusi. Yang penting keinginan pribadi tersalurkan, berhasil menumpuk privilese, status sosial merambat naik, habis perkara.

Maka jadilah rupa-rupa aturan itu ornamen 'penting', tapi bukan utama. Saya sebut 'penting' karena aturan itu harus ada. Namun, kalau bisa disiasati dan enggak ketahuan sedang disiasati, mengapa tidak dilakukan? Begitu kira-kira yang bersemayam dalam alam pikiran sejumlah pejabat yang sekarang sedang ditelusur harta kekayaan mereka itu.

Sikap seperti itu lebih menyerupai pemburu rente ketimbang pelayan publik. Padahal, dalam beberapa fase tingkatan, pejabat publik sudah masuk level pemimpin. Pemimpin, juga pejabat, punya kewajiban moral untuk menggenggam kemuliaan dan menjaga kehormatan. Dengan bersalin rupa menjadi 'pemburu rente', seorang pemimpin pada hakikatnya tengah melepas kemuliaan dan kehormatannya.

Kata kawan saya: kemuliaan itu ada, kehormatan juga tidak beranjak pergi. Akan tetapi, kedua kata itu tidak menyatu dengan para pemiliknya. Ia hanya menjadi harapan yang tidak lekas hadir kembali.

Ada pepatah kuno Prancis noblesse oblige, yang artinya di dalam jabatan melekat tanggung jawab. Frasa itu mengafirmasi bahwa tugas para pemimpin, termasuk di dalamnya pejabat, ialah sebuah keluhuran, sebuah tanggung jawab. Bahwa semakin puncak posisi seseorang, kian tinggi pula tanggung jawab dan kehormatannya. Tingginya posisi baru punya arti bila tanggung jawabnya yang besar nyata dan terasa.

Moral noblesse oblige itu yang kosong. Tata kelola disusun, tapi tidak kunjung muncul good governance, tata kelola yang baik, karena ruang kosong itu tidak kunjung diisi. Tolok ukurnya sekadar sesuai atau tidak dengan aturan, bukan lagi 'pantas atau tidak', 'luhur atau rendahan', 'terhormat atau tercela'.

Kalau sekadar sesuai dengan aturan atau tidak, akan banyak bias. Aturan bisa saja didesain untuk berada di wilayah abu-abu. Rangkap jabatan hingga bertumpuk-tumpuk tidak masalah asal tidak melanggar aturan. Padahal, selain tidak ada manusia super yang bisa memegang tanggung jawab puluhan jabatan, rangkap jabatan juga dikesankan sebagai bagian dari kerakusan dalam berburu rente.

Huru-hara dugaan penyalahgunaan jabatan di Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai hingga diduga menyelewengkan uang negara Rp300 triliun itu mestinya jadi pintu masuk mengisi 'ruang kosong' itu. Saatnya meneguhkan kembali bahwa tata kelola yang bersendi dari prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan pemerintahan yang baik, yaitu transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas di pemerintahan mesti benar-benar hidup, nyata, dan terasa.

Apalagi, di banyak negara moderen, good governance telah menjadi elemen mahapenting untuk menjamin kesejahteraan nasional (national prosperity). Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan menyebutkan prinsip transparansi, pertanggungjawaban (responsibility), akuntabilitas, partisipasi, dan ketanggapan (responsiveness) yang merupakan prinsip kunci good governance ialah bagian penting hak asasi manusia.

Sementara itu, The Canadian International Development Agency menyebutkan good governance tercapai bila kekuasaan organisasi (atau pemerintah) dijalankan dengan efektif, adil (equitable), jujur, transparan, dan akuntabel. Prinsip-prinsip itulah yang mestinya segera dihadirkan di ruang-ruang kosong birokrasi dan pemerintahan di Republik ini.

Bila ruang-ruang itu disesaki prinsip-prinsip besar tata kelola yang baik, tidak ada lagi celah menyimpangkan uang negara, mengeruknya, lalu mencucinya demi menumpuk pundi-pundi pribadi. Sekali lagi, noblesse oblige, di dalam jabatan melekat tanggung jawab. Di dalam jabatan, ada kemuliaan dan kehormatan yang hidup, nyata, dan terasa.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.