Pelantikan Serentak

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
28/12/2015 00:00
Pelantikan Serentak
(Grafis Seno)
KATA 'serentak' rupanya kian memiliki daya 'magis'. Sampai-sampai, yang tak perlu serentak pun dibikin serentak. Contoh, gagasan melantik serentak kepala daerah hasil pilkada serentak. Apa perlunya dibikin serentak? Tidakkah itu buang-buang waktu? Pelantikan serentak diwacanakan Kementerian Dalam Negeri diselenggarakan Juni 2016. Bagi pasangan kepala daerah yang telah ditetapkan sebagai pemenang pada Desember 2015, tanpa gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK), terbuang waktu enam bulan. Waktu yang panjang untuk tengak-tenguk, 'pengangguran'.

Mengapa tidak segera dilantik, segera bekerja, segera produktif, segera mengabdi untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan rakyat? Lagi pula, menganggur 'bisa masuk angin'. Layaklah diwaspadai bahwa setan berpeluang lebih besar menggoda kepala daerah minus pelantikan yang punya waktu ongkang-ongkang atau keluyuran ke sana-kemari. Selain itu, potensial memberi ruang kasak-kusuk, bergerak tanpa bola, bagi yang kalah, tak legawa. Mereka sudah pasti menjadi kepala daerah. Akan tetapi, karena belum menjadi penyelenggara negara, sama seperti orang di pinggir jalan, tanpa protokoler, tanpa ajudan, tanpa pengawalan negara.

Tidakkah masa 'pengangguran' itu rawan? Tentu harus sangat berbeda perlakuan terhadap pimpinan nasional. Ketika masih berstatus capres/cawapres saja sudah dikawal ketat, terlebih setelah terpilih, kendati belum dilantik menjadi presiden/wakil presiden. Akan tetapi, waktu lowong sebelum dilantik lebih pendek. Pilpres 9 Juni 2014, penetapan MK pasangan presiden dan wapres terpilih 22 Juli, pelantikan Jokowi-JK 20 Oktober. Sejak keputusan MK hingga pelantikan, hanya tiga bulan. Menunda pelantikan kepala daerah enam bulan, demi terlaksana serentak, rasanya juga berbeda suasana kebatinan dengan KPU, yang berupaya ketat menyusun dan menjaga tahapan penjadwalan pilkada serentak.

Dijadwalkan terakhir besok, bagi pasangan bupati-wakil bupati dan pasangan wali kota-wakil wali kota tidak ada permohonan perselisihan hasil pemilihan (PHP), sudah diketahui siapa bakal dilantik. Rabu (30/12), dengan ketentuan sama tidak ada PHP, sudah diketahui siapa dilantik menjadi gubernur-wakil gubernur definitif. Apa alasan substansial tidak segera melantik mereka? Menunda pelantikan memperpanjang masa pelaksana tugas (plt) kepala daerah. Tidak bagus daerah berlama-lama dipimpin plt. Berlama-lama menjadi plt pun tidak bagus karena sang plt sesungguhnya meninggalkan tugas dan jabatannya untuk menjadi plt, yang juga memerlukan semacam plt untuk memangku tugas dan jabatan yang ditinggalkan.

Bertambah tak elok, bila menteri dalam negeri memang bersengaja mendesain plt berlama-lama. Tidakkah ada udang di balik batu? Pikiran seremonial melatarbelakangi pelantikan serentak sebaiknya dibuang saja. Gubernur serentak dilantik di Istana Presiden terasa hebat, tetapi cuma bergaung sebentar. Jika melantik satu per satu dianggap tidak praktis, lantiklah secara bergelombang. Terlepas alasan tidak praktis, perlu diingat bahwa pelantikan di rumah rakyat masing-masing, DPRD setempat, lebih bermuatan tanggung jawab dan lebih bergema dalam konteks lokal. Bukankah gubernur tidak bertanggung jawab kepada presiden, tetapi menyampaikan LKPJ kepada DPRD? Tempalah besi selagi panas. Enam bulan bisa bikin dingin. Padahal, banyak sekali urusan kepublikan yang perlu segera ditempa.


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima