2016

02/12/2015 00:00
2016
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

PADA Pertemuan Tahunan Bank Indonesia pekan lalu, Gubernur BI Agus Martowardojo menyampaikan presentasi dengan cara menarik. Dengan ilustrasi yang dinamis, ia menggambarkan persoalan ekonomi yang kita hadapi dan respons yang harus dilakukan agar bisa melewati kondisi global yang diliputi ketidakpastian pada 2016. Agus optimistis tahun ini pertumbuhan ekonomi kita bisa mencapai 4,8%. Artinya kuartal IV ini pertumbuhan harus mencapai 5,1% agar target bisa tercapai. Kalau itu bisa dilakukan, tahun depan BI melihat pertumbuhan bisa membaik di kisaran 5,2%-5,6%. Kunci dari semua itu, menurut Agus, tidak ada lain kecuali mendorong industrialisasi.

Bahkan, secara tegas Gubernur BI mengingatkan pentingnya penguasaan industri barang modal, industri dasar, dan industri kimia. Tekanan pada defisit neraca transaksi berjalan disebabkan tingginya impor setiap kali kita hendak melakukan pembangunan industri. Kontribusi industri terhadap produk domestik bruto dalam beberapa dekade terus menurun. Apabila pada masa Orde Baru kontribusi bisa mencapai 35%, sekarang hanya di kisaran 23%.

Wakil Presiden Jusuf Kalla merespons penjelasan Gubernur BI dengan mengatakan industrialisasi hanya akan terjadi apabila ada investasi. Namun, seperti teori John Milton Keynes, minat investasi ditentukan tingkat suku bunga. Kalau tingkat suku bunga tinggi, siapa pun akan enggan berinvestasi karena beban uang yang terlalu mahal. Oleh karena itu, Wapres kembali mengingatkan perbankan untuk berani menurunkan tingkat suku bunga. Sepanjang BI pun masih menerapkan kebijakan suku bunga tinggi, jangan harap pembangunan ekonomi seperti diharapkan Gubernur BI bisa terjadi.

Wapres tidak menutup mata bahwa BI mempunyai tanggung jawab untuk menjaga nilai mata uang dengan mengendalikan tingkat inflasi. Namun, tidak bisa jika untuk melaksanakan tugas tersebut BI tidak peduli dengan indikator lain. Untuk itu, Jusuf Kalla mengajak BI bekerja sama dengan pemerintah melakukan pembangunan, yang muaranya kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Inilah persoalan klasik yang tidak pernah bisa kita selesaikan. Ibarat ayam dan telur, kita tidak bisa pernah memutuskan untuk memulai dari mana. Otoritas moneter selalu dihadapkan kepada ketakutan apabila tingkat suku bunga diturunkan, akan terjadi arus modal keluar dan nilai tukar rupiah akan melemah. Kenyataannya, dengan BI rate 7,5% seperti sekarang, nilai tukar rupiah tidak juga menguat. Padahal, kita sudah mengorbankan potensi untuk mendorong pertumbuhan. Kita harus membayar rezim suku bunga tinggi dengan investasi yang relatif rendah. Kita membutuhkan cara lain untuk memutuskan lingkaran setan ini.

Dengan berkaca pada pengalaman negara lain, kita harus mendorong produktivitas. Salah satu yang bisa mendorong efisiensi ialah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hanya dengan itu kita akan memiliki daya saing. Syaratnya kita harus menghapus ekonomi biaya tinggi dan menciptakan persaingan yang sehat.

Kini kita belum mampu menciptakan levelled playing field. Ekonomi kita lebih banyak dikuasai kelompok pemburu rente. Itulah yang menciptakan ketidakpastian dan akibatnya biaya semakin tinggi. Untuk melawan itu tinggal dibutuhkan kemauan kuat dan kebersamaan. Faktor keberhasilan pembangunan tidak pernah tunggal. Sambil kita melakukan deregulasi dan debirokratisasi, BI perlu lebih berani melakukan kebijakan moneter yang propertumbuhan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima