Stabilitas dan Stagnasi

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
07/1/2016 00:00
Stabilitas dan Stagnasi
(MI/SUMARYANTO)
SEPULUH tahun menjadi presiden, apakah SBY berhasil? Kalau berhasil, apa yang diwariskannya? Jawabannya tersedia dalam buku baru (2015), The Yudhoyono Presidency. Tebal 357 + xvii halaman, terbitan Institute of Southeast Asian Studies, Singapura, buku itu komplet membahas legacy SBY dalam berbagai bidang.

Di bidang ekonomi, dalam satu dekade berkuasa SBY dinilai berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi moderat kuat, yaitu 5%-6%, ketimbang 5%-8% di era Pak Harto. Itu pencapaian positif di tengah kerawanan krisis finansial global 2008-2009. SBY dinilai bukan reformis. Manajemen ekonominya lebih reaktif ketimbang proaktif. Kendati demikian, manajemen makroekonominya sukses. Ia dinilai gagal mengurangi subsidi BBM serta memperbaiki infrastruktur. Telaah itu ditulis Hal Hill, di bawah judul The Indonesian Economy during the Yudhoyono Decade.

Pandangan dari dalam ditulis Dewi Fortuna Anwar. Di prolog, ia mengungkapkan ada tujuh capaian pemerintahan SBY. Pertama, SBY relatif sukses mentransformasi demokrasi politik pembawa stabilitas dan normalitas. Kedua, desentralisasi mekar, bergerak dari sebelumnya sentralisasi dan Jawasentris. Di akhir kekuasaannya, negeri ini lebih bersatu, aman, dan mampu mengatasi krisis.

Keempat, ekonomi pulih dari krisis, bahkan berkembang hampir empat kali lipat. Kelima, kombinasi stabilitas politik dan perkembangan ekonomi memungkinkan SBY meningkatkan program kesejahteraan sosial, pendidikan, dan kesehatan. Keenam, di bawah SBY, Indonesia bermain aktif di kancah regional dan internasional. Ketujuh, lewat media sosial, masyarakat warga jadi kekuatan berpengaruh di isu kepublikan. SBY pun aktif bermedia sosial.

Pertanyaan penting, karena berkat suara perempuan, SBY dua kali terpilih jadi presiden. Melani Budianta, Kamala Chandrakirana, dan Andy Yentriyani berkesimpulan dalam berbagai cabang kehidupan kaum perempuan bukannya meningkat, malah memburuk. Itu terbukti dari mandeknya tingkat keterwakilan perempuan dalam lembaga politik utama; merosotnya indikator kesehatan, kematian ibu, dan pendidikan; memburuknya perlindungan hukum terhadap perkara berbasis diskriminasi gender.

Menurut ketiga penulis, kegagalan itu terkait langsung dengan Presiden SBY dan kebijakan-kebijakannya yang terbentuk oleh konservatisne agama dan gesture simbolis daripada aksi-aksi afirmatif dan tulus mengatasi isu-isu perempuan. Banyak perempuan kecewa dengan kepemimpinan SBY. Bahkan, dalam buku Selalu Ada Pilihan yang terbit menjelang berakhir masa jabatannya, SBY hanya menyebut masalah perempuan dalam dua halaman. Itu pun mengenai kontroversi kontes Ratu Dunia.

Salah satu kritik paling konsisten, SBY peragu. Editor buku ini, Edward Aspinall, Marcus Mietzner, dan Dirk Tomsa, berpandangan lain. Mereka tak menilai SBY peragu, melainkan moderat. Fungsi utama SBY sebagai moderator, bukan pengambil keputusan. Ia mencegah konfrontasi politik, menjaga stabilitas, berkoalisi, dan berkompromi. Dalam wawancara dengan dua editor buku, SBY membahasakan dirinya, "I love stability, I love order."

Cinta itu membuat SBY pemimpin di tengah dan menengahi. Ia tak mengambil sisi tegas terhadap isu kontroversial, bahkan menunjukkan 'jalan tengah' sebagai sifat positif. Hasilnya 10 tahun stabilitas dan stagnasi. Itu pula subjudul buku, Indonesia's Decade of Stability and Stagnation.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.