Metromini

19/12/2015 00:00
Metromini
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SALAH satu potret paling buruk dari Jakarta ialah angkutan umum jalan raya.

Di luar Trans-Jakarta, angkutan umum yang ada amburadul.

Bukan hanya kelayakannya yang jauh dari standar, perilaku pengemudinya menakutkan. Mereka membahayakan keselamatan penumpang dan pengguna jalan lainnya.

Kasus terakhir yang mengenaskan ketika metromini melewati pelintasan kereta di Tubagus Angke. Sebanyak 14 penumpang tewas ketika metromini mogok di tengah pelintasan dan ditabrak oleh kereta listrik.

Sebenarnya hampir setiap hari terjadi kecelakaan yang melibatkan entah itu metromini, kopaja, atau Koantas Bima.

Dengan perilaku berkendaraan yang ugal-ugalan bagaimana tidak terjadi kecelakaan di jalan raya. Akibatnya, fatal karena kendaraannya sudah tidak layak. Sosok kendaraan sudah tidak berbentuk.

Asap yang dikeluarkan tidak sesuai aturan emisi gas buang. Rem pun seringkali sudah tidak berfungsi optimal. Malam hari semua lampu tidak menyala.

Kaca yang dipakai, bukanlah kaca kristal yang pecah menjadi butiran kecil ketika terjadi benturan, tetapi kaca rumah yang bisa menembus leher penumpang.

Anehnya mobil-mobil itu bisa mendapatkan izin jalan.

Perbaikan yang dilakukan begitu minimal meski belum lama terjadi kecelakaan fatal. Tidak usah heran apabila kecelakaan terus berulang.

Belum lama memang Kepolisian Daerah Jakarta Raya menemukan buku uji kelayakan kendaraan umum palsu. Rupanya selama ini banyak angkutan umum yang tidak layak, tetapi bisa jalan karena mengantongi surat uji kelayakan palsu.

Pertanyaannya, mengapa Pemerintah Provinsi DKI tidak kunjung membenahi secara struktural?

Padahal, angkutan umum itu tidak memudahkan masyarakat, tetapi malah mencelakakan.

Angkutan umum tersebut menjadi penyebab kemacetan karena selalu berhenti seenaknya dan merusak citra Jakarta.

Begitu sering gubernur berganti, tetapi angkutan umum jalan raya di Jakarta nyaris tidak berubah. Tetap kacau dan tidak memberikan solusi memecahkan pergerakan manusia.

Jangankan orang asing, warga Jakarta pun akan tersesat apabila menggunakan angkutan umum. Padahal, salah satu ukuran tingkat peradaban kota besar ditentukan oleh angkutan umumnya.

Semua kota besar di dunia membangun sebuah sistem angkutan yang mudah, efektif, dan efisien.

New Delhi, yang dikenal sebagai kota paling chaos di dunia, mampu membangun sistem angkutan umum yang baik.

Jakarta tidak kekurangan ahli sistem transportasi.

Deputi gubernurnya ada yang bergelar profesor transportasi, tetapi tidak pernah bisa dibuat cetak biru bagaimana membuat angkutan umum lebih beradab.

Gubernur Basuki Tjahaja Purnama jangan hanya bisa marah-marah. Yang harus dilakukan ialah membenahi angkutan umum di Ibu Kota. Tidak bisa metromini dan sejenisnya dibiarkan beroperasi tanpa manajemen yang baik.

Angkutan umum bukan sekadar bisnis yang menghasilkan untung dan membuka lapangan pekerjaan. Mereka mempunyai peran membantu mobilitas manusia dan harus dijamin selamat sampai tujuan.

Bukan saatnya lagi angkutan umum dikelola dengan model rumah tangga biasa. Kendaraan hanya dipakai tanpa perawatan. Penggantian suku cadang dilakukan dengan model kanibal. Pengemudinya pun tak dibekali sikap tanggung jawab.

Ada yang mengatakan metromini merupakan potret kecil dari kehidupan bangsa ini.

Orang main 'tembak' dan masa bodoh dengan akibatnya kepada orang lain. Kepatutan dan kepantasan tidak jadi pegangan.

Logika dan akal sehat pun dijungkirbalikan.

Kasus 'papa minta saham' tak ubahnya seperti metromini.

Ironis! Kita pura-pura tutup mata dan terus membiarkannya.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima