Moral Standing

03/12/2015 00:00
Moral Standing
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

RAPAT Mahkamah Kehormatan Dewan sempat diwarnai gebrak meja.

Perbuatan itu rupanya masih dianggap terhormat, buktinya dilakukan di dalam rapat terhormat Mahkamah Kehormatan Dewan yang tengah memeriksa perbuatan tidak terhormat yang diduga kuat dilakukan Ketua DPR Setya Novanto, yaitu mencatut kekuasaan Presiden dan Wakil Presiden untuk memperpanjang kontrak karya PT Freeport Indonesia dengan imbalan saham.

Aksi fisik menggebrak meja itu menunjukkan di dalam tubuh MKD bertarung hitam melawan putih. Sejauh ini pertarungan itu masih dimenangi si putih. Kemenangan pertama, legal standing pengadu diterima.

MKD mengundang ahli bahasa yang berpendapat, jangankan menteri, rakyat pun dapat mengadukan Setya Novanto ke MKD. Jadi, bukan hanya legal standing, tetapi moral standing. Akan tetapi, hitam tetaplah hitam.

Setelah terjadi perubahan anggota MKD, terbit keinginan menolak menyidangkan perkara Novanto. Namun, putih menang tipis melalui voting.

Di luar sidang MKD ada suara berisik. Seorang pimpinan DPR menyoal keahlian ahli bahasa yang pendapatnya telah didengarkan MKD.

Etiskah pimpinan DPR menyoal peradilan etika yang sedang berproses?

Elokkah pimpinan DPR tidak memercayai alat kelengkapan diri sendiri yang bernama MKD?

Apakah perbuatan terhormat tidak menghormati keahlian seseorang? Semua urusan moral standing.

Perkembangan menarik Kejaksaan Agung tengah mengkaji membawa kasus Setya Novanto ke ranah hukum, yaitu kemungkinan ada pemufakatan jahat melakukan tindak pidana korupsi.

Percobaan korupsi itu bobotnya sama dengan melakukan korupsi. Lagi pula, yang dicatut kekuasaan negara, kekuasaan presiden-wapres untuk memperpanjang kontrak karya.

Kejaksaan Agung bukan saja memiliki kekuasaan negara di bidang penuntutan, melainkan juga dapat sebagai lawyer presiden-wakil presiden.

Adapun MKD tetaplah di ranah moral, sehingga yang patut dipersoalkan bukan legal standing, tapi moral standing.

Dalam konteks pemeriksaan moral itu, kiranya MKD perlu menguji lebih dalam relasi Setya Novanto dengan Luhut Pandjaitan. Bukan dalam konteks relasi politik, melainkan relasi personal.

Untuk itu MKD mestinya berani menjadikan bukti baru, sebuah foto menunjukkan kedekatan Setya Novanto dan Luhut Pandjaitan yang beredar di media online. TEMPO.CO memublikasikannya dengan teks,

"Menko Polhukam Luhut Pandjaitan dengan Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) di sebuah jet yang cukup mewah." Foto dan teks itu dimuat Rabu, 25 November 2015, pukul 11.19 WIB.

Ketika saya membacanya kemarin, pukul 17.38 WIB, berita itu telah dibaca 104.918 kali.

Di foto itu tampak Setya Novanto dan Luhut duduk berdampingan. TEMPO.CO bahkan membahasakannya sebagai 'keakraban'.

Berada di sebuah jet bersama Setya Novanto dan Luhut Pandjaitan, dibolehkan pula mengambil foto, jelaslah bernilai privat dan eksklusif.

Pertanyaannya, kenapa yang privat-eksklusif itu dibawa ke ruang publik ketika kasus pencatutan menjadi berita?

Salah satu jawabnya, yang empunya foto berada di kubu si putih, ingin berbuat baik, mengambil posisi moral standing, berkontribusi demi tegaknya kebenaran.

Karena itu, MKD mestinya menjadikan foto itu sebagai sebuah 'teks' berharga dalam 'konteks' tambahan barang bukti perihal kedekatan Setya Novanto dan Luhut Pandjaitan, sampai-sampai dalam rekaman panjang, kabarnya nama Luhut disebut 66 kali.

MKD perlu menggalinya lebih jauh, lebih dalam.

Kalau perlu, MKD meminta Setya Novanto dan Luhut Pandjaitan nonaktif dari kedudukannya.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.