Darurat Fiskal

05/12/2015 00:00
Darurat Fiskal
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

ADA peringatan yang disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika menjadi pembicara kunci pada Economic Outlook 2016 yang digelar Media Indonesia.

Wapres mengingatkan ancaman ketahanan fiskal akibat tidak tercapainya penerimaan pajak.

Jusuf Kalla memperkirakan kekurangan penerimaan pajak tahun ini bisa mencapai Rp430 triliun. Dengan hanya tersisa 1 bulan, mustahil bisa mencapai target penerimaan pajak.

Yang perlu dipikirkan bagaimana mengurangi pengeluaran atau kalau tidak ingin mengorbankan pertumbuhan, pilihan lain ialah menambah utang.

Tidak tercapainya penerimaan pajak membuat Direktur Jenderal Pajak Sigit Pramundito mengundurkan diri.

Sigit secara kesatria melepas jabatan yang baru sekitar satu tahun ia emban karena gagal mencapai target 85% yang ia canangkan sendiri.

Sejauh ini kita belum mendengar langkah konkret pemerintah menjaga kesehatan fiskal. Yang mencuat ialah sikap menggunakan anggaran seperti biasa.

Dengan menurunnya kegiatan ekonomi akibat melemahnya permintaan dunia, tidak terhindarkan penerimaan pajak ikut turun.

Beberapa perusahaan sudah menyatakan keuntungan mereka turun ketimbang tahun lalu. Dengan keuntungan yang turun, pajak perusahaan juga turun. Apalagi, Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan sumber penerimaan pajak Indonesia berbeda dengan negara lain.

Di negara-negara lain kontribusi pajak perorangan jauh lebih besar daripada pajak korporasi, di Indonesia 90% penerimaan pajak disumbang korporasi. Akibatnya ketika terjadi guncangan ekonomi, penerimaan korporasi terpukul, otomatis penerimaan pajak terpengaruh.

Kemampuan mengatur pengeluaran yang disesuaikan dengan penerimaan menjadi penting. Kita tidak bisa hidup lebih besar pasak daripada tiang. Apalagi dalam keuangan negara, itu akan memengaruhi kepercayaan internasional terhadap keberlanjutan fiskal.

Dengan penerimaan terbatas, pengeluaran harus diprioritaskan pada bidang yang bisa menggerakkan perekonomian lebih besar.

Investasi di bidang infrastruktur akan jauh lebih produktif daripada pengeluaran yang sekadar 'gaya-gayaan' seperti pengadaan helikopter untuk Presiden.

Hal lain yang harus dilakukan ialah kesungguhan memberantas korupsi.

Kasus 'papa minta saham' yang melibatkan Ketua DPR Setya Novanto harus menjadi pintu masuk mengakhiri praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Tindakan seperti yang dilakukan Setya Novanto tidak hanya melahirkan moral hazard, tetapi melanggengkan ekonomi biaya tinggi.

Kita harus belajar dari pengalaman Brasil. Negeri yang pernah dipuji-puji sebagai kekuatan ekonomi baru bersama Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, itu kini dihadapkan pada depresi ekonomi terburuk sejak 1930.

Penyebabnya pembiaran pemerintah terhadap kasus korupsi di perusahaan minyak negara, Petrobras.

Korupsi dan ekonomi memburu rente melahirkan sikap boros.

Orang tidak merasa perlu berhati-hati dalam mengeluarkan uang karena merasa mudah mendapatkannya.

Padahal, uang yang mereka nikmati merupakan hak banyak orang, yang terampas peluangnya untuk bisa mendapatkan kehidupan lebih baik.

Tekanan yang harus kita alami sepanjang 2015 jangan hanya dijadikan beban. Kita harus mengubah menjadi aset.

Istilah menko perekonomian, kita harus bisa melakukan transformasi struktural, termasuk membangun perekonomian yang melahirkan efisiensi dan berdaya saing.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.