Orang-Orang Kaya

11/12/2015 00:00
Orang-Orang Kaya
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

KESENJANGAN ekonomi kian menari tinggi di sini.

Inilah nubuat yang selalu pasti untuk Indonesia justru selama era reformasi, era ketika spirit menggantikan kekuasaan yang korup dan dituding hanya menguntungkan segelintir warga, dipatrikan sebagai kehendak baru bangsa ini.

Selama 15 tahun terakhir Indonesia memang mengalami pertumbuhan ekonomi yang meyakinkan. Namun, ini lebih dinikmati 20% warga terkaya. Adapun 80% penduduk, lebih dari 205 juta orang, rawan tertinggal. Inilah negara yang kian menjadi surga bagi kaum kaya dan neraka bagi kaum tak berpunya.

Karena itu, tak mengherankan ketika Bank Dunia Selasa (8/12) silam merilis laporan bertajuk Ketimpangan Semakin Lebar. Ketimpangan kaya versus miskin di Indonesia termasuk paling tinggi di dunia.

Di Indonesia 1% orang terkaya menguasai separuh lebih kekayaan negeri ini. Mereka menguasai aset keuangan, seperti properti atau saham. Inilah yang ikut mendorong ketimpangan.

Pada 2002, seluruh nilai konsumsi 10% warga paling kaya di negeri ini setara total konsumsi warga tak berpunya. Pada 2014, seluruh konsumsi 10% warga terkaya setara seluruh konsumsi 54% warga paling papa.

Dari sisi penguasaan kekayaan, 10% orang terkaya di Indonesia menguasai 77% seluruh kekayaan negeri ini. Negeri yang oleh Eduard Dauwes Dekker diamsalkan sebagai 'zamrud khatulistiwa'.

Salah satu penyebab pengumpulan kekayaan itu ialah perbedaan cara pemungutan pajak penghasilan dari pekerja dan para orang kaya, terutama pemilik modal.

Pengumpulan kekayaan sebagian dari mereka juga diperoleh dari hasil korupsi. Ini menguatkan apa yang pernah dinyatakan oleh Francis Bacon,

"Ada banyak cara untuk menjadi kaya, dan kebanyakan adalah kotor."

Yang kian menyedihkan, kesenjangan juga karena ketidakadilan sejak lahir.

Banyak anak Indonesia tidak mendapat awal hidup yang layak, seperti tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan air bersih.

Bahkan 18% anak Indonesia tak mampu bersekolah.

Sementara kaum kaya menikmati berlipat-lipat kemewahan dan kesempatan untuk bersekolah, melancong, berobat, dan hidup di mana saja.

Kita bisa bayangkan, negeri yang kemerdekaannya direbut dengan heroisme rakyat semesta ini, kini justru seperti kian menjauhkan mereka dari buminya sendiri.

Inilah paradoks spirit yang kian menyulitkan negara ini memperbaiki kehidupan kaum tak berpunya. Kesenjangan yang kian lebar berpotensi menjadi lahan subur radikalisme dan konflik sosial.

Karena itu, Bank Dunia berharap hasil pemilihan kepala daerah bisa menjadi salah satu solusi mengatasi kesenjangan sosial itu, antara lain dengan mengupayakan pelaksanaan pendidikan berkualitas, memperbaiki pelayanan umum, dan kesempatan bursa kerja dengan peningkatan keterampilan mereka.

Namun, politik yang tak berpihak kepada rakyat, bisakah menjadi solusi? Pendidikan bermutu yang menjadi solusi fundamental mengatasi kesenjangan, belum jelas arahnya.

Alokasi anggaran 20% APBN, ternyata tak kunjung menghasilkan pendidikan berkualitas. Bahkan, dalam soal perbaikan kualitas pendidikan, kita kalah dengan Vietnam.

Para pengelola negara harus menyadari, betapa negara yang hanya menjadi surga bagi kaum kaya, dan neraka bagi kaum tak berpunya, ialah pengkhianatan terhadap konstitusi, UUD 1945, yang paling nyata.

Karena itu, laporan Bank Dunia, harus dilihat sebagai sebuah tamparan.

Jika tak serius diatasi, kesenjangan atau kata fisikawan Stephen Haw king, aksi manusia-manusia serakah, bisa meluruhkan negara, meluruhkan Indonesia.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima