Indonesia Raya

DJAJAD SUDRAJAD
29/12/2015 00:00
 Indonesia Raya
(Grafis Seno)
SETIAP kali mendengar dan membaca advertensi Re-volusi Mental yang gencar ditayangkan media massa, perasaan saya datar-datar saja. Bahkan, kerap tak percaya iklan serupa itu bisa mengubah perilaku bangsa ini, dari yang buruk menjadi baik. Re-volusi Mental kini jadi gerakan nasional, dan advertensi itu digencarkan agar perubahan perilaku bangsa ini cepat dan masif.

Karena itu, perkiraan saya, korupsi akan tetap marak jika penegakan hukum tak bergerak dengan setelan tinggi. Politik tetap riuh dan parlemen yang amat penting dan terhormat itu akan terus mendistorsi dirinya sendiri. Birokrasi secara umum juga akan tetap tak menjadi pelayan rakyat yang seperti janji beberapa menteri. Di jalan raya, pergerakan kendaraan juga akan tetap semrawut, saling sodok, memutar di tempat terlarang, dan seterusnya. Got-got dan kali juga akan tetap penuh sampah yang dibuang dengan sembarang.

Transaksi 'jalan raya' antara polisi dan pemakai jalan juga tak akan berhenti sebab itu sudah seperti tradisi resiprokal yang telah mengurat-mengakar. Budaya antre juga hanya ada di tempat-tempat tertentu, tetapi secara umum kita sesungguhnya bangsa yang mengidap sindrom VVIP. Tesis saya jelas, jika ingin membuat ge-rakan, terlebih gerakan nasional, mulailah dari elite negara. Tidak usah banyak cakap, jika Revolusi Mental itu dimulai dari tiga pilar kekuasaan; eksekutif, legislatif, dan yudikatif, plus seluruh institusi negara, Republik ini akan berjalan cepat. Jika elite negara menjadi lokomotif, rakyat sebagai gerbong akan tertarik secara mudah.

Bangsa paternalistik ini di satu sisi menjadi beban karena kerap menunggu yang di atas bergerak. Namun, justru posisi kultural seperti ini mestinya jadi modal perubahan, bergeraklah yang di atas, maka yang di bawah akan melaju. Kita ingin politik negara itulah yang menggerakkan, mengubah bangsa ini. Itulah yang dilakukan Jepang, Tiongkok, Singapura, Malaysia, Korea Selatan. Jelas arah jalannya, mau mencapai tujuan apa, lewat jalan mana, berapa lama target sampainya, dan seterusnya. Masyarakat maju secara serentak, bukan pribadi per pribadi karena hebatnya perjuangan secara individu. Terasa kita berjalan tanpa tahu tujuan, entah lewat jalan mana, entah memakai cara apa, trial and error jadinya.

Maka, izinkanlah saya menyongsong tahun 2016 dengan biasa-biasa saja. Tak ada optimisme menggelegak, juga tak ada pesimisme hingga di titik nadir, sebab kerap semangat digelorakan setiap menjelang tahun baru, tapi negara tetap berjalan seperti itu, seperti segalanya baik-baik saja. Saya teringat Megawati Soekarnoputri yang menangis tersedu-sedu di sebuah acara Metro TV tahun silam. Dalam sedu-sedan itu ia berkata kerinduannya pada Indonesia Raya. Saya pikir, kemudian, keagungan Indonesia Raya akan dipompakan sehingga menjadi gairah yang merasuki setiap jiwa politisi yang ia pimpin. Bahkan, kemudian menularkan gairah itu pada partai lain, utamanya partai pendukung Joko Widodo.

Saya kira pula Megawati akan mewakafkan kader-kader terbaiknya untuk mewujudkan Indonesia Raya itu. Bahkan, jika tak ada dalam partainya sendiri, ia akan sama gembiranya jika ada kader dari mana pun yang lebih mampu mendukung Jokowi untuk mewujudkan Indonesia Raya. Dalam pandangan saya, Indonesia Raya itu besar, tak hanya karena geografinya, tapi juga karena prestasi-prestasinya; karena Indonesia meruah dengan pemimpin bervisi dan berjiwa besar. Saya kira!


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.