Air Mata

Djadjat Sudradjat | Dewan Redaksi Media Group
13/3/2015 00:00
Air Mata
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

THOMAS Stamford Raffles (1781-1826) menangis ketika harus meninggalkan Jawa dan Sumatra.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1811-1816) paling ternama itu berurai air mata karena merasa kehilangan 'miliknya' yang paling berharga.

Baginya bertugas di Pulau Jawa ialah kehormatan.

Baginya Jawa tak hanya soal ekonomi, tapi juga soal botani dan kebudayaan.

Akan tetapi, Konvensi London (1814) mengharuskan seluruh wilayah yang pernah dikuasai Inggris dikembalikan ke Belanda.

Buku Raffles, The History of Java (1817) pun melegenda. Ia memang gubernur jenderal paling lengkap.

Kepemimpinannya kuat, pandai berbahasa Melayu, cakap menulis, paham masyarakat Jawa, peduli pada kebudayaan, dan suka botani/lingkungan.

Raffles diapresiasi sebagai penyelamat kebudayaan Jawa.

Ketika pulang ke Inggris pun ia mendirikan London Zoo dan Zoological Sosiety of London.

Ia menjadi presiden direktur pertama lembaga itu.

Ia memberi nama-nama binatang dengan memakai nama Sumatra.

Pangeran Diponegoro yang karismatik, juga menangis ketika isyarat nahas telah di depan mata.

Ketika ratusan ribu laskar dan rakyat tewas dalam perang dan penyakit, juga saudara-saudaranya; serta mayoritas komandan perang menyerah karena kelelahan.

Dalam Babad Diponegoro ia menulis, "Air matanya mengambang berkaca-kaca (dan) Sultan merasa sendirian di Tanah Jawa." Penangkapan berselubung perundingan terjadi (1830).

Ia menolak sebagai Sultan Yogya.

Ia memilih ditahan dan diasingkan.

Ia memilih takdir yang menyakitkan itu.

Menjelang pidato tentang Pancasila di depan sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, malam hari Bung Karno merenung dan menangis.

Menangis karena ia harus berbicara tentang dasar negara jika nanti Indonesia merdeka di tengah perdebatan yang panas antara kelompok Islam dan nasionalis.

Pidato amat penting karena Bung Karno harus bicara falsafah negara untuk bangsa yang amat beragam itu.

Bung Karno juga menangis ketika jasad Jenderal Ahmad Yani dimakamkan karena ontran-ontran tahun 1965.

Megawati Soekarnoputri tak terbilang kali menangis, sejak menjadi wakil presiden, presiden, dan telah menjadi mantan (presiden).

Ia menangis ketika menyambut kemenangan Jokowi sebagai presiden, ketika menjadi narasumber Mata Najwa di Metro TV, dan terakhir ketika berpidato pada HUT PDI Perjuangan, Januari lalu.

"Berjuanglah untuk rakyat dengan segenap jiwamu, dengan segenap cintamu. Maka rakyat akan mencintaimu. Rakyat akan menjagamu," kata Mega dengan mata basah. Pesannya jelas, air mata demi bangsa!

Kini ketika demokrasi Indonesia terasa terancam karena perseteruan politik dan hukum yang panas, saya teringat tangis-tangis para pemimpin itu.

Teringat pula aneka tulisan pada spanduk musim kampanye pemilu tahun lalu dari para caleg PDI Perjuangan: 'Ibu Pertiwi Kini sedang Sakit', 'Ibu Pertiwi Menangis'.

Karena itu, saya menyimak ketika lagu Ibu Pertiwi dinyanyikan biduan Kikan Namara dengan segenap jiwa dalam acara Mata Najwa bertema Barisan antikorupsi, Rabu (11/3).

Maklumat perlawanan pada korupsi dibacakan dengan segenap ekspresi oleh sejumlah nama.

Radhar Panca Dahana hadir dalam sajak.

Nuansa prihatin dan duka hadir dengan penonton yang berpakaian serbahitam.

Mereka melawan laku koruptif!

Adakah elite politik menangis lagi?

Tangis sebagai rasa hormat pada bangsanya, yang martabatnya terasa tengah dirobohkan oleh diri kita sendiri?

Para elite itu.

Tangis untuk sebuah kesadaran bersama, untuk bangkit!



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima