Pertanyaan untuk Opung Luhut

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
18/3/2022 05:00
Pertanyaan untuk Opung Luhut
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

LUHUT Binsar Pandjaitan kian ramai jadi objek pembicaraan. Dia yang sudah akrab di media arus utama maupun medsos semakin akrab lantaran idenya agar masa jabatan Presiden Jokowi diperpanjang.

Sebenarnya wacana itu sudah lama mengemuka. Demikian halnya dengan gagasan agar presiden bisa menjabat tiga periode. Pewacana dan penggagasnya pun beragam, mulai dari petinggi lembaga survei hingga elite-elite politik.

Tidak hanya Luhut. Tetapi, boleh dibilang Luhut termasuk yang paling getol. Dia punya semangat tempur luar biasa untuk menjadikan wacana itu terus menyesaki ruang publik.

Luhut adalah Menteri Koordinator Bidang Investasi dan Kemaritiman. Eksistensinya di lingkaran Istana sangat diperhitungkan. Dia sangat dekat dengan Presiden. Dia orang kepercayaan Presiden.

Kedekatan Luhut bahkan sudah terjalin sejak Jokowi menjabat Wali Kota Surakarta, jauh sebelum Jokowi menjadi presiden. Tak berlebihan jika ada yang menyebut keduanya sudah sejiwa. Saling membutuhkan.

Tak berlebihan pula jika Luhut ingin betul masa jabatan Jokowi ditambah. Maka, rupa-rupa alasan dikemukakan. Beragam pembenaran dia sajikan. Tidak soal apakah alasan dan pembenaran itu sesuai realitas atau cuma mengada-ada.

Bagi Luhut, justru mereka yang mengharuskan Jokowi selesai pada 2024 yang layak dipertanyakan. ''Saya tanya kamu, apa alasan Pak Jokowi turun?" tanyanya kepada pewarta di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (15/3).

Luhut mengklaim banyak mendengar aspirasi rakyat soal penundaan Pemilu 2024. Menurutnya, banyak yang bertanya kenapa harus menghabiskan dana selangit untuk pemilu, padahal pandemi covid-19 belum usai.

Luhut mengklaim, banyak yang menyatakan kondisi saat ini relatif tenang. Sebaliknya, pemilu untuk mengganti pimpinan negara bisa mengubah situasi karena adanya poros-poros dukungan ke calon tertentu. Dia mengaku juga sudah capai mendengar istilah cebong lawan kadrun.

Luhut mengklaim bahwa dirinya tak mengada-ada soal big data 110 juta warganet yang meminta Pemilu 2024 ditunda. Dia menampik tudingan validitas data itu, tapi enggan membuka data itu ke publik. Elok nian jika dibuka sehingga bisa diuji apakah ia memang big data atau malah big lie. Apakah ia data yang teruji atau hanya ilusi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bertanya artinya meminta keterangan (penjelasan dan sebagainya) atau meminta supaya diberi tahu (tentang sesuatu). Kalau Luhut bertanya alasan orang mengharuskan Pak Jokowi turun (pada 2024), dia mungkin memang tidak tahu.

Akan tetapi, bisa jadi juga Luhut kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Dia bak sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula. Apa tujuannya? Apakah untuk diskusi, untuk menguji, atau untuk menyelidiki? Hanya Pak Luhut yang paling mengerti.

Namun, bolehlah kita paparkan lagi kenapa Jokowi harus selesai pada 2024. Pak Jokowi harus beranjak dari dari kursi RI-1 setelah nanti genap lima tahun menjabat. Konstitusi menggariskan presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan. Jelas, sangat jelas.

Bolehkah presiden menjabat lebih dari lima tahun untuk satu periode? Kalau mau, ubah dulu konstitusinya. Haruskah konstitusi direvisi untuk memperpanjang masa jabatan Jokowi? Dari hasil survei lembaga-lembaga tepercaya, mayoritas rakyat menolak pemilu ditunda yang berarti masa jabatan Jokowi ditambah. Dengan kata lain, mereka menolak konstitusi diamendemen lagi.

Sesimpel itu alasan bahwa Pak Jokowi turun (pada 2024). Alasan itu pun sudah berulang kali digaungkan. Ia bukan barang baru, tetapi tetap menjadi jawaban jitu tiap kali ada yang coba-coba mengkhianati reformasi.

Jelas sudah, rakyat taat pada konstitusi. Karena itu, selesai sudah sejatinya perdebatan soal perlu tidaknya perpanjangan jabatan presiden. Berakhir sudah polemik soal perlu tidaknya pemilu ditunda. Juga, usai sudah silang pendapat soal jabatan presiden tiga periode.

Menurut penulis Jerman, Cornelia Funke, kekuasaan bagaikan anggur bila kau memilikinya. Bagaikan racun bila kau kehilangannya. Insan politik pun cenderung terus menikmati anggur, bukan racun.

Godaan untuk terus berkuasa amatlah dashyat. Temuan Alexander Baturo dalam buku The Politics of Presidential Term Limits (2019) menyebutkan, banyak presiden baik dari rezim demokratis maupun otoriter telah menambahkan durasi jabatan kepresidenannya. Sepanjang 1945 sampai 2017, setidaknya 94 presiden melakukan itu. Kita tidak ingin Jokowi masuk daftar. Karena itu, janganlah dia terus digoda.

Kata Munir, biarkan rakyat yang menentukan arah bangsa ini akan dibangun dan bagaimana rakyat akan menjaga masa depannya, sebab rakyat pemilik sah konstitusi. Rakyat sudah berkehendak pemilu untuk menyirkulasi pemimpin tetap dihelat pada 2024.

Opung Luhut, itulah alasan Pak Jokowi mesti turun (pada 2024). Hanya kepatuhan pada konstitusi. Tidak ada yang lain. Bolehlah kita balik bertanya, apa sebenarnya alasan Pak Luhut begitu gigih agar Pak Jokowi tak turun di 2024?



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.