Paris

09/12/2015 00:00
Paris
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

CONFERENCE of Parties (COP) 21 yang berlangsung di Paris berakhir Selasa (8/12). Pertemuan yang sempat dihadiri Presiden Joko Widodo itu terus berupaya mencari jalan mencapai kemajuan pembangunan tanpa harus mengorbankan lingkungan. Berbagai inovasi bagi pembangunan yang berkelanjutan dicoba didorong.

Baik negara, korporasi, maupun masyarakat diharapkan ikut berkontribusi menjaga lingkungan. Semua pihak diharapkan meminimalkan pelepasan emisi gas buang agar suhu Bumi yang kini meningkat 2 derajat celsius dalam satu dekade bisa diturunkan. Bumi yang kian panas membahayakan semua makhluk.

Semua menyadari, pembangunan meminta biaya mahal. Terutama biaya sosial jauh lebih mahal daripada biaya ekonomi. Untuk itulah, banyak negara memperhitungkan biaya sosial dalam biaya pembangunan. Dalam pengadaan energi, misalnya, banyak negara mulai meninggalkan penggunaan bahan bakar penghasil emisi gas buang tinggi. Tiongkok yang agresif membangun pembangkit listrik bertenaga batu bara kini beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan, termasuk nuklir.

Presiden Xi Jinping bahkan sudah menggariskan untuk secara bertahap menutup pembangkit listrik tenaga batu bara. Xi merasakan biaya lebih mahal harus dikeluarkan Tiongkok untuk memperbaiki kerusakan lingkungan. Kini lebih baik Tiongkok mengurangi target pertumbuhan agar tercipta keseimbangan laju pembangunan dan kondisi lingkungan.

Langkah Tiongkok diapresiasi banyak negara. Ketika sebuah negara sudah mencapai tingkat kemajuan, mereka harus memikirkan kualitas hidup masyarakat mereka. Kita tidak boleh serakah karena keinginan itu kerap tidak ada batasnya. Indonesia sejak zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan target ambisius dalam pengurangan emisi gas buang. Kita menjanjikan mengurangi emisi gas buang hingga 26%. Namun, implementasi kebijakannya berbeda jauh dengan janji.

Pembangunan pembangkit listrik 10 ribu Mw pada masa itu hampir semuanya menggunakan batu bara. Kini, pembangunan 35 ribu Mw juga masih berbasis batu bara. Begitu banyak alternatif energi lain, tetapi inovasinya relatif rendah. Kalau pemerintah komit memenuhi janji pengurangan emisi gas buang, seharusnya bisa diterapkan sistem insentif dan disinsentif. Pemerintah menetapkan harga beli listrik yang rendah untuk pembangkit beremisi gas buang tinggi, sebaliknya menetapkan harga beli yang tinggi untuk pembangkit ramah lingkungan. Dengan kebijakan seperti itu, pengusaha akan ikut arah besar pembangunan berkelanjutan.

Sepanjang sistemnya seperti sekarang, orang akan cenderung mencari yang mudah dan murah. Pembangkit listrik batu bara pasti lebih murah daripada panas bumi, sinar matahari, atau angin. Namun, biaya lingkungan yang harus dikeluarkan pemerintah pasti lebih mahal. Belum lagi energi fosil itu pasti akan habis, sedangkan panas bumi, sinar matahari, atau angin selalu diperbarui.

Ke depan kita membutuhkan langkah-langkah inovatif. Dunia usaha juga harus mulai berorientasi ke lingkungan. Produk-produk yang dihasilkan paling tidak harus bisa didaur ulang. Dengan menerapkan teknologi, produk itu tidak menghasilkan atau melalui proses emisi gas buang tinggi. Arah perkembangan ekonomi akan menuju ke sana. Produk ramah lingkungan bukan hanya diterima pasar, tetapi harganya lebih tinggi. Perusahaan dan negara yang tak peduli lingkungan akan terkucilkan. Indonesia tak boleh jadi negara seperti itu.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.