Go-Jek

23/12/2015 00:00
Go-Jek
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

PEKAN lalu ada kehebohan yang tiba-tiba terjadi. Tidak ada angin, tidak ada hujan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengeluarkan larangan terhadap tranportasi umum berbasis daring. Alasannya transportasi umum seperti Go-Jek menyalahi undang-undang karena tidak sesuai dengan aturan keselamatan.

Yang lebih menakutkan, Menhub meminta Kepala Kepolisian RI melakukan penindakan. Sederhananya, angkutan umum itu ilegal dan melanggar hukum sehingga pelakunya harus ditindak.

Beruntung keputusan itu seumur jagung pun tidak. Setelah muncul berbagai tanggapan dari publik, termasuk mantan Wakil Presiden Boediono, Presiden Joko Widodo segera bertindak. Presiden memanggil Menhub dan meminta ia untuk menarik peraturan menteri tersebut.

Go-Jek jawaban terhadap buruknya transportasi umum dan kemacetan lalu lintas. Go-Jek hadir bukan sekadar menyelesaikan persoalan perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain, melainkan juga urusan logistik dan pengurusan surat dinas. Go-Jek mengubah cara masyarakat dalam berkendaraan. Apabila sebelumnya menggunakan kendaraan sendiri untuk menyelesaikan segala urusan, kini orang menggunakan Go-Jek. Perlu beli makanan tinggal order melalui Go-Jek. Mau mengirimkan surat yang segera tinggal minta bantuan Go-Jek.

Pelayanan yang diberikan Go-Jek pun luar biasa. Untuk berbelanja, sepanjang tidak lebih dari Rp1 juta, mereka bisa menalangi. Kehadiran Go-Jek membuat pekerjaan lebih efisien dan kemacetan bisa dikurangi karena pada jam sibuk orang tidak perlu menggunakan kendaraan pribadi. Pemberi jasa Go-Jek pun tidak perlu mangkal di satu tempat dan berebut penumpang. Mereka bisa menunggu di rumah dan apabila ada penawaran yang masuk alat komunikasi mereka, baru jalan. Hal itu membuat pengendara Go-Jek bisa memanfaatkan waktu dengan lebih baik.

Tentu kita tidak tutup mata terhadap ekses yang terjadi. Tidak semua pengendara Go-Jek berhati-hati dan menjaga keselamatan penumpangnya. Pernah muncul kasus yang menyebabkan penumpang celaka. Namun, kasus itu tidak harus membuat kita lalu tidak melihat sisi positif Go-Jek. Itulah yang diingatkan banyak masyarakat. Pemerintah jangan hanya menggunakan kacamata kuda dan sekadar bisa melarang. Pemerintah harus mengikuti perubahan zaman yang terjadi. Berbagai kekurangan yang ada itu dibenahi, tanpa melakukan pelarangan.

Pemberian jasa seperti itu umum terjadi di seluruh dunia. Di Inggris pelayanan penumpang dengan menggunakan motor muncul ketika banyak anggota masyarakat mengeluh untuk bisa mencapai Bandar Udara Heathrow.

Agar bisa dapat tepat waktu, masyarakat ditawari untuk menggunakan kereta, bus, atau motor. Di Hong Kong, pelayanan pengantaran surat dari satu kantor ke kantor lain menggunakan sepeda. Hal yang sama juga terjadi di New York. Semua dilakukan sebagai jawaban terhadap kemacetan, sedangkan masyarakat butuh kecepatan dan efisiensi.

Tentu semua itu bukanlah solusi yang permanen. Pada akhirnya pemerintah harus membangun sistem transportasi umum yang mudah, murah, efisien, dan efektif. Kita belum menemukan satu kota di Indonesia yang mampu membangun sistem transportasi umum yang baik. Semua kota dihadapkan kepada buruknya transportasi umum yang menyebabkan kemacetan.

Tidak usah jauh-jauh, kita membutuhkan sistem transportasi umum seperti Singapura. Sistem transportasi yang mudah dipahami termasuk orang asing. Semua itu bisa terjadi karena pemerintahnya paham bagaimana mempermudah kehidupan rakyatnya. Bukan malah mempersulit dan bahkan mengancam dengan peraturan yang tidak masuk akal.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima