PLTS

30/12/2015 00:00
PLTS
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

PRESIDEN Joko Widodo meresmikan pembangkit listrik tenaga surya berkekuatan 5 megawatt di Nusa Tenggara Timur. Itulah PLTS terbesar yang dibangun di negeri yang kaya dengan sinar matahari. Lebih membanggakan lagi, sel surya yang dipergunakan merupakan hasil karya perusahaan nasional, PT Len Industri.

Meski sempat ditentang Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli, kita masih membutuhkan pembangkit listrik baru. Masih banyak warga bangsa ini yang belum mendapatkan aliran listrik. Jelajahi pantai selatan Pulau Jawa, misalnya, masih banyak daerah yang ketika malam gelap gulita.

Sekarang arah pembangunan pembangkit listrik tidak bisa lagi menggunakan energi yang tak ramah lingkungan. Setelah Conference of Parties 21 di Paris, Prancis, semua negara harus peduli pada pelepasan energi gas buang. Untuk menjaga pemanasan bumi 1,5 derajat celsius dalam satu dekade ke depan, semua negara harus meninggalkan energi berbasis fosil.

Tiongkok sudah memutuskan secara bertahap mematikan pembangkit listrik batu bara. Mereka mulai menggantikannya dengan energi ramah lingkungan. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang besar, Tiongkok membangun pembangkit listrik tenaga nuklir baru.

Kalau kita tidak ingin menjadi sorotan dunia, kita harus mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan. PLTS merupakan salah satu pilihan. Terutama di pulau-pulau terpencil, PLTS merupakan pilihan terbaik. Apalagi teknologi sudah tidak masalah karena PT Len Industri mampu memproduksi sel surya sendiri.

Kini tinggal kemauan untuk tidak sekadar melihat biaya atau harga. Sebagai bagian masyarakat dunia yang sudah berjanji mengurangi emisi gas buang hingga 26%, kita harus mau memikirkan masa depan bumi dan kehidupan anak-cucu kelak.

Pilihan energi lain yang tersedia ialah panas bumi. Sejak lama kita mengingatkan potensi itu, tetapi kita tidak terlalu memedulikannya. Pembangunan pembangkit listrik panas bumi di Sumatra Utara, misalnya, lama terganjal karena ada pihak yang merasa bisnis pasokan solar ke daerah itu terganggu. Ketika pendapatan dari bisnis solar berkurang US$1 juta setiap bulan, mereka melakukan apa pun untuk mengganjal proyek yang lebih ramah lingkungan itu.

Potensi yang kita miliki dari panas bumi lebih dari 29 ribu Mw. Ironisnya sampai sekarang yang baru kita garap tidak sampai 5%. Orientasi kita untuk kepentingan jangka panjang patah hanya karena kepentingan sekelompok orang.

Kini saatnya memikirkan masa depan. Kalau PLTS menjadi pilihan, demikian pula dengan panas bumi, air, dan angin, niscaya dunia akan lebih positif melihat kita. Kampanye negatif terhadap kebakaran hutan akan berkurang apabila kita bersungguh-sungguh mengurangi emisi gas buang.

Yang kita butuhkan tinggal sikap lebih terbuka bukan hanya pada sisi pemerintah, melainkan juga dari lembaga legislatif. Kita harus mau membayar biaya energi yang lebih mahal, tetapi dengan biaya sosial yang lebih rendah. Kita harus ingat kerusakan lingkungan yang diakibatkan penggunaan energi yang kotor, kelak biaya pemulihannya akan kita bayar lebih mahal.

Presiden sudah berada pada jalur yang tepat dengan meresmikan PLTS di NTT. Kini tinggal bagaimana mendorong lebih banyak lagi pembangkit listrik ramah lingkungan. Presiden jangan goyah oleh bujuk rayu kelompok yang sekadar mementingkan bisnis mereka.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima