Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)
MARI kita catat secara saksama sejarah ini. Sejarah bahwa untuk pertama kali publik bisa menonton langsung sidang--dengan para hakim berjubah warna merah dan putih di tengah--di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI.
Lebih dari itu, yang diadili ialah Ketua DPR RI Setya Novanto. Orang ramai pun bisa mendengar seluruh rekaman percakapan yang sungguh tak patut dilakukan seorang pejabat tinggi negara!
Ketika menyimak rekaman itu, betapa publik umumnya marah sebab ada upaya percaloan Novanto di PT Freeport Indonesia yang tengah bernegosiasi dengan pemerintah Indonesia. Bahkan, banyak yang menyimpulkan ada dugaan pelanggaran pidana.
Karena itu, mari kita catat dan nilai dengan saksama satu per satu seluruh majelis hakim di Mahkamah Kehormatan Dewan. Mari kita catat benarkah mereka mulia atau durjana.
Mari kita catat dan nilai sang pengadu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said dan yang teradu Ketua DPR Setya Novanto. Kita catat saksi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin.
Maroef-lah yang merekam percakapan dirinya, Novanto, dan pengusaha Muhammad Riza Chalid. Siapakah yang berjiwa agung dan yang lancung?
Jika kesalahan Novanto terbukti, tapi tetap dibela dengan segala cara, kita mesti sebut mereka membela orang lancung. Secara khusus kita sebut Partai Golkar, tempat Novanto berasal, partai yang dulu menjadi mesin politik Orde Baru dengan malapraktik kekuasaan korup.
Jika kini Golkar tetap berteguh memproteksi Novanto, partai ini memang kembali pada watak aslinya: mendukung mengelola negara dengan cara durjana.
Jika Golkar ingin menyelamatkan partai, mestinya ia menjadi yang terdepan mendukung sidang. Postulatnya jelas: yang tak bersalah jangan resah.
Mari kita selisik arti kata 'mahkamah' di kamus. Ia berarti pengadilan, lembaga tempat memutuskan hukum atas suatu perkara. Artinya, sebagian 'hakim' yang merupakan penegak kehormatan DPR, sebagian justru sudah berpihak. Mahkamah macam apa, bah!
Ini sebuah sidang yang sesungguhnya subjek dan objek hukumnya sudah amat jelas. Diakui oleh yang merekam, Maroef Sjamsoeddin, pengadu Sudirman Said, bahkan Novanto sendiri. Jika masih ada yang bermanuver, ia sesungguhnya menegasi kebenaran fakta yang telah diakui!
Kita tahu politik sesungguhnya segala urusan tentang publik. Seperti kata Vaclav Havel, politik seharusnya merupakan suatu pernyataan terhadap kerinduan untuk mendukung kebahagiaan dan kepentingan umum.
Apa yang dilakukan Novanto justru jabatan publik untuk kepentingan pribadi. Mengutip obrolan seorang guru di Jakarta, apa yang dilakukan Novanto bisa jadi jamak dilakukan para politikus dan elite kita. Hanya skalanya yang berbeda-beda.
Namun, ada anaforisme atau pepatah mengingatkan, orang bisa berbuat lancung berkali-kali, tetapi tak bisa selamanya. Ah, Novanto yang selama ini licin, bisa jadi mesti terhenti di sini.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima