Visi,bukan Post-factum

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
22/12/2015 00:00
Visi,bukan Post-factum
(Grafis Seno)
BERULANG kali kita menubuatkan hari depan. Setiap memasuki tahun baru, kita 'diharuskan' mengevaluasi yang lalu dan 'meramalkan' yang akan datang. Segala out look dibuat, semua urusan dinujum, diteropong, dan diantisipasi. Namun, kita sesungguhnya bukan bangsa yang menjadikan visi (dan antisipasi) sesuatu yang penting, yang menjadi kesadaran  olektif. Terlebih dalam politik yang hanya sibuk menomorsatukan 'keramaian', visi-antisipasi tidaklah seksi. Para pemimpin yang mengidap sindrom selebritas tak mau bekerja dalam ruang sunyi melakukan yang inti; yang substansi. Padahal, dalam manajemen modern, visi mengandung antisipasi, bagian penting sebelum yang 'buruk' bahkan mungkin 'mengerikan' terjadi.

Sudah benar kita menjadi bangsa yang dalam segala urusan menjadikan 'visi-misi' di bagian penting. Sayangnya tak tecermin dalam tindakan. Mari kita buka kembali makna kata 'visi'. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ia mengandung arti antara lain 1. kemampuan melihat inti persoalan; 2. pandangan atau wawasan ke depan; 3. kemampuan merasakan sesuatu yang tidak tampak melalui kehalusan jiwa dan ketajaman penglihatan. Dalam banyak urusan manakah yang membuktikan kita punya kecakapan melihat inti persoalan? Kecakapan membaca masa depan seperti apa jika politik dari tahun ke tahun tak kunjung bermutu? Visi membangun negara macam apa jika kesenjangan kaya dan miskin kian melebar?

Visi seperti apa jika pendidikan kita jalan di tempat? Visi membangun seperti apa jika negara besar ini kian mengecil pengaruh dan wibawanya? Kita sesungguhnya bukan bangsa 'bervisi', melainkan manusia yang menunggu sesudah kejadian. Kita bangsa post-factum, yang tergopoh-gopoh melakukan sesuatu sesudah kejadian. Bahkan, sesudah kejadian pun, kita kerap 'menunggu' kejadian lain terulang. Dalam konteks tak menunggu kejadian, agaknya lima pemimpin baru KPK akan melakukan sesuatu yang berbeda. Ada sinyal, Agus Rahardjo, Basaria Panjaitan, Laode M Syarif, Saut Situmorang, dan Alexander Marwata akan lebih menyeimbangkan antara pencegahan dan penindakan.

Bahkan, Saut dan Alexander jelas-jelas mengutamakan pencegahan. Jika pencegahan gagal, baru penindakan. Kasus-kasus lama seperti BLBI dan Bank Century, menurut Saut, akan membuang banyak energi, tetapi tak akan mendatangkan keadilan. Benarkah? Ada yang sependapat, ada yang cemas, sebab bisa jadi ada ruang kompromi. Menurut Saut, keberhasilan memberantas korupsi bukanlah banyaknya orang ditangkap dan dipenjarakan, melainkan turunnya angka korupsi. Karena itu, dalam konteks pencegahan, ia akan berdialog dengan sebanyak mungkin orang untuk mengingatkan betapa bahayanya korupsi.

Saya setuju dialog itu. KPK harus melakukan kampanye besar-besaran agar korupsi jadi kebencian bersama. Upaya pencegahan (korupsi) di negeri ini butuh kerja luar biasa. Kita menunggu aksi memberantas korupsi dari pimpinan baru KPK. 'Unsur kebaruan' itu harusnya menghasilkan pemberantasan korupsi yang benar-benar baru. Yang akan menjadikan korupsi musuh bersama. Kita semua menunggu pemberantasan korupsi yang bergerak dari yang inti, yang substansi, yang benar-benar bervisi.


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima